SUARA PEMBARUAN DAILY

GSS, Antara Gairah Belanja dan Masyarakat Indonesia

Artis Mona Ratuliu berbelanja bersama suami [Pembaruan/Lince Eppang]

Ratusan orang menyemut di sepanjang Orchard Road, Singapura. Sebagian terlihat berjalan santai, sebagian lainnya terlihat berjalan terburu-buru. Meski begitu, ada satu kesamaan dari sebagian orang yang berjalan di sepanjang pusat perdagangan Singapura itu, apalagi kalau bukan menenteng tas belanjaan.

Maklum, pesta diskon gila-gilaan dalam Great Singapore Sale (GSS) memang mulai digelar selama delapan pekan mulai 26 Mei hingga 23 Juni 2006. Sejak toko mulai dibuka sekitar 10.00, penggemar belanja mulai berdatangan.

Tidak perlu menunggu waktu yang cukup lama, geliat dan gairah belanja sudah mulai menggila. Apalagi di akhir pekan, pesta diskon gila-gilaan dengan barang-barang merek terkenal seperti tas Guess, DKNY, membuat penggemar belanja sejati pasti akan betah menyusuri toko-toko di sepanjang Orchard Road ataupun di seluruh penjuru Singapura yang memang serentak memberikan diskon hingga 70 persen untuk semua produk.

Jadi, siap-siaplah kaki bakal pegal menyusuri sepanjang Orchard Road itu. Tapi, walaupun suhu dan cuaca di Singapura tidak berbeda dengan Jakarta, Anda pasti tidak akan merasa lelah berjalan di sepanjang Orchard Road karena pedestrian ditata dengan baik dan pohon-pohon rindang yang menaungi sepanjang jalan memberi kesejukan di siang hari, ditambah situasi aman yang membuat Anda tidak perlu khawatir dengan tas yang Anda sampirkan di pundak atau di punggung.

Sejarah

Jika menengok sejarah, nama Orchard Road itu berasal dari kebun-kebun pala dan lada yang banyak terdapat di jalan itu pada 1840-an. Orchard Road saat itu hanya didiami oleh sedikit pemilik perkebunan seperti Scotts, Cairnhill, dan Cuppage, yang sekarang juga menjadi nama jalan di Singapura.

Pada perkembangannya, sekitar 1900, di wilayah tersebut menyebar penyakit misterius yang menyerang seluruh perkebunan pala dan menyapu bersih tanaman tersebut dalam waktu setahun. Selain itu, wilayah tersebut pun kerap dilanda banjir karena lokasinya berada di lembah.

Banjir baru dapat dikendalikan pada 1865, ketika Stamford Canal, diperdalam dan diperluas. Sekitar 1970, bangunan-bangunan pioner seperti CK Tangs, Plaza Singapura, dan Mandarin Hotel muncul dan memimpin pembangunan kompleks-kompleks hiburan di sekitar tempat itu.

Batu demi batu, blok demi blok serta menara-menara dari kaca dan baja mulai berjejer di tempat yang dahulu merupakan jalan berlumpur. Hadirlah Orchard Road sebagai surga bagi penggemar belanja dan menyedot perhatian penggila fesyen, barang elektronik, perhiasan, arloji, suvenir dan aksesoris rumah terkini, dari seluruh penjuru dunia.

Semua tumpah ruah di Orchard Road, tidak peduli ragam kulit, serta suku bangsa, semua menyusuri jalan tersebut dengan gairah belanja yang meluap. Sebenarnya, ada rasa iri yang menggumpal saat melihat betapa tertib pengguna jalan maupun pengemudi kendaraan, dalam menaati rambu lalu lintas.

Tidak ada satu pun kendaraan yang berusaha menyerobot jalan saat lampu merah menyala, sama halnya dengan pengguna jalan akan tertib menyeberang ketika lampu hijau mempersilakan penggunas jalan untuk menyeberang.

"Gue"

Sepanjang menikmati belanja di Singapura, rasanya seperti berbelanja di pusat perdagangan di Jakarta. Pasalnya, hampir di setiap toko ditemui penggemar belanja dari Indonesia, sehingga tidak heran banyak pedagang yang bisa menggunakan bahasa Indonesia dengan baik.

Ketika menyusuri Takashimaya Shopping Centre, kalimat-kalimat dalam bahasa Indonesia dan dialek Jakarta seperti "gue", "lu", "berapa sih harganya", kerap terdengar.

Beberapa warga Jakarta yang ditemui di negara kepala singa itu, mengakui memang menunggu ajang GSS untuk memburu produk-produk bermutu dengan harga miring. Mona Ratuliu (24), misalnya, dengan perasaan bangga menunjukkan kalung berwarna hijau muda yang dikenakannya siang itu.

"Ini belum keluar lho di Jakarta. Tidak setiap tahun sih saya datang, tapi kalau datang ke sini, resepnya cari barang-barang yang belum ada di Jakarta, jadi nggak rugi untuk berbelanja," ujarnya riang.

Pesinetron yang juga ikut dalam Great Singapore Shopping Challenge bersama-sama dengan Mario Lawalata dan Indah Kirana itu, mengaku selain memburu produk aksesoris dan fesyen, juga produk kosmetika.

Berbeda dengan Hendri, karyawan Astra asal Jakarta, terlihat hanya menikmati ajang tersebut sambil berjalan-jalan di sepanjang Orchard Road. Meski begitu, sesekali ia memegang produk sepatu sambil menengok-nengok harga yang tertera.

"Saya sih datang karena ada acara dari kantor di negara ini. Bukan khusus untuk GSS. Tapi saya rasa, mutu yang diperdagangkan di sini kan jauh lebih bagus dari Jakarta," ujarnya.

Alasan penggemar belanja sejati asal Indonesia mungkin beragam dalam memburu produk di perhelatan GSS. Tetapi, kehadiran masyarakat Indonesia menjadi fenomena tersendiri bagi masyarakat Singapura. Mereka pun banyak yang menguasai bahasa Indonesia dengan baik.

Leo, misalnya, pedagang suvenir di trotoar Orchard Road yang memiliki toko bergaya gazebo, mengaku kerap didatangi pembeli asal Indonesia. Ia pun sudah biasa menggunakan istilah "Jangan dong, come on-lah, harganya sudah murah."

Padahal, ia mengaku belum pernah ke Indonesia. Kepandaiannya menggunakan istilah Jakarta seperti "dong" "sih" didapatinya saat berdialog dengan pembeli, yang kebanyakan berasal dari Jakarta. Lantas, pertanyaannya, apakah Jakarta Great Sale yang akan digelar Juni-Juli mendatang juga mampu menyedot perhatian penggemar belanja sejati asal Jakarta, seperti halnya mereka berduyun-duyun datang ke Singapura? Mungkin, bila rasa aman, mutu produk yang baik dan diskon sesungguhnya yang disajikan GSS dapat diserap penyelenggara Jakarta Great Sale, tidak tertutup kemungkinan penggila belanja asal Indonesia menoleh kembali ke negaranya dan menghabiskan uang mereka di negara sendiri. [Pembaruan/Lince Eppang]


Last modified: 30/5/06