SUARA PEMBARUAN DAILY

Presiden Bush: Ancaman Iran Sangat Serius

Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad (kanan) mendengarkan Menteri Pertahanan Iran Mostafa Mohammad Najjar saat pertemuan dengan sukarelawan Garda Revolusi di Teheran, Iran, Minggu (7/5). [Foto : AP]

[WASHINGTON] Presiden Amerika Serikat (AS) George W Bush mengakui sangat konsen atas ucapan Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad mengenai ancaman negara itu terhadap Israel.

"Saya pikir, ucapan tersebut sangat penting bagi kita untuk menanggapinya secara serius. Ketika orang bicara, sangat penting bagi kita untuk mendengarkannya serius apa yang dikatakan dan kita bisa mengambil langkah-langkah dengan serius pula. Misalnya, ketika Al-Qaeda bicara, saya mendengarkan pernyataan tersebut secara sungguh-sungguh. Ketika (Osama) bin Laden bicara kami akan membahayakan dunia Barat, saya juga menanggapinya sungguh-sungguh," kata Bush, menanggapi ancaman Iran yang akan menarik diri dari Traktat Non Proliferasi, Minggu (7/5).

Bush menambahkan, pernyataan Presiden Ahmadinejad itu harus ditanggapi dengan serius. Menurut Bush, Presiden Iran itu berkeinginan menghancurkan Israel dan dunia barat harus segera menyusun langkah-langkah serius mengenai ancaman itu.

Sebelumnya, Presiden Iran mengatakan bahwa Israel harus "dihapuskan dari peta dunia" dan menyebut peristiwa genosida hanya sekadar isapan jempol belaka. "Itu merupakan ancaman bagi semua sekutu AS dan Jerman. Namun dia juga mengatakan jika Ahmadinejad ingin menghancurkan salah satu negara," kata Bush menanggapi pernyataan Presiden Iran itu.

Bush mengatakan bahwa pilihan pertama dia untuk menyelesaikan konflik nuklir Iran adalah dengan cara diplomasi. Sejumlah pemimpin Iran mengatakan bahwa program nuklir Iran hanyalah untuk mengembangkan energi alternatif dan untuk kepentingan damai. Namun, Pemerintahan Bush meragukan tujuan itu.

Sementara itu, BBC melaporkan bahwa Parlemen Iran mengancam keluar dari Traktat Non Proliferasi apabila krisis nuklir Teheran dengan Barat tidak diselesaikan di meja perundingan. "Parlemen tidak akan punya pilihan lain selain meminta pemerintah menarik diri dari traktat itu," demikian isi surat yang dilayangkan Parlemen Iran ke Sekretaris Jenderal PBB Kofi Annan.

Apabila Teheran keluar dari Traktat Non Proliferasi Nuklir, ini berarti Iran tidak perlu diperiksa oleh badan pengawas nuklir PBB. Ancaman Parlemen Iran ini dilansir saat PBB membahas rancangan resolusi tentang masalah nuklir Iran.

Para anggota tetap Dewan Keamanan (DK) PBB bertemu Senin (8/5), untuk membahas rancangan itu yang akan mengambil langkah lebih lanjut apabila Iran tidak menghentikan pengayaan uranium. Rusia mengatakan rancangan resolusi itu harus disusun kembali dengan tekanan pada upaya membangun kepercayaan antara Iran dan PBB.

China mengatakan pihaknya khawatir bahwa negara-negara Barat yang mendukung rancangan resolusi itu menggunakan jalan yang akan mengizinkan serangan militer.

Juru bicara Pemerintah Iran mengatakan, segala langkah yang diambil DK PBB akan memiliki dampak negatif terhadap kerja sama Iran dengan IAEA.

Iran sendiri telah berikrar menolak tuntutan DK PBB untuk menghentikan program nuklirnya. Iran juga mengingatkan, krisis yang terkait dengan program nuklir negara itu kini sudah mengarah pada "konfrontasi" antara kedua pihak. "Kami tak akan menerima resolusi yang bertentangan dengan hak-hak kami," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Hamid Reza Asefi, seperti dikutip AFP. [AP/W-12]


Last modified: 6/8/06