"Saya ini pengikut Pramisme. Saya tidak menganut ajaran tertentu. Saya hanya mengikuti ajaran saya sendiri, Tapi saya percaya pada keadilan dan kesejahteraan sosial,"

Pramoedya Ananta Toer tampil terakhir kali pada pembukaan pameran seni rupa dan bedah buku bertema "Karya-karya Mereka yang Dibungkam" di Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat pada 26 Februari 2006. [Foto: Antara/Yudhi]
udayawan dan sastrawan besar itu telah tiada. Ia satu-satunya penulis Indonesia yang beberapa kali menjadi kandidat peraih Hadiah Nobel untuk bidang sastra. Pramoedya Ananta Toer.
Nama itu menggetarkan dunia sastra Indonesia dan dunia. Karya-karyanya dalam bahasa Indonesia terus dibaca dan dikaji.
Di luar negeri, para penerbit sibuk menerjemahkan karya-karyanya. Tuduhan bahwa ia seorang penganut Marxisme yang dilontarkan pemerintah Orde Baru membuat hidupnya jadi penuh warna. Ia sendiri tidak pernah mengaku sebagai pengikut Marxisme atau komunis.
"Saya ini pengikut Pramisme. Saya tidak menganut ajaran tertentu. Saya hanya mengikuti ajaran saya sendiri, Tapi saya percaya pada keadilan dan kesejahteraan sosial," kata Pram sebagaimana dikutip dalam buku Saya Terbakar Amarah Sendiri karya Andre Vltchek dan Rossie Indira yang terbit beberapa bulan lalu.
Majalah Playboy Indonesia cukup beruntung, berhasil mewawancarainya di saat-saat terakhir. Pria kelahiran Blora 6 Februari 1925 itu wafat di rumah kediamannya Jalan Multikarya II/26 Utan Kayu, Jakarta Timur, Minggu (30/4) sekitar pukul 08.55 WIB. Tidak ada pesan terakhir dari mulut suami Maemunah Thamrin sebelum ajal menjemputnya.
Sejak Sabtu malam, beredar kabar yang mengatakan Pram wafat. Bahkan disebutkan pula, jenazah sudah berada di kediamannya setelah meninggalkan ruang gawat darurat Rumah Sakit St Carolus Jakarta.
Tak lama, pesan-pesan pendek yang mewartakan kematian sekaligus pesan yang mempertanyakan berita itu terus bergulir sepanjang malam. Lalu lintas pesan pendek dari ponsel agak mereda setelah Hilmar Farid dari Jaringan Kerja Budaya mewartakan, Pram belum meninggalkan penggemarnya.
Pesan pendek penuh rasa duka dan kekhawatiran itu merupakan bukti betapa nama Pram begitu lekat dalam dunia sastra di Indonesia. Saat itu, kondisi Pram memang terus memburuk sejak masuk ke ruang gawat darurat Rumah Sakit St Carolus, Kamis (27/4) malam.
Minggu pagi, kabar kematian Pram dipastikan. Jasad Pram memang sudah terbaring sepi di Taman Pemakaman Umum Karet, namun karya-karyanya pasti akan tetap abadi. Tulisannya begitu lugas, mungkin itu yang menyebabkan bukunya dilarang beredar di zaman Soeharto berkuasa. Pram begitu kaya data sejarah sehingga orang yang paling membencinya pun sulit berdebat dengannya.
Lewat karya-karyanya, Pram menyuarakan suara kemanusiaan. Ia juga membongkar kebusukan dari penjajahan Belanda, Jepang dan kekuasaan rezim pemerintah yang pernah berkuasa di Indonesia. Pengalamannya mendekam di penjara karena tulisannya, membuat ia mempunyai pandangan sinis terhadap kekuasaan. Tidak heran jika ia sering berkata bahwa dirinya sudah tutup buku dengan kekuasaan.
Peraih penghargaan Magsasay ini menggambarkan kekejaman penguasa yang tiran dengan fasih.
