SUARA PEMBARUAN DAILY

Posisi Utang Melalui SUN Rp 688 triliun

[JAKARTA] Posisi utang pemerintah yang dihimpun melalui penerbitan Surat Utang Negara hingga 20 April 2006 tercatat Rp 688 triliun. Untuk mengurangi jumlah utang tersebut, pemerintah hanya menata ulang (reprofiling) yakni membeli kembali SUN yang belum jatuh tempo secara tunai, serta menurunkan tingkat risiko pembayaran kembali pada 2006-2009.

Hal itu diungkapkan Direktur Jenderal Perbendaharaan Departemen Keuangan, Mulia P Nasution, di Jakarta, akhir pekan lalu. Ia mengatakan, pemerintah tahun ini hanya menjadwalkan dua kali pembelian tunai SUN.

"Jadi semester satu diusahakan sekali. Tetapi kami juga melihat perkembangan pasar. Kalau pasarnya bullish (meningkat) terus, masa kita buy back (membeli kembali). Itu namanya konyol," ujar Mulia.

Menurutnya, pengurangan jumlah SUN itu juga dapat dilakukan dengan cara menekan defisit APBN, sehingga tidak menambah utang baru. "Utang itu kan sumber pembiayaan defisit. Jadi kalau defisitnya ditekan dan kemudian kebutuhan pembayaran pokok berkurang, tentu utang baru bisa dikurangi. Itu yang kita tempuh sekarang," kata Mulia.

Sebagai informasi, posisi utang SUN senilai Rp 688 triliun itu sudah termasuk SUN dengan denominasi dolar Amerika Serikat sebesar US$ 5,5 miliar, dengan asumsi nilai tukar Rp 10.000 per dolar AS. [L-10]


Last modified: 5/8/06