
agi mereka yang menginginkan kesehatan secara holistik, fisik maupun psikis, yoga merupakan salah satu solusinya. Seni olah tubuh dari India ini sudah dikenal di seluruh penjuru dunia berkat manfaatnya yang berlipat. Tak hanya menyembuhkan berbagai penyakit, yoga juga dianggap manjur untuk menenangkan jiwa yang dilanda stres atau ketakseimbangan psikis.
Di Jakarta, yoga belakangan ini menjadi sebuah tren gaya hidup tersendiri. Selain mengambil manfaatnya, para pelaku yoga juga sekaligus memanfaatkan momen agar bisa dianggap berkelas. Karena itu, menjamurlah studio-studio yoga di berbagai belahan Jakarta. Entah diajar oleh instruktur bersertifikat dan berpendidikan khusus, atau hanya instruktur yang belajar tanpa latar belakang yang jelas.
Salah satu pusat yoga yang dikenal luas oleh warga Jakarta adalah Jawaharlal Nehru Indian Cultural Center (JNICC), Jl Imam Bonjol No 32, Jakarta Pusat. Yoga hadir di JNICC sejak 1992 silam. Di sini, yoga diajarkan oleh instruktur yang didatangkan langsung dari India, dan memiliki latar belakang pendidikan serta pengalaman dalam dunia yoga yang mumpuni.
Tak heran, jika JNICC selalu kebanjiran peminat hingga selalu ada daftar tunggu untuk bisa ikut kelasnya. Apalagi harga yang ditawarkan pun cukup terjangkau. Para peminat tinggal membayar Rp 100 ribu untuk biaya registrasi, lalu Rp 300 ribu untuk jangka waktu tiga bulan. Level-levelnya dibagi ke dalam tiga tahap, yakni basic, intermediate dan advanced. Tiap kelas diajar selama satu jam, dua kali seminggu.
Saat bertandang ke JNICC Selasa (2/5), Pembaruan berkesempatan berbincang-bincang dengan guru yoga, Doren Singh. Singh mengaku baru mengajar di JNICC sejak Februari tahun lalu. Sebelumnya, ia berlatih yoga sejak 1984 dan mengambil gelar pascasarjananya di Yoga University, India. Ia juga menjadi petugas riset di pusat yoga di New Delhi University yang membantu menyembuhkan pasien dengan yoga.
"Hasilnya berlangsung dengan baik. Para pasien bisa sembuh dengan melakukan yoga. Tentu saja, kami juga dibantu oleh beberapa orang dokter," tutur Singh.
Di JNICC, ia melatih sendiri para siswa yoga dari berbagai kelas. Membludaknya peminat yoga di Jakarta menurutnya lebih disebabkan cukupnya pengetahuan masyarakat Jakarta tentang yoga. Bahkan, akibat tren yoga di tengah masyarakat urban, Singh mengaku, banyak siswanya yang merupakan guru aerobik atau pilates yang juga mengajar yoga di berbagai studio.
"Mereka sudah mengetahui yoga dan mengajarkannya di berbagai tempat. Namun, kebanyakan mengajar yoga yang sudah tidak murni lagi. Materi yoga yang mereka miliki sudah dikombinasikan dengan aerobic, pilates atau jenis olahraga lain," jelasnya.
Yoga yang diajarkan Singh di JNICC adalah Hatha Yoga, jenis yoga yang paling popular di dunia. Semua orang, dari anak-anak hingga lansia bisa mengikutinya karena latihan-latihannya bersifat umum. Jika dilakukan secara rutin, yoga akan memberikan kesehatan secara fisik dan psikis, atau kesehatan holistic.
"Memang, banyak siswa saya yang datang dan pergi untuk latihan yoga. Namun, umumnya mereka akan kembali lagi karena mereka merasakan manfaatnya," tambah Singh.
Bikram Yoga
Jenis yoga lain yang juga digemari masyarakat, terutama oleh masyarakat dari negara barat adalah Bikram Yoga. Yoga jenis ini cukup unik karena dilakukan di dalam ruangan tertutup yang diberi pemanas. Latihan-latihannya memfokuskan diri pada kardio dan kekuatan tubuh bagian bawah.
Di Jakarta, Bikram Yoga hadir di Saberro House, Jalan Kemang Raya No 10 A, Jakarta Selatan. Di sini, latihan yoga ditawarkan dengan harga Rp 120 ribu persesi. Instruktur sekaligus pemiliknya, Mony Suriany (30), adalah instruktur bersertifikat dari pusat Bikram Yoga di AS. Awalnya Mony adalah seorang pegawai keuangan di sebuah perusahaan asing di AS.
