SUARA PEMBARUAN DAILY

Sosok

Masih Aktif Berdiskusi Politik

Tidak lagi berpolitik praktis, bukan berarti mantan Ketua DPR Akbar Tandjung meninggalkan sama sekali dunia politik yang sudah digelutinya hampir sepanjang hidupnya. "Saya aktif berorganisasi sejak pelajar sekolah menengah. Hidup ini saya lalui sepenuhnya bergelut dengan dunia politik," ujar mantan Ketua Umum Partai Golkar itu kepada Pembaruan, baru-baru ini.

Kegiatan politik terus dilakukan ayah empat anak perempuan dan kakek satu cucu itu. Selain berdiskusi rutin membahas masalah bangsa dengan para tokoh nasional seperti mantan Presiden Megawati dan mantan Presiden Abdurrahman Wahid, ia juga melakukan pertemuan rutin dengan anggota Fraksi Partai Golkar di DPR setiap Jumat di kantornya, di kawasan Mega Kuningan, Jakarta Selatan.

Bukan hanya anggota FPG yang kerap datang, tapi juga politisi dari fraksi lain serta rekan-rekannya sesama alumni Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan alumni Kelompok Cipayung (HMI, PMKRI, GMKI, GMNI, PMII).

Selain itu, politisi kawakan ini, juga tengah menyelesaikan studi S-3 bidang politik di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Walau S-1 nya sarjana teknik elektro, karena ingin mengetahui politik secara teoretis, Akbar ingin mengambil gelar doktor politik. Soal terakhir itu, rekan-rekannya mengatakan secara bergurau, kalau ada S-4 di bidang politik, Akbar sudah layak mendapatkannya. [M-6]

Prihatin Pupuk Langka

Martin Hutabarat [Istimewa]

Mantan anggota DPR periode 1987-1992 dari Fraksi Karya Pembangunan (FKP-kini Fraksi Partai Golkar ) Martin Hutabarat kini menjadi petani. Paling tidak, ia mengurusi petani. Martin yang dulu terkenal cukup vokal di Komisi III DPR yang membidangi masalah hukum itu, kini disibukkan oleh mahalnya harga pupuk. Martin yang saat ini menjadi salah seorang Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI), mengaku sangat prihatin dengan adanya kelangkaan pupuk belakangan ini. "Ini sangat merugikan petani," katanya, baru-baru ini.

Martin menambahkan, HKTI mendukung langkah yang telah diambil Polri dan Kejaksaan Agung untuk menjaga pupuk bersubsidi tidak hilang di pasaran akibat ulah spekulan. HKTI pusat telah meminta seluruh komponen HKTI di daerah-daerah untuk ikut menjaga distribusi pupuk.

Ia mengatakan, kelangkaan pupuk yang berakibat melambungnya harga pupuk benar-benar menyengsarakan petani. "Sudah didera kenaikan barang kebutuhan pokok akibat BBM, kini pupuk yang merupakan hal paling pokok menjadi mahal," katanya.

Untuk itu ia mengharapkan pemerintah benar-benar dan serius bertindak mengatasi musibah yang dialami petani ini. Harus diingat, sebagai negara agraris, petani merupakan mayoritas pekerjaan rakyat Indonesia. Bila pupuk langka dan mahal, bisa dikatakan petani tidak bisa bekerja. [M-6]


Last modified: 25/4/06