
Bali bagaikan terus memanggil wisatawan. Datanglah, datanglah.
Dikenal sejak lama sebagai salah satu destinasi wisata favorit, Bali terus mempromosikan dirinya. Terutama setelah belakangan ini, "surga wisata" itu tertimpa musibah. Terutama setelah peristiwa aksi terorisme biadab, Bom Bali II, yang terjadi Oktober 2005.
Sejak peristiwa itu, jumlah wisatawan ke Bali memang menunjukkan grafik penurunan. Beberapa wisatawan yang sering ke Bali mengungkapkan pada Pembaruan, bahwa Bali terbilang sepi dibandingkan masa-masa sebelumnya. Itulah sebabnya, promosi untuk mengajak para wisatawan mancanegara dan wisatawan nusantara datang ke Bali, kemudian gencar dilakukan.
Promosi semacam itu juga dilakukan di pusat perbelanjaan The Plaza Semanggi, Jakarta, Sabtu dan Minggu (6-7/5) lalu. Selama dua hari, lantai satu pusat perbelanjaan itu dipenuhi gerai yang mempromosikan beragam keindahan tempat wisata di Bali, tempat penginapan, dan lainnya. Pertunjukan tari Bali dan penjualan berbagai cenderamata khas Bali, juga dilakukan di tempat itu.
Acara bertajuk "Pameran Pariwisata Bali" itu diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata Provinsi Bali, bekerja sama dengan Bali Village dan juga disponsori oleh perusahaan penerbangan nasional, Garuda Indonesia. Dalam acara itu, hadir Kepala Dinas Pariwisata Bali, Gede Nurjaya, Wakil Ketua Bali Village Made Gede Wiyasa, dan sejumlah pelaku bisnis pariwisata Bali.
Bali Village yang ikut menjadi pendukung acara itu adalah sebuah organisasi yang membantu dan mendukung promosi pariwisata Bali dengan berbagai cara. Organisasi itu beranggotakan hotel dan villa, biro perjalanan, pusat layanan spa dan kecantikan, pengelola tempat-tempat wisata, dan banyak lagi. Mereka bersama-sama bersatu padu untuk secara berkesinambungan mempromosikan dunia pariwisata Bali, sehingga "Pulau Dewata" itu tetap menarik dan dikunjungi para wisatawan.
Dalam pameran itu, terlihat jelas bahwa para pelaku bisnis pariwisata di Bali mulai menyadari perkembangan tren pariwisata dewasa ini. Penyediaan villa-villa yang lebih eksklusif sehingga lebih menjamin privasi wisatawan, sudah semakin banyak tersedia di Bali. Hal itu sejalan dengan keinginan para wisatawan kelas menengah atas yang menginginkan "sentuhan pribadi" dalam kegiatan wisata mereka.
"Tailor Made"
Hal serupa juga tampak pada tawaran-tawaran dari berbagai biro perjalanan wisata di Bali. Selain paket-paket wisata yang memang telah dikenal luas dan biasa ditawarkan kepada para wisatawan yang datang ke Bali, ada juga biro perjalanan yang bersedia membuat paket tailor made. Artinya, paket wisata yang dibuat secara khusus, disesuaikan dengan keinginan, waktu, dan dana yang dimiliki oleh wisatawan yang memesan paket wisata tersebut. Paket-paket semacam itu biasanya lebih bersifat personal, dan wisatawan yang mengikutinya dapat merasakan suasana lebih pribadi, karena tidak digabung dengan kelompok wisatawan lain yang tidak mereka kenal.
Beragam cara dilakukan untuk terus mempromosikan pariwisata Bali. Di luar itu, seperti yang pernah diungkapkan seorang pengelana di Singapura beberapa waktu lalu, kemudahan transportasi dan keamanan serta kenyamanan bagi wisatawan, harus terus juga diperlihara.
Lewat berbagai upaya itu, diharapkan jumlah kunjungan wisatawan ke Bali, baik wisatawan mancanegara maupun wisatawan nusantara, akan kembali meningkat. Diharapkan pula lama wisatawan (length of stay) berkunjung ke Bali akan semakin bertambah pula. Bali masih tetap menarik. Jadi para calon wisatawan, datanglah ke Bali. [Pembaruan/Berthold Sinaulan]