SUARA PEMBARUAN DAILY

Sosok

Putri Raja Pencinta Kuda

Putri Haya [www.go.com.jo]

Sepotong berita pendek muncul di media massa pekan lalu. Mungkin tidak banyak yang memerhatikan, karena bukan tentang sosok selebriti ngetop seperti halnya Maria Sharapova atau Pangeran William. Dua sosok itu sengaja dipilih sebagai perbandingan, karena sosok yang diperbincakan kali ini adalah seorang atlet dan juga anggota keluarga kerajaan.

Ia adalah Putri Haya dari Yordania. Dia anak perempuan almarhum Raja Hussein dengan Ratu Alia Toukan, saudara satu ayah dengan Raja Abdullah, Raja Yordania yang sekarang.Pekan lalu, Putri Haya terpilih sebagai Presiden International Equestrian Federation (FEI, Federasi Olahraga Berkuda Internasional), menang suara mutlak dari Freddy Serpieri dan Putri Benedikte dari Denmark, dalam pemilihan yang berlangsung dua ronde.

Tidak muluk-muluk janjinya. Selepas pemilihan itu, sang putri hanya mengatakan akan membawa olahraga berkuda menghadapi abad ke-21. Ia pun menegaskan komitmennya untuk ikut mengawasi persiapan penyelenggaraan Olimpiade 2008 di Beijing. Olahraga berkuda akan digelar di Hong Kong.

Putri Haya, yang dipersunting Jenderal Mohammed bin Rashid al-Maktoum dari Dubai, dikenal sebagai pencinta kuda sejak usia muda. Putri kelahiran 3 Mei 1974 ini dikenal sebagai atlet berkuda sejak usia 13 tahun. Ia turun dalam berbagai kejuaraan internasional, membela negaranya, termasuk di Olimpiade Sydney. Walaupun berhasil menyelesaikan pendidikan di Oxford University untuk bidang politik, filsafat, dan ekonomi, ia lebih memilih menjadi penunggang kuda. "Ayah memberiku julukan sayang 'The Trucker'," ia mengenang, nama itu muncul karena ayahnya sering melihat putrinya itu nongkrong di kafe khusus untuk pengemudi truk pada usia remaja, dan berbincang dengan mereka. Putri Haya memang dikenal sebagai sosok wanita Arab modern. [Berbagai sumber/A-18]

Dapat Penghargaan BPN

Badan Pertanahan Nasional (BPN) belum lama ini memberikan penghargaan Bhumi Bhakti Adhiguna 2006 kepada enam gubernur, sepuluh bupati, dan delapan wali kota. Penghargaan itu diserahkan Kepala BPN Joyo Winoto, PhD, di Hotel Tanjung Pesona, Sungai Liat, Kepulauan Bangka Belitung pada 11 April lalu, bersamaan dengan peresmian Rapat Kerja Nasional BPN Tahun 2006.

Salah satu penerima penghargaan itu adalah Bupati Sorong Papua, Dr John P Wanane, SH, MSi. Penghargaan itu, kata Joyo Winoto, diberikan karena keberhasilan para kepala daerah dalam menyelesaikan masalah pertanahan dengan baik sehingga memberikan kesejahteraan kepada rakyat. "Saya ajak saudara-saudara bersama BPN menyelesaikan berbagai masalah pertanahan di Tanah Air," katanya.

Soal penghargaan itu, Wanane malah berterima kasih kepada Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sorong. Atas kerja sama yang baik, masalah tanah bisa diselesaikan dengan baik. "Pemkab Sorong selalu memberikan kompensasi yang wajar kepada pemilik hak ulayat. Selain itu, melalui BPN, memberikan paket sertifikat tanah, kompensasi terhadap lahan-lahan transmigrasi dan tanah adat yang dimanfaatkan untuk pembangunan fasilitas umum, kantor pemerintahan dan swasta. Kami akan terus berusaha menyelesaikan masalah tanah di Sorong sampai tuntas, agar rakyat tidak dirugikan," ujarnya, belum lama ini.

Sertifikat tanah yang dikeluarkan BPN, menurutnya, menjadi modal ekonomi, modal usaha bagi masyarakat, selain memberikan kepastian jaminan ekonomi dan sosial politik. Pelaksanaan pembangunan harus tetap melestarikan lingkungan dan hutan hak ulayat adat. Ia memegang teguh hal itu. Buktinya, pembuatan jalan Trans Papua dari Kota Sorong-Ayamaru-Teminabuan, Sorong Selatan, sepanjang 255 kilometer yang melintasi hutan rimba itu tidak merusak ekosistem lingkungan dan hutan adat.

"Kami buat lebar jalan sesuai kebutuhan. Bisa dilalui mobil dari dua arah yang berbeda. Karena pembangunan jalan didasarkan atas falsafah 'tanah itu ibarat ibu kandung yang memberikan penghidupan bagi masyarakat'. Kalau dimanfaatkan untuk pembangunan harus memperhatikan aspek kelestarian alam dan menyejahterakan rakyat," kata Wanane. [W-8]


Last modified: 6/8/06