[JAKARTA] Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengembangkan obat antipenyebaran virus flu burung dengan menggunakan koleksi mikroba yang ada di wilayah Nusantara. Sejumlah mikroba ditengarai dapat menghasilkan senyawa yang dapat menghambat penyebaran virus flu burung.
Kepala LIPI, Umar Anggara Jenie, menyebutkan sejumlah penelitian yang dilakukan lembaganya menunjukan hasil-hasil ke arah yang menggembirakan, meskipun belum bisa diterapkan secara luas.
"Ada beberapa penelitian yang sudah signifikan. Ini membuktikan kami siap untuk bersama-sama mencari solusi atas penyebaran virus flu burung yang ditakuti akan menyebar luas," ujarnya di Jakarta, Senin (29/5).
Umar menyebutkan penelitian yang dilakukan instansinya dapat menjadi pendukung untuk mencari solusi permasalahan ini. "Penelitian kami relatif lebih murah karena hanya menggunakan mikroba yang sudah kami koleksi di Kebun Raya Bogor. Sejumlah mikroba itu kami koleksi dari keanekaragaman hayati alam Indonesia," tambahnya.
Menurut Dr Ines Atmosukarto, peneliti yang mengembangkan obat antipenyebaran virus flu burung, saat ini sedang dilakukan penyeleksian mikroba yang berpotensi dapat memproduksi senyawa yang dapat menghambat penyebaran virus flu burung.
Senyawa yang dikembangkan adalah senyawa yang dapat menghambat penyebaran, sehingga sel-sel yang terkena virus tidak akan menyebarkan virusnya ke sel yang lain atau ke objek lain.
Dijelaskan Ines, sejauh ini ada dua jenis protein yang menjadi target dalam penghentian penyebaran virus H5N1. Namun dalam perkembangannya virus H5N1 telah berhasil mengatasi senyawa itu sehingga menjadi kebal.
"Pada beberapa kasus di Vietnam dan China ditemukan virus yang kebal terhadap senyawa zanamir (Relenza) dan oseltamivir (Tamiflu) karena penggunaan yang berlebihan, sehingga perlu ditemukan cara baru untuk menghentikan penyebaran," ujarnya.
Namuan menurutnya pencarian mikroba yang menghasilkan senyawa itu membutuhkan waktu yang tidak bisa ditentukan. "Kalau lagi beruntung bisa dalam sebulan, tapi kalau tidak bisa puluhan tahun kita menemukan mikroba yang menghasilkan senyawa yang tepat," jelasnya.
Menurut Ines saat ini ada ribuan mikroba koleksi Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI dan Pusat Herbarium Kebun Raya Bogor yang berpotensi menjadi obat sejumlah penyakit dan berguna dalam kehidupan sehari-hari.
HEPO
Menurut Kepala LIPI penelitian terhadap obat flu burung ini merupakan salah satu penelitian unggulan dalam program Tahun Ilmu Pengetahuan Indonesia yang dicanangkan beberapa waktu lalu. Menurutnya, ada beberapa penelitian yang memiliki taraf internasional, seperti penemuan bahan dasar human erythropoietin (HEPO) yang dibutuhkan dalam pembentukan sel darah merah pada tubuh manusia.
Selama ini HEPO berkaitan dengan penyakit yang berhubungan dengan darah, seperti anemia, leukimia, dan sebagainya. Dunia kedokteran menganggap HEPO sebagai obat yang utama dalam perawatan penyakit itu dan harganya sangat mahal. Satu miligram HEPO dijual hingga Rp 80 juta
Pasien yang menderita penyakit leukimia umumnya diberikan suntikan HEPO. Satu kali sunti- kan membutuhkan biaya Rp 2 juta, padahal setiap minggunya pasien membutuhkan tiga kali suntikan.
Penemuan HEPO oleh Adi Santoso dinilai dapat meringankan pasien penderita gangguan darah karena untuk menghasilkan HEPO bisa dilakukan dengan metode peragian mikroba yang biayanya lebih murah, sehingga obat bisa terjangkau oleh masyarakat. [K-11]