"Bu, di mana lokasi komisi yang membahas mister plen?," tanya ibu separuh baya sebelum memasuki rapat komisi Kongres Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) di Asrama Haji Batam beberapa waktu lalu.
Sekelompok ibu yang sedang sibuk membenahi barang-barangnya kontan tersenyum. Mereka pun langsung merespons pertanyaan sang ibu yang tampak kebingungan. "Bukan mister plen bu, itu komisi master plan," koreksi salah seorang peserta kongres yang sehari-hari bertugas sebagai anggota DPR.
Suasana seperti itu kerap mewarnai Kongres Muslimat NU yang dihadiri sekitar 3.000 orang peserta. Keragaman latar belakang peserta baik dari segi pendidikan, pekerjaan maupun asal daerah menambah semaraknya kongres yang berlangsung selama empat hari (29 Maret - 1 April) lalu.
Istilah "mister plen" (master plan) memang sangat menyita perhatian peserta kongres. Hampir seluruh peserta tidak mau ketinggalan membicarakan istilah tersebut agar terkesan mereka tidak ketinggalan zaman. Maklumlah master plan yang disuguhi pada kongres kali ini sangat mengikuti tren global.
"Jadi, apapun kata orang, kita tahulah itu mister plen," kata seorang ibu yang berasal dari sebuah cabang Muslimat NU di Pulau Jawa.
Ketua Umum Muslimat NU Kofifah Indar Parawansa yang dipercayakan memimpin ormas perempuan terbesar di Indonesia untuk kedua kalinya (2006-2011) mengatakan, tidak merasa malu dengan kepolosan dan minimnya pengetahuan sebagian anggota peserta kongres.
"Bagaimanapun itulah keberadaan mereka dan di forum seperti inilah mereka diperlengkapi," kata Kofifah.
Kongres ini bukanlah satu-satunya forum untuk menimba pengetahuan. Tetapi forum yang dirancang interaktif ini dapat menjadi salah satu media bagi para anggota yang beragam latar belakang untuk saling memperlengkapi.
Master Plan 2026
Kofifah menjelaskan, Kongres ke-15 Muslimat NU yang mewadahi 143 cabang dan 33 wilayah (dua wilayah persiapan) menjadi sangat monumental bagi perjalanan ormas tersebut. Kongres yang dilaksanakan di wilayah yang kerap disebut "luar negeri' nya Indonesia memutuskan dua hal penting. Yaitu pengurus Muslimat NU periode 2006-2011 dan juga Master Plan Muslimat NU 2026.
Penetapan master plan ini akan menjadi acuan mendasar bagi implementasi program Muslimat NU para periode-periode mendatang. "Master plan ini sangat realistis dan mengedepankan fungsi pelayanan Muslimat NU dalam masyarakat,"kata Kofifah.
Dijelaskan, Master Plan Muslimat NU 2006 dirancang dengan empat tahapan. Keempat tahapan yaitu Perempuan Indonesia Sehat 2011, Perempuan Indonesia Berkualitas 2016, Perempuan Indonesia Sejahtera 2021, dan Muslimat NU Mandiri 2026.
Pada tahap pertama, tahun 2011, pencanangan difokuskan pada Perempuan Indonesia Sehat. Program ini sejalan dengan penetapan World Health Organization (WHO) dan Indonesia sehat tahun 2010. Muslimat NU menetapkan 2011 atau lebih lama satu tahun karena pertimbangan teknis di lapangan dan sasaran program adalah grass root. Meskipun demikian, Muslimat NU tetap menggerakkan dan memaksimalkan 57 rumah sakit dan rumah sakit bersalin serta ratusan klinik yang tersebar di seluruh Indonesia.
Pencanangan perempuan sehat 2011 ini lebih menitikberatkan pada perlindungan fungsi-fungsi reproduksi perempuan terutama untuk menekan angka kematian ibu dan anak di Indonesia yang sudah memasuki tahapan yang memprihatinkan. Jumlah kematian ibu dan anak di Indonesia mencapai 373/100.000 kelahiran kehidupan.
Jumlah tersebut merupakan jumlah kedua terbesar setelah Bangladesh. Sementara Vietnam dan Singapura menempati urutan yang lebih baik dari Indonesia yaitu masing-masing 160/100.000 dan 6/100.000.
"Pencanangan perempuan sehat 2011 ini bukan sesuatu yang mengada-ada tetapi kita sudah memulainya dengan modal dasar yang dimiliki Muslimat NU," tegas Kofifah.
Perempuan Berkualitas
Pada tahap kedua, lanjutnya, Muslimat NU mencanangkan Perempuan Indonesia Berkualitas 2016. Pencanangan ini juga sejalan dengan misi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang menetapkan Millennium Development Goals (MDG) dan Indonesia berkualitas 2015. Tahap ini diharapkan dapat mengurangi kemiskinan, kelaparan, keterbelakangan, dan ketidakadilan.
Berkaitan dengan program ini, kata Kofifah, Muslimat NU terus mengupayakan pemberantasan buta aksara di semua aras masyarakat baik dalam lingkungan NU sendiri maupun masyarakat pada umumnya. Hal ini sudah dilakukan di Jawa Timur kepada sekitar 30.000 orang. Keberhasilan yang dicapai di Jawa Timur ini menjadi replika di Sembilan provinsi yaitu Jawa Tengah, Jawa Barat, Lampung, Riau, Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Selatan, dan Papua.
Tahapan ketiga adalah Menuju Perempuan Indonesia yang sejahtera tahun 2016. Pencanangan ini dikaitkan dengan kesiapan Muslimat NU yang kini sudah mampu mendirikan 121 koperasi yang berbadan hukum, memiliki induk koperasi dan 355 tempat pelayanan anggota koperasi (TPAK).
Sehubungan dengan program menuju sejahtera ini, Muslimat NU akan melakukan penguatan koperasi, capacity building dan institution building. Pada tahapan ini diharapkan, perempuan Indonesia akan memiliki kemandirian ekonomi dan mampu terhindar dari rentenir.
Pada tahapan keempat, Muslimat NU mencanangkan Muslimat Mandiri tahun 2026. Tahapan ini lebih mengkhususkan pada institusi muslimat atau lebih khusus pada lingkungan muslimat. Karena pada tahapan sebelumnya muslimat sudah menyatakan komitmen pelayanannya kepada masyarakat (sehat, kualitas, sejahtera).
Pencanangan Muslimat