SUARA PEMBARUAN DAILY

Pengusaha Minta Suku Bunga yang Kompetitif

[JAKARTA] Para pengusaha meminta Bank Indonesia (BI) menurunkan BI Rate, sehingga suku bunga kredit bisa lebih kompetitif dengan negara-negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura. Permintaan tersebut disampaikan karena tingkat suku bunga kredit saat ini dinilai sudah sangat mencekik dunia usaha.

Demikian kesimpulan pendapat Ketua Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi) Thomas Darmawan dan Ketua Gabungan Pengusaha Perunggasan Indonesia (Gappi) Anton J Supit di Jakarta, Senin (8/5).

"Suku bunga tinggi ibarat kanker bagi dunia usaha Indonesia karena menyebabkan barang-barang investasi dan kredit modal kerja jadi memberatkan," kata Thomas.

Dia menilai, tingginya suku bunga memang tidak lepas dari kesalahan pemerintah dalam mengeluarkan beberapa regulasi, sehingga laju inflasi tahun lalu cukup tinggi. Hal itu berdampak pada keharusan BI memelihara stabilitas moneter dengan menaikkan suku bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI) yang berdampak pada kenaikan suku bunga simpanan nasabah yang diikuti dengan kenaikan suku bunga kredit.

"Kalau berbisnis sektor perdagangan untungnya harus besar, karena selain suku bunga tinggi, masih banyak aturan tata niaga dan peraturan-peraturan daerah yang mencekik, sehingga sulit memasarkan barang dengan harga kompetitif," ujar Thomas.

Ia membandingkan suku bunga kredit di Malaysia, Singapura, Thailand, Vietnam dan China rata-rata empat hingga enam persen. Sementara di Indonesia suku bunga kredit komersial berkisar antara 16 persen hingga 20 persen. Bahkan, suku bunga di Bank Perkreditan Rakyat (BPR) bisa mencapai hingga 30 persen.

Thomas meminta keadaan ini harus diatasi, karena dunia usaha dalam negeri akan semakin terjepit, karena tidak mampu memasarkan produknya ke luar negeri. Sementara, perusahaan-perusahaan multinasional dalam negeri yang sebagian sahamnya dimiliki oleh investor asing, bisa mendapatkan pendanaan dari luar negeri melalui induk perusahaannya.

"Kami menginginkan suku bunga yang kompetitif di bawah satu digit yakni delapan atau sembilan persen," kata Thomas.

Sementara itu, Anton J Supit mengutarakan harapan pengusaha agar pemerintah dan BI menciptakan iklim usaha yang kompetitif, sehingga produk-produk Indonesia tetap kompetitif baik di pasar domestik maupun ekspor. "Kami maunya yang kompetitif, jangan seperti sekarang semua beban dilimpahkan ke pengusaha," keluh Anton.

Ekonom dan analis perbankan Ryan Kiryanto berpendapat, BI seharusnya menggunakan dua indikator yakni tingkat inflasi dalam dua bulan terakhir yang relatif rendah dan kemungkinan suku bunga The Fed yang tidak akan dinaikkan lagi sebagai pertimbangan untuk melakukan penyesuaian dengan menurunkan BI Rate.

"Dengan berkurangnya dua faktor risiko yang berpotensi mengganggu stabilitas moneter, maka selayaknya BI menurunkan BI Rate 0,25 persen menjadi 12,50 persen," kata Ryan.

BI Rate sebagai acuan suku bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI) saat ini tercatat 12,75 persen, sedangkan suku bunga The Fed tercatat 4,75 persen.

Ryan mengatakan, penurunan BI Rate yang diikuti suku bunga SBI, kemudian suku bunga simpanan dan selanjutnya suku bunga kredit harus dilakukan secara konsisten dengan arah yang jelas, sehingga tidak membingungkan para pelaku pasar.

"Bagi dunia usaha, penurunan bunga kredit sangat ditunggu, karena mereka menanggung biaya yang berlipat ganda, dari kenaikan biaya BBM, bunga tinggi dan kemungkinan tuntutan kenaikan upah karyawan," katanya.

Dia berharap dalam menetapkan suku bunga, BI tidak hanya mempertimbangkan stabilitas moneter, tetapi juga bagaimana agar sektor riil bisa bergerak. [B-15]


Last modified: 5/8/06