Bukunya yang berjudul Nyanyi Sunyi Seorang Bisu, bukan hanya mendemonstrasikan kepiawaiannya menulis. Ia bukan hanya memberi contoh betapa penulis sejati tidak boleh bersikap cengeng menghadapi penderitaan dan siksaan.
Teror, penahanan tanpa proses pengadilan dan tanpa kesempatan membela diri dengan bebas, bagian dari kehidupannya.
Tapi yang lebih menyakitkan Pram ternyata bukan soal penahanan dan pukulan popor senapan yang membuat fungsi pendengarannya rusak. Ia menyatakan dendamnya pada aparat bersenjata yang pada tahun 1965 yang datang ke rumah dengan dalih mengamankan. Alih-alih mengamankan keluarga dari serangan gerombolan yang terus melempari rumah, aparat itu ternyata membakar habis perpustakaan Pram.
Bagi Pram, tindakan itu lebih biadab daripada penahanan yang dialaminya. Dalam aksi yang ia sebut biadab tersebut, aparat menghancurkan semua bahan tulisannya. Naskah lanjutan novel Gadis Pantai yang ia bawa ke tempat tahanan, juga disita aparat.
Akibatnya, para pembaca tidak bisa menikmati kisah Gadis Pantai jilid 2 dan 3 yang sedianya akan ia tuliskan.

Keluarga dan para sahabat memberikan penghormatan terakhir kepada jenazah budayawan Pramoedya Ananta Toer di rumah duka, Jalan Multikarya, Utan Kayu, Jakarta, Minggu (30/4). Pramoedya meninggal dunia pada usia 81 tahun karena sakit. [Pembaruan/Jurnasyanto Sukarno]
Pulau Buru
Sepuluh tahun (1969-1979) hidupnya habis di Pulau Buru hanya karena dugaan bahwa ia adalah pendukung Partai Komunis Indonesia. Pram memang anggota Lekra, lembaga budaya yang didirikan PKI. Tapi Pram sama sekali tidak mengaku sebagai anggota PKI. Tidak ada satupun pengadilan yang menyatakan bahwa dirinya adalah anggota PKI ataupun simpatisan PKI. Tidak ada juga satu pengadilan pun yang pernah digelar untuk mengadili Pram.
Penjara Bukit Duri, Tangerang, Rumah Tahanan Militer Guntur pernah menjadi "kontrakannya". Tapi justru dari tempat penyekapan itu muncul karya-karya besar Pram.
Dari penjara Bukit Duri muncul cerita berjudul Bubu. Dari Pulau Buru, justru lahir maha karya yang semakin melambungkan namanya.
Siapa pula pembaca karya sastra yang tidak mengenal sosok Minke, tokoh dalam Tetraloginya yang sangat terkenal. Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah dan Rumah Kaca. Buku itu sebagaimana beberapa karya Pram lainnya, dinyatakan sebagai buku terlarang oleh pemerintah Soeharto.
Tapi itulah Pram. Tak ada kata menyerah pada dirinya. Ia terus melawan karena sejak awal dia tidak pernah menyukai Soeharto yang menumbangkan Soekarno.
Soal Bung Karno, Pram memang jelas dan telanjang. "Soekarno satu-satunya pemimpin bangsa ini. Soeharto dan Amerika Serikat dan pendukung kapitalisme merusak bangsa ini," kata Pram dalam obrolannya atau dalam berbagai tulisan yang mengutip pernyataan Pram.
Lalu apa komentar keluarga Pram soal kepergiannya itu. "Saya bangga menjadi cucu Opa, " kata Aditya Prastira Ananta Toer, cucu sang sastrawan. Kini siapa pula yang tidak bangga mempunyai kakek setangguh Pram. Sastrawan besar itu memang batu karang yang berdiri tegak melawan ketidakadilan. Tanpa pernah mengeluh. [Pembaruan/Aa Sudirman]