
Salah satu adegan film "The Wind That Shakes the Barley" yang disutradarai Ken Loach menerima penghargaan Palme d'Or dalan festival film Cannes. [Foto:AFP]
ilm bertema perang dan politis berjaya di Cannes. Film drama perang The Wind That Shakes The Barley karya sutradara Inggris, Ken Loach, meraih penghargaan tertinggi Palme d'Or yang diberikan pada puncak Festival Film Cannes ke-59 yang berlangsung di French Riviera, Cannes, Prancis, Minggu (28/5) malam waktu setempat.
Bagi Loach kemenangan ini merupakan kemenangan bagi karya sinema politis. "Kita hidup di masa yang luar biasa. Namun para politisi telah mengubah itu. Perang yang kita lihat terjadi di mana-mana, para pengungsi bertebaran di seluruh dunia, merupakan masalah yang tidak bisa dihindari lagi. Karena itu dunia perfilman harus berbuat sesuatu dengan itu, bukan sekadar menghasilkan karya popcorn," kata Loach saat menerima penghargaan Palme d'Or (Palem Emas) tersebut.
Film The Wind That Shakes The Barley berkisah tentang dua bersaudara (diperankan Cillian Murphy dan Padraic Delaney) yang menjadi gerilyawan Irlandia yang berperang dengan tentara Inggris tapi kemudian akhirnya saling berhadapan sebagai musuh.
Selain film ini, ada cukup banyak film yang mengangkat isu politik di festival ini. Seperti film Southland Tales tentang kerusuhan sosial di Los Angeles, dan The Caiman karya sutradara Nanni Moreti yang merupakan sindiran satir terhadap kepemimpinan PM Italia Silvo Berlusconi. Namun Ketua dewan juri sutradara Hong Kong Wong Kar Wai, dengan anggota Samuel L Jackson, Helena Bonham Carter, Tim Roth, Monica Belluci, dan Ziyi Zhang menyatakan, keputusan dalam memilih pemenang Palme d'Or tidak berdasarkan dasar pemikiran politis semacam itu. Pada Festival Film Cannes ke-57 film dokumenter Fahrenheit 9/11 yang juga bertema politis meraih Palme d'Or.
Film yang menduduki tempat kedua dan meraih penghargaan The Grand Prix adalah film perang Flanders. Film yang disutradarai France's Bruno Dumont ini berkisah tentang seorang anak muda bernama Demester, seorang petani yang terpaksa ikut wajib militer untuk memerangi negeri yang tidak pernah dikenalnya.
![Ken Loach [AFP / Francois Guillot]](30kenloa.gif)
Alami Pelecehan
Sementara itu penghargaan untuk aktris dan aktor terbaik diberikan kepada sejumlah orang. Untuk Aktris Terbaik jatuh ke tangan para bintang pendukung film Volver yakni Penelope Cruz dan Carmen Maura, Lola Duenas, Blaca Portillo, Yohana Cobo dan Chus Lampreave. Film feminis karya sutradara Pedro Almodovar itu juga meraih penghargaan Skenario Terbaik.
Saat menerima piala, Cruz memberikan ucapan terima kasih dan penghargaan yang ditujukan kepada sutradara Volver, Pedro Almodovar. "Ini merupakan suatu kehormatan meraih penghargaan seperti ni bersama para wanita yang memesona dan telah begitu menggairahkan. Penghargaan ini juga milik Pedro. Dia adalah orang paling baik dan paling brilian. Dia memberikan begitu banyak keajaiban dalam kehdiupan kami, kaum wanita di seluruh dunia," kata Cruz saat menerima penghargaan tersebut.
Film Volver berkisah tentang tiga generasi wanita yang mengalami pelecehan dan perbedaan perlakuan. Rahasia keluarga kemudian terbongkar setelah salah satu dari mereka muncul dari kuburan.
Sementara itu penghargaan untuk Aktor Terbaik diberikan secara kolektif kepada seluruh aktor utama dalam film Days of Glory, termasuk aktor Jamel Debbouze (dikenal lewat film Amelie), Sami Bouajila, Roschdy Zem, dan Bernard Blancan. Film arahan sutradara Aljazair Prancis, Rachid Bouchareb itu, berkisah tentang perlakuan memalukan atas para serdadu Afrika yang bertempur untuk kolonial Prancis dalam Perang Dunia II. Ini merupakan hal yang tidak biasa.
Sedangkan penghargaan sebagai sutradara terbaik diberikan kepada sutradara Meksiko Alejandro Gonzalez Inarritu dengan film multikultural Babel yang dibintangi oleh Brad Pitt dan Cate Blanchett. Stradara wanita asal Inggris Andrea Arnold mendapat penghargaan khusus juri atau Jury Prize untuk film Red Road yang berkisah tentang wanita yang bekerja sebagai penjaga monitor pengamat di sebuah sudut jalan. Sebelumnya Andrea pernah meraih Oscar di tahun 2003 untuk film pendeknya Wasp. [reuters.com/W-10]