SUARA PEMBARUAN DAILY

Roda Kehidupan

Dari Demonstrasi, Mereka Menangguk Rezeki

Demo buruh di Medan, Sumut [Pembaruan/ Arnold H Sianturi]

Informasi merupakan bagian tak terpisahkan masyarakat masa kini. Media massa memberikan banyak informasi penting yang bisa dimanfaatkan. Jika cermat dan sigap, informasi bisa mendatangkan rezeki.

Di Medan, Sumatera Utara, para buruh menggelar aksi demonstrasi untuk memperingati Hari Buruh Sedunia pada Senin (1/5). Aksi yang sama juga digelar di sejumlah kota besar di Indonesia. Sekalipun membuat jalan-jalan macet dan semrawut, demonstrasi buruh ternyata juga membawa berkah. Hari itu, para pedagang asongan di Medan mendapat penghasilan berlimpah.

Hermanto (48), salah seorang penjual minuman segar di kawasan Lapangan Merdeka Medan, Sumatera Utara turut merasakan berkah itu. Di tengah-tengah demonstrasi, dia justru menangguk rezeki. Tidak seperti biasanya, jualannya laris manis. Hasil jualan hari itu cukup kebutuhan hidup selama tiga hari.

"Penghasilan yang diperoleh dari lumayan banyak, sekitar Rp 300.000. Kalau hari biasa, penghasilan malah tidak sampai Rp 100.000. Pendapatan ini lebih besar jika dibanding saat mahasiswa yang berdemo," ujar Hermanto kepada Pembaruan, saat ditemui di lokasi berjualannya, Senin (1/5) siang.

Ayah tiga orang anak ini mengaku tidak terlalu kaget. Dia memang sudah memprediksikan hasil jualannya akan berlipat ganda saat Hari Buruh. Oleh karena itu, sehari sebelum acara, Hermanto telah menyiapkan dagangannya lebih banyak. Saat Hari Buruh tiba, dia juga meminta bantuan Sulastri (45), untuk berjualan.

Prediksi Hermanto tidak meleset. Sejak pagi, dia mangkal di kawasan Lapangan Merdeka, titik temu ribuan buruh. Dalam beberapa saat saja, dagangan minumannya mulai "diserbu" buruh. Hermanto dan istrinya mengaku sempat kewalahan. Apalagi pembeli seolah berebut minta dilayani.

"Kami pun kelabakan melayani pembeli. Tetapi penghasilan hari ini memang jauh lebih besar, dan memuaskan. Mereka tidak peduli kalau harga segelas sirup sebesar Rp 1.500. Padahal biasanya kami menjual Rp 1.000 per gelasnya," timpal Sulastri.

Omzet hingga Rp 500.000.

Penghasilan berlimpah memang tidak setiap hari. Tetapi setidaknya para pedagang bisa ikut mengecap berkah mendadak satu kali dalam setahun. Umumnya, para pedagang memang memetik banyak keuntungan berlebih saat demonstrasi buruh itu. Seperti Hermanto, Legiman (32), seorang pedagang bakso dan mie pangsit mengalami hal yang sama.

Menurut Legiman, dagangannya habis terjual. Padahal, hari itu, dia sempat meminta istrinya bolak-balik pergi ke pasar untuk menambah dagangan. Hitung punya hitung, Legiman menangguk pendapatan hingga Rp 500.000.

"Ada sekitar empat kilo mie yang kami beli, dan semua habis terjual. Banyak buruh yang memesan bakso maupun pangsit. Bahkan sekalipun kami sudah bilang daging maupun bakso habis, mereka tetap saja memesan. Ini di luar dugaan. Mungkin mereka sudah kelaparan berat," katanya.

Sehari-hari, Legiman sebenarnya berjualan keliling di sekitar tempat tinggal di Meriendal, Medan. Sehari-harinya, pria beranak dua ini menggunakan sepeda motor Honda Astrea yang disatukan dengan bak tambahan sebagai sarana berjualan. Hari itu, Legiman bersama istrinya berangkat dari rumah mulai sekitar pukul 07.00 WIB. Setelah lima belas menit perjalanan, mereka sudah langsung memasuki areal Lapangan Merdeka.

"Awalnya pembeli masih sedikit, namun saat tengah hari kemudian pesanan mulai banyak, apalagi sebelum para buruh bertolak menuju kantor Gubernur," kata Legiman sambil mengelap peluh di wajahnya menggunakan handuk kecil.

Legiman memang yakin dagangannya akan laku lebih banyak. Keyakinan itu rupanya tidak meleset. Tidak sampai dua jam, mie yang disuguhkan untuk pembeli habis terjual. Keuntungan itu juga dirasakan oleh pedagang asongan, yang memanfaatkan diri untuk berjualan di lokasi Gedung DPRD Sumut.

Usut punya usut. Para pedagang itu bukan tanpa strategi. Hermanto, Legiman dan para pedagang lain mengaku berkah itu karena mereka mencermati perkembangan informasi. Dari banyak media massa, para pedagang tahu para buruh akan melakukan demonstrasi besar-besaran. Dengan modal informasi itu, mereka menyiapkan strategi. Sebut saja, pengakuan Andi (28), pedagang rokok asongan yang sebenarnya mangkal di Pusat Pasar Medan.

"Lumayanlah, untung penghasilan hari ini. Setiap akan ada aksi besar-besaran, saya memang langsung berpindah tempat menjual rokok, permen maupun minuman mineral. Saya selalu mengetahui akan ada aksi besar berdasarkan pemberitaan surat kabar. Inilah untungnya membaca koran, dan menonton siaran televisi," katanya bangga.

Andi mengaku omzet hari itu lumayan tinggi. Dia bahkan menyebut tidak kurang dari 48 bungkus habis terjual pada hari itu. Andi pun lega karena rokok-rokok itu diambil dari toke dengan cara mengutang. Meskipun lelah, hari itu, para pedagang asongan pulang membawa senyum bahagia. [Pembaruan/ Arnold H Sianturi]


Last modified: 6/8/06