Saat terserang stress, ia iseng mengunjungi studio yoga di dekat kediamannya di sana. Lama-lama, Mony jadi ketagihan dan bahkan nekat meninggalkan pekerjaannya demi menekuni dunia yoga.
Studio Yoga 420, dibukanya sejak satu tahun lalu. Sambutan masyarakat menurutnya sangat baik. Tak jarang, Mony menutup kelasnya karena terlalu banyak siswa di dalam satu kelas yang berkapasitas maksimal 20 orang.
"Umumnya, para peserta ikut yoga di sini karena ingin mengurangi bobot tubuh, membentuk tubuh, melatih kardio, meningkatkan kekuatan dan fleksibilitas dan juga peredaran darah. Karena Bikram Yoga diajarkan di dalam ruangan bersuhu tinggi, 40 hingga 42 derajat celcius, keringat otomatis akan membanjir. Sehingga, untuk mereka yang ingin mengurangi bobot tubuh, memang paling pas ikut yoga ini," jelasnya.
Bikram Yoga merupakan jenis yoga yang cukup popular di dunia barat. Tak heran, siswa Mony pun kebanyakan datang dari kaum ekspatriat yang tinggal di Jakarta. Apalagi, menurut Mony, kaum ekspatriat, entah itu orang Jepang, Korea atau mereka yang datang dari negara Barat, lebih tekun dalam menggeluti yoga.
"Orang Indonesia baru menganggap yoga sebagai tren gaya hidup. Mereka banyak yang datang dan pergi untuk ikut latihan di sini. Orang-orang Indonesia yang pernah tinggal di luar negeri atau yang sudah tua dan sakit-sakitan adalah klien yang setia," kata Mony.
Kelebihan lain dari Bikram Yoga menurutnya adalah, sistem pengajarannya sama dengan yang ada di seluruh dunia. Jadi, jika seseorang pernah berlatih di studio Mony lalu pergi ke luar negeri yang memiliki studio Bikram Yoga, ia akan bisa melanjutkan latihan-latihannya. Di dunia saat ini, Bikram Yoga sudah diajarkan di 1.000 studio.
![Beberapa gerakan Hatha Yoga. [Foto-foto: YC Kurniantoro]](03yoga2b.gif)
Efektif Hilangkan Stress
Manfaat yoga dalam kesehatan fisik dan psikis diakui betul oleh Anang Soesilo (50). Presiden Komisaris dari sebuah perusahaan swasta ini mengaku sudah berlatih yoga selama enam tahun. Awalnya, Anang mendapat rekomendasi dari seorang teman yang mengetahui berbagai keluhan kesehatannya.
"Dulu saya sering menderita insomnia, sakit punggung dan juga jantung berdebar. Kala diperiksa ke dokter, tak terdeteksi apa-apa. Akhirnya, saya ikut yoga atas rekomendasi seorang teman," tuturnya.
Waktu itu, ia mengikuti kursus yoga intensif selama enam hari di sebuah studio. Sayangnya, sesudah kursus selesai, ia pun merasa malas untuk menekuni yoga sendiri. Tak lama, ia mendengar tentang kursus yoga di JNICC. Kini, sudah lima tahun ia berlatih di situ, bersama beberapa rekan yang juga sudah bertahun-tahun berlatih di tempat itu.
"Sekarang, kalau tiba-tiba terbangun di malam hari dan tidak bisa tidur, saya tinggal berlatih yoga dan meditasi pernafasan. Lama kelamaan rasa kantuk akan datang dan saya pasti tertidur. Esok harinya tubuh pun segar karena tidak kekurangan tidur. Stress, jantung berdebar dan sakit punggung juga sudah jarang kambuh lagi," ungkapnya.
Kebiasaannya berlatih yoga kini ditularkannya kepada sang istri serta teman-temannya. Bahkan, ia bercerita, seorang temannya yang menderita stres berat langsung sembuh setelah berlatih yoga selama beberapa saat.
"Daripada ke dokter terus dan ketergantungan, lebih baik latihan yoga. Bagi saya, yoga itu adalah tindakan preventif atau pencegahan. Kalau sering latihan yoga, tubuh jadi lebih sehat. Nah, kalau tidak sakit, kan tidak usah ke dokter," tambahnya. [Pembaruan/Irawati Diah Astuti]