hina kembali mengukuhkan diri sebagai adidaya bulutangkis dunia, menyusul sukses negara itu merebut Piala Thomas dan Uber, lambang supremasi kejuaraan dunia bulutangkis beregu putra dan putri antarnegara, di Jepang, yang berakhir Minggu (7/5). Tim putra China yang dimotori Lin Dan, di final menang telak 3-0 atas tim Denmark. Sedangkan regu putrinya menang mudah 3-0 atas tim Belanda yang diperkuat pemain asal Indonesia, Mia Audina.
Jauh-jauh hari, sukses tim China ini sudah diperkirakan banyak pengamat bulutangkis, karena saat ini pemain China dominan di semua lini. Di tunggal putra China memiliki empat pemain di peringkat sepuluh besar dunia, yakni Lin Dan (1), Chen Hong (6), Bao Chunlai (7), Chen Jin (9). Di tunggal putri, China menempatkan dua pemainnya di sepuluh besar, yaitu Zhang Ning (1) dan Xie Xingfang (2).
Pada ganda putra, China memiliki Fu Haifeng/Cai Yun di peringkat ketiga dunia. Di Ganda Putri ada empat pasangan di sepuluh besar, yakni Gao Ling/Huang Sui (1), Yang Wei/Zhang Jiewen (2), Du Jing/Yu Fang (7), Zhang Dan/Zhang Yawen (9). Sementara di ganda campuran ada Zhang Jun/Gao Ling (1) dan Xie Zhong Bo/Zhang Yawen (4).
Selain para pemain kelas dunia ini, China juga memiliki sederetan pemain lapis kedua yang juga berkualitas bagus. Itu sebabnya China diperkirakan masih akan mencengkeramkan kuku-kukunya di perbulutangkisan dunia pada masa-masa mendatang.
Lalu bagaimana dengan Indonesia? Dibandingkan dengan China, kekuatan perbulutangkisan Indonesia saat ini tertinggal jauh. Tim putra Indonesia yang diperkuat Taufik Hidayat dan kawan- kawan tidak mampu merebut satu angka pun ketika menghadapi China di babak semifinal. Indonesia kalah telak 0-3 di babak semifinal. Pada kelompok putri, nasib tim Indonesia lebih menyedihkan lagi, karena tidak mampu menembus putaran final.
Harus diakui bahwa prestasi bulutangkis Indonesia di kancah internasional nyaris terpuruk. Di bagian putra, kita tidak mampu menempatkan satu pemain pun di sepuluh besar dunia. Taufik Hidayat yang juara Olimpiade, hanya menempati posisi ke-12. Di ganda kita masih lumayan, ada Chandra Wijaya/ Sigit Budiarto (2) dan Luluk Hadiyanto/Alven Yulianto (5).
Di bagian putri, kondisinya lebih buruk lagi, pemain kita tidak ada yang mampu menembus 25 besar tunggal dunia. Pada sektor ganda, pasangan terbaik kita, Jo Novita/Gresya Polii hanya menempati urutan ke-21. Sementara di ganda campuran agak mendingan, ada Nova Widianto/Lilyana Natsir di urutan kedua.
Melihat kenyataan itu, pekerjaan rumah yang besar sedang menggelayuti Pengurus Besar Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI). Indonesia harus segera mengejar ketertinggalannya dari Cina dan negara-negara lain.
Pantas dipertimbangkan gagasan yang dilontarkan sejumlah mantan pemain nasional, agar PB PBSI lebih cepat mematangkan pemain-pemain muda. Pemain muda yang dimaksud tentunya adalah mereka yang sekarang berada di lapis kedua dan ketiga.
Gagasan itu pantas dipertimbangkan, karena pemain yang ada sekarang dapat dikatakan sulit menggeser dominasi para pemain China. Utamanya pada pertandingan di nomor beregu.
Kita akui, mematangkan pemain muda bukan pekerjaan mudah. Perlu kesabaran, arahan yang tepat, dan dana besar sebagai pendukungnya. Dalam kondisi perekonomian yang juga sedang terpuruk saat ini, hal itu jelas sangat sulit dilaksanakan.
Namun demikian, agaknya kita tidak memiliki pilihan lain yang lebih baik. Kita harus berani berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian. Bersakit- sakit dahulu, bersenang-senang kemudian.
Selain itu, PB PBSI perlu mencari bibit pemain berbakat, mulai dari pemula. Hal ini dapat ditempuh dengan menggairahkan kembali turnamen, mulai dari antarperkumpulan, antarsekolahan, antardaerah, hingga kejuaraan nasional. Kita tentunya tidak mau keterpurukan ini berlangsung terus, dan Piala Thomas serta Piala Uber harus secepatnya kembali ke Indonesia.