
Pelatih Senam Stott Pilates Lily Wibisono menahan kaki agar tidak bergerak saat pelatih lainnya Petrus Banu memperagakan gerakan mendorong badan yang berbaring di atas papan bergerak sebagai bagian terapi cedera di studio Vitruvian, Pondok Indah, Jakarta, Senin (23/4).
ernah mendengar pilates? Kalau belum, Anda boleh menganggap diri sebagai orang yang kuper alias kurang pergaulan. Belakangan ini, pilates menjadi tren tersendiri di kalangan pencinta olahraga. Sama seperti saat olahraga body language menjamur, atau juga fitness di gym yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat urban.
Pilates sendiri sebenarnya sudah ada sejak 1920-an, yang dikembangkan di AS oleh Joseph Hubertus Pilates. Pria kelahiran Jerman itu berpengalaman dalam melakukan rehabilitas korban perang dengan metode-metode ciptaannya sendiri. Metode-metode itulah yang kemudian hari diajarkan dan dikembangkan kepada muridnya dengan nama pilates, mengambil nama belakang sang guru.
Prinsip utama pilates adalah mengutamakan keseimbangan antara seluruh bagian tubuh dengan sistem pernapasan dan otak. Mereka yang rutin mengikuti pilates akan mendapatkan postur tubuh yang bagus, tulang dan sendi yang baik, dan tentunya, tubuh yang mengagumkan. Karena itulah, di negara-negara Barat, Pilates sudah menjadi pilihan dan kerap direkomendasi dokter untuk berolahraga. Bahkan, karena mampu memperbaiki dan merehabilitasi postur tubuh seseorang, Pilates kerap dijadikan terapi bagi atlet atau masyarakat awam yang mengalami cedera.
Di kalangan selebriti Hollywood dan atlet mancanegara, pilates bukanlah sesuatu yang asing. Nama-nama seperti Brad Pitt, Demi Moore, Hillary Duff, atau pegolf kenamaan Tiger Wood, adalah beberapa orang yang rutin berlatih pilates. Brad Pitt mendapatkan tubuh tegap namun lenturnya dalam film Troy sesudah berlatih pilates secara intensif selama tiga bulan. Sementara Hillary Duff kini tampil lebih kurus namun seksi karena berlatih pilates empat kali seminggu, bahkan lebih.
Rehabilitasi
Itulah salah satu yang mendorong Andini (22) untuk berlatih pilates. Sejak kecil, ia terbiasa duduk, tidur, dan beraktivitas dengan posisi membungkuk. Apalagi, tubuhnya tinggi, di atas rata-rata kawan sebayanya. Alhasil, ia pun sengaja membungkukkan tubuh agar tidak menjulang dan menjadi pusat perhatian. Kebiasaan semacam itu menjadikan tubuhnya bungkuk dan tidak indah. Rasa mindernya pun bertambah.
Setelah orangtuanya mendapatkan informasi mengenai pilates, ia pun segera berlatih di sebuah studio pilates di Jakarta Selatan. Di situ, instruktur mendiagnosis keluhan Andini dan memberikannya latihan-latihan yang menguatkan otot yang menarik tulang belakangnya. Latihan-latihan tersebut juga berfungsi mengubah kebiasaan membungkuk Andini yang sudah berlangsung bertahun-tahun. Setelah mengikuti pilates selama hampir setahun, postur tubuhnya pun membaik dan kembali normal.
"Awalnya saya sempat pesimistis. Apalagi, latihan-latihan yang diberikan sepertinya sangat mudah. Namun, setelah mencobanya, ternyata meski kelihatan sederhana, praktiknya sungguh berat. Hasilnya juga sepadan," katanya.
Pilates memang bukan sekadar olahraga membentuk tubuh atau menurunkan berat badan. Di Vitruvian Stott Pilates Studio yang berlokasi di kawasan Pondok Indah dan Kemang, Jakarta Selatan, fungsi rehabilitasi justru yang menjadi keunggulan mereka. Di sini, sebagian besar pengunjungnya adalah mereka yang memiliki masalah dengan kesehatan.
Saat Pembaruan bertandang ke studio tersebut, Senin (24/4), seorang pelanggan, sebut saja namanya Santi (46), tengah menanti giliran berlatih. Santi mengaku ikut pilates atas referensi seorang temannya. Sudah setahun belakangan ini ia terserang vertigo hebat yang menbuatnya sulit berolahraga berat.
"Dulu saya rajin fitness. Namun gara-gara kena vertigo, saya takut berolahraga fitness meski hanya jalan di treadmill, karena kalau kambuh saya bisa jatuh tiba-tiba. Seorang teman menasihati saya untuk ikut pilates karena bisa membentuk postur tubuh sekaligus menyembuhkan penyakit," tutur Santi.
Sudah empat sesi pilates yang ia ikuti di studio tersebut. Menurutnya, hasil yang didapat memang belum signifikan, namun rasa sakit di leher dan tulang punggung mulai berangsur-angsur hilang. Vertigonya juga mulai jarang kambuh.
Daya Konsentrasi
Kisah yang lebih menarik lagi datang dari Karl (85). Ia dan sang istri sudah beberapa minggu belakangan rajin mengikuti pilates di Vitruvian. Menurutnya, setelah mengikuti pilates, tubuhnya jadi lebih bugar dan sehat.
"Saya akan ikut terus karena pilates membantu saya juga untuk lebih berkonsentrasi," tuturnya, dalam Seminar "Enhancing Body Structure with Pilates and Therapedic", akhir pekan lalu di Hotel Mulia, Jakarta.
Memang, pilates bisa dilakukan siapa saja tanpa mengenal batas usia. Asalkan pertumbuhan tulang punggung sudah berhenti, seorang anak belasan tahun pun bisa berlatih. Pilates juga bagus dilakukan orangtua yang pernah menderita stroke agar fungsi organ-organ tubuh geraknya bisa pulih seperti sedia kala. Selain itu, karena pilates memberikan gerakan-gerakan sederhana namun membutuhkan konsentrasi tinggi, olahraga ini juga membantu mereka mengembalikan daya konsentrasi otak.
Di luar fungsi rehabilitasi yang dimilikinya, pPilates juga banyak dipilih oleh mereka yang sekadar ingin membentuk tubuh. Inilah justru yang membuatnya populer. Apalagi, hasil yang didapat pun bukan tubuh berotot seperti binaragawan, melainkan tubuh yang lentur dan berlekuk nan indah.
Seperti Karina (30), misalnya. Humas sebuah perusahaan swasta ini rajin mengikuti pilates sejak ia melahirkan anak keduanya enam bulan lalu. Awalnya, ia memilih fitness di gym terdekat. Namun, setelah mendengar tentang keunggulan pilates, ia pun iseng mencoba dan bertahan hingga kini.
"Selain mengubah lemak menjadi otot yang lentur dan indah, pilates juga memperbaiki postur tubuh saya. Banyak pelajaran yang saya dapatkan dari latihan-latihannya untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari," ujarnya.
Bahkan, ia mengaku mendapatkan keuntungan lain, yakni tulang panggul yang lebih kuat. Ini berefek pada aktivitas seksual yang dilakukannya dengan sang suami.
"Karena itu, suami saya senang-senang saja saya ikut pilates. Pasalnya, meski sudah melahirkan dua kali, saya masih tetap tampil dan terasa memuaskan di tempat tidur," kisahnya, seraya terbahak.
Menarik juga bukan? [Pembaruan/Irawati Diah Astuti]