SUARA PEMBARUAN DAILY

Jutaan Buruh Sedunia Peringati "May Day"

Penari China mengenakan pakaian adat kuno saat berunjuk rasa memperingati hari buruh di Shenyang, Provinsi Liapning, China, Minggu (30/4). Jutaan rakyat China menikmati hari buruh dengan libur panjang selama satu minggu. [AFP]

[NEW YORK] Hari ini, Senin (1/5), para pekerja sedunia memperingati Hari Buruh Sedunia atau dikenal dengan istilah May Day. Di Amerika Serikat (AS), Hari Buruh diperingati dengan aksi mogok para pekerja imigran.

Aktivitas para imigran yang tergabung dalam aksi Un Dia Sin Inmigrantes, atau Satu Hari Tanpa Imigran, menyebar luas di AS. Asisten Kepala Kepolisian Los Angeles, George Gascon, mengatakan sebanyak 500.000 orang terlibat dalam aksi boikot tersebut.

Di New Jersey, Rhode Island dan Pennsylvania, boikot dilakukan untuk mendesak pemerintah setempat agar mendukung undang-undang yang lebih mendukung kaum imigran.

Tidak semua warga AS mendukung aksi kaum imigran itu. "Mendorong orang untuk tidak bekerja atau menyuruh anak-anak agar bolos sekolah adalah tindakan yang kontraproduktif," kata Senator dari Partai Republik, Trent Lott.

Dari Manila dilaporkan, pasukan keamanan Filipina memperketat pengamanan di sejumlah kawasan untuk mengantisipasi kerusuhan dalam demonstrasi Hari Buruh Internasional. Beberapa ruas jalan di Manila dipadati barisan buruh yang menyerukan perbaikan hak-hak buruh di negara itu.

Puluhan ribu buruh turun ke jalan untuk menuntut kenaikan upah. Mereka juga menuntut agar harga bahan bakar minyak (BBM) diturunkan. Selain itu, para buruh mendesak agar Presiden Filipina Gloria Macapagal Arroyo mundur karena diduga terlibat korupsi.

"Kami akan bersiaga dengan kekuatan penuh untuk mengantisipasi kerawanan dalam perayaan Hari Buruh Internasional," kata Kepala Kepolisian Manila, Vidal Querol seperti dikutip Reuters.

Querol menjamin tidak ada aksi kekerasan yang dilakukan aparat kepolisian dalam menangani demo buruh. Sekitar 5.000 polisi antihuru-hara dikerahkan untuk mengamankan aksi buruh di Manila. Polisi dikerahkan agar demonstran dapat berunjuk rasa secara tertib dan tidak terhasut agitasi kelompok pemberontak komunis dan tentara yang menyimpang.

Akibat hasutan semacam itu, demonstrasi buruh pada 2001 berubah menjadi aksi kekerasan berdarah di depan Istana Kepresidenan di Malacanang. Para pemimpin politik dan gereja menyerukan agar demonstrasi dilakukan secara damai.

Dari Dubai dilaporkan, upaya antisipasi juga disampaikan oleh pemerintah Uni Emirat Arab. Pejabat setempat mengatakan, pemerintah terus mencari jalan keluar bagi berbagai masalah buruh di negara ini secara bertahap.

"Ada aksi protes tetapi lebih kecil ketimbang tahun lalu. Banyak buruh yang dihasut orang-orang asing," kata Aisha Sultan, Juru Bicara dan Wakil Presiden Asosiasi HAM Uni Emirat Arab. Menurut dia, saat ini ada sekitar 2,4 juta pekerja asing di UEA.

Demonstrasi buruh juga berlangsung di Queensland, Australia, untuk merayakan Hari Buruh Internasional. Unjuk rasa digelar untuk menyuarakan protes kekecewaan mereka atas keputusan Pemerintah Federal untuk mengubah UU Wilayah Kerja Industrial. Keputusan itu dinilai tidak berpihak kepada buruh.

Demonstrasi terbesar kemungkinan terjadi di Brisbane. Lebih dari 20.000 orang akan berunjuk rasa di Brisbane memperingati Hari Buruh. Grace Grace, Sekjen Queensland Council of Unions, mengatakan, massa akan berkumpul di Roma Street Forum. Tapi lokasi terpaksa diubah karena orang yang ingin ikut berpawai semakin banyak. [AP/E-9]


Last modified: 1/5/06