
Pelatih Senam Stott Pilates Lily Wibisono melakukan gerakan "Mermaid" berupa mendorong badan yang bersimpuh di atas papan bergerak untuk menguatkan otot bagian samping.
[Foto-foto: Pembaruan/Alex Suban]
ilates sebagai tren baru berolahraga di Jakarta tentunya mendapat respons dari berbagai kalangan. Seperti yang diduga, berbagai studio pilates pun bermunculan. Padahal, jika tidak diajarkan oleh instruktur yang bersertifikasi, alih-alih memperbaiki postur dan merehabilitasi otot, pilates bisa berbahaya bagi otot tubuh.
Karena itulah, Lily Wibisono dan Petrus Banu Sinatrio sering merasa prihatin. Mereka instruktur pilates dari Vitruvian Stott Pilates, yang berlokasi di Jalan Alam Segar I no 3 Pondok Indah dan Jalan Kemang Raya 83H Level 2, Jakarta Selatan. Keduanya berpendapat, banyak orang yang tidak memiliki pengetahuan yang cukup tentang pilates namun nekat menjadi pengajar pilates di berbagai tempat.
"Hasilnya, cedera seseorang bisa tambah parah. Tak heran jika dunia kedokteran Indonesia justru skeptis dengan kehadiran pilates. Padahal, di luar negeri, pilates sering direkomendasikan dokter untuk rehabilitasi orang-orang yang menderita cedera. Bahkan, sampai bisa diklaim untuk asuransi kesehatan. Tentunya dengan catatan, diajarkan oleh instruktur yang bersertifikasi," tutur Lily.
Di Indonesia, menurut Lily, saat ini baru ada tujuh instruktur pilates yang bersertifikasi dari STOTT Pilates di Kanada. Itu pun, jenisnya dibagi dua. Ada yang hanya bersertifikat penuh untuk mengajar dengan alat, ada juga yang bersertifikat penuh untuk mengajar dengan alat plus merehabilitasi seseorang.
Sertifikat jenis kedua itulah yang dimiliki Lily dan Petrus. Selama tiga tahun berkecimpung di dunia pilates di Indonesia, keduanya telah menghadapi berbagai macam kasus yang bisa diperbaiki lewat pilates. Mulai dari anak usia belasan tahun yang mengalami kelainan pada tulang belakang hingga kakek dan nenek berusia 85 tahun yang ingin tetap bugar.
"Pilates itu boleh dilakukan siapa saja, asalkan pertumbuhan tulang belakangnya sudah selesai. Wanita hamil pun boleh, asalkan sebelumnya ia sudah punya pengalaman berlatih. Kebanyakan pelanggan kami adalah mereka yang butuh pilates sebagai rehabilitasi karena di sini, sistem pengajarannya one on one, satu instruktur, satu murid. Tidak massal," Lily menjelaskan.
"Come and Go"
Untuk pilates massal yang dilakukan di beberapa studio, menurut Lily sebenarnya kurang baik. Pilates sebaiknya dilakukan secara privat, atau paling banyak 10 murid diajar oleh satu orang instruktur yang sangat berpengalaman. Pasalnya, pilates berbeda dengan olahraga lain yang dinamis dan aktif.
Dalam olahraga satu ini, yang dibutuhkan adalah detail dan konsentrasi karena latihan-latihannya memfokuskan diri pada perpaduan gerakan kekuatan dan kelenturan. Salah gerakan bisa mengakibatkan efek yang tidak semestinya. Karena itulah, tugas instruktur harus mencermati gerakan-gerakan muridnya. Kalau terlalu banyak murid dalam satu kelas, bisa-bisa tugas itu tidak terpenuhi. Agar bisa efektif, Lily dan Petrus menyarankan agar murid-muridnya berlatih minimal dua kali dalam seminggu. Akan lebih efektif lagi jika pilates dilakukan lebih dari itu.
"Kalau hanya bisa seminggu sekali, lebih baik tidak usah karena tidak akan efektif. Di sini, kami berusaha mengubah kebiasaan-kebiasaan buruk seseorang di dalam aktivitas sehari-harinya seperti berjalan atau duduk. Kalau hanya seminggu sekali, enam harinya ia akan kembali melakukan kebiasaan lamanya dan pilates yang dilakukannya pun tidak berguna," kata Petrus.
Selama tiga tahun itu, Lily dan Petrus beserta tiga asistennya telah menangani sekitar seratus pelanggan. Tak semuanya betah berlatih memang. Ada yang muncul, latihan selama beberapa saat lalu menghilang.
"Pelanggan yang tetap bertahan umumnya adalah mereka yang memiliki masalah dengan kesehatan. Kalau yang come and go biasanya adalah mereka yang hanya bermasalah dengan postur tubuh. Begitu tubuh sudah indah, mereka lalu berhenti," ujar Lily.
Pilates juga efektif bagi orang-orang yang lanjut usia atau yang sudah pernah terserang stroke. Latihan-latihannya yang ringan dan sederhana mampu melatih konsentrasi otak dan koneksinya kepada otot-otot tubuh.
"Ada pasien kami yang sudah nyaris pikun dan kehilangan koneksi dengan orang-orang di sekelilingnya. Setelah latihan, kondisinya membaik karena di sini, kami tak hanya sekadar berolahraga, namun juga melatih otak dan keseimbangan," ujar Lily. [D-10]