SUARA PEMBARUAN DAILY

Adendum

Lebih Aman daripada Rokok?

Shisha dinikmati dengan dihisap melalui selang. Biasanya ditawarkan berbagai macam rasa buah. [Pembaruan/YC Kurniantoro]

Shisha atau rokok Arab menjadi tren tersendiri di tengah masyarakat Jakarta belakangan ini. Apalagi, mengisap shisha disebut-sebut lebih aman daripada mengisap rokok, meski keduanya sama-sama berbahan dasar tembakau. Shisha juga dianggap lebih enak karena mengeluarkan berbagai aroma buah dan bunga yang bisa dipilih sesuai selera. Benarkah demikian?

Shisha merupakan salah satu jenis budaya dari kawasan Timur Tengah yang mengakar di masyarakatnya. Merokok dengan pipa yang dilengkapi dengan air dan pemanas itu sangat populer di kawasan tersebut, dan menyebar luas hingga ke Mesir, India, Pakistan, Israel, Rumania, hingga Indonesia. Di masyarakat dunia, nama hookah lebih dikenal ketimbang shisha meski mengacu pada hal yang sama. Sementara di beberapa negara seperti Turki, Lebanon, Suriah, Yordania, Yunani, Israel, dan Rumania, shisha disebut dengan nama narghile.

Yang membuat shisha terasa manis dan wangi adalah kandungan dalam tembakaunya. Tembakau untuk shisha dibuat dengan perbandingan 1:2 antara tembakau dan zat tambahan lain seperti buah-buahan atau aroma artifisial. Belakangan, aroma mint juga menjadi favorit karena efeknya mampu mendinginkan tenggorokan penikmat shisha.

Asap yang diembuskan dari mulut penikmat shisha juga tak terlalu mengganggu layaknya asap rokok. Pasalnya, asap shisha tak berbau karena diproduksi oleh pemanasan tembakau yang lembab. Ini juga yang membuat shisha dianggap lebih aman ketimbang rokok. Beberapa studi menyebutkan, jumlah zat karsinogen yang menyebabkan kanker dalam shisha lebih sedikit karena tembakaunya dipanaskan, bukan dibakar seperti rokok atau cerutu. Produksi nikotin juga dikurangi karena rendahnya suhu kala tembakau dipanaskan. Rendahnya kadar nikotin juga membuat jumlah pecandu shisha lebih sedikit ketimbang pecandu rokok.

Namun, studi tersebut rupanya belum final. Pada sebuah analisis di jurnal kedokteran Pediatrics, disebutkan bahwa zat karsinogen dalam shisha sebenarnya sama saja dengan yang terdapat pada rokok. Bahkan, shisha dianggap lebih berbahaya karena menggunakan arang sebagai pemanas serta besi sebagai alat pengisap asap. Arang dan besi akan menambah zat hidrokarbon karsinogenik dalam asap yang dihisap si penikmat shisha.

Tak hanya itu, sebuah studi pada Journal of Periodontology terbitan November 2005 menemukan, pengisap shisha justru memiliki gusi yang rusak lima kali lipat ketimbang perokok biasa. Pasalnya, para pengisap shisha lebih suka berlama-lama mengisap shisha mereka ketimbang para perokok yang mengisap rokoknya. Diduga, ini dikarenakan asap shisha yang tak terlalu mengiritasi tenggorokan sehingga membuat penikmatnya tak terganggu.

Thomas Eissenberg, profesor psikologi dari Virginia Commonwealth University yang ikut dalam studi tersebut menyebutkan satu kali mengisap shisha dapat berlangsung selama 45 menit. Jika dibandingkan dengan satu batang rokok, satu kali mengisap shisha memberikan 36 kali kandungan tar lebih banyak, 15 kali kandungan karbonmonoksida lebih besar dan 70 persen kandungan nikotin lebih banyak. Bahkan, sebuah penelitian di Mesir menemukan hubungan shisha dengan kemandulan.

Meski begitu, banyak keberatan dilontarkan atas studi-studi di atas, terutama mempertanyakan metodenya. Tak satu pun studi yang telah dilakukan memberi penjelasan atas riwayat merokok atau penggunaan obat-obatan yang dimiliki sang objek. [Berbagai sumber/D-10]


Last modified: 6/8/06