SUARA PEMBARUAN DAILY

Hirup Gas CO, Paman dan Kemenakan Tewas

Ketika udara dingin masih menyelimuti kawasan Puncak, warga di kawasan satu villa tiba-tiba dikejutkan oleh kabar kematian dua kuli, Tukimin (45) dan Mubiono (17). Keduanya ditemukan sudah tak bernyawa di salah satu ruang vila itu, Minggu (7/5) pagi.

Korban kriminalitaskah? Pertanyaan itu yang mencuat pertama kali pada diri Joko, rekan seprofesinya ketika berusaha membangunkan keduanya. Dia yang pertama mendapati kedua korban sudah tak bernyawa lagi.

Antara Tukimin dan Mubiono masih memiliki hubungan keluarga. Tukimin adalah paman Mubiono. Sudah dua minggu ini, mereka menjadi buruh kasar di vila di Kampung Baru Jeruk RT 02/RW 05, Desa Tugu Utara, Kecamatan Cisarua, Puncak, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Kendati mereka masih ada hubungan keluarga, tapi tempat tinggal mereka tidak sekampung. Tukimin asal Kampung Brebet, Purbalingga, Jawa Tengah, tinggal di Kampung Kapuk RT 01/RW 02, Cengkareng, Jakarta Barat. Sedangkan Mubiono tinggal di Kampung Banyupanas RT 03/RW 04, Pacet, Cianjur, Jawa Barat.

Joko menemukan keduanya sudah tak bernyawa ketika keduanya hendak dibangunkan. Tahu keduanya sudah menjadi mayat, sangat mengejutkan Joko. Tanpa pikir panjang, dia segera melapor ke polisi.

Dari hasil pemeriksaan di lokasi, petugas tak menemukan adanya tindak pidana yang menyebabkan keduanya tewas. Tapi di sekitar tempat mereka tidur ditemukan kaleng bekas tiner, dan bekas perapian. Ruang tempat keduanya tidur berukuran 2 x 3 m2 dan tidak berventilasi.

Bertitik tolak dari temuan barang bukti di lokasi kejadian, petugas menduga keduanya keracunan lantaran menghirup zat asam arang. Racun itu diperkirakan dari asap hasil pembakaran dengan menggunakan tiner. Petugas pun menduga, keduanya membuat bakaran tersebut untuk menghangatkan badan.

Tidak hanya Joko yang terkejut. Herman, juga sahabat korban, terkejut pula mendengar kabar itu. Dia segera menuju ke Bogor dari Jakarta untuk memastikan kebenaran berita itu. Untuk melihat keduanya secara langsung, Herman pergi ke Bogor. Setelah benar yang meninggal adalah sahabatnya, lalu dia menghubungi para kerabat dan keluarga korban di Purbalingga.

Menurut Joko, Tukimin pekerja ulet dan bertanggung jawab, sehingga tak pernah kesulitan untuk mendapat pekerjaan seperti membangun atau memperbaiki rumah. Dari dari hasil pekerjaannya sebagai kuli, Tukimin berhasil menyekolahkan kedua anaknya. Bahkan seorang di antaranya sudah kuliah tidak jauh dari rumahnya di Purbalingga. [126]


Last modified: 6/8/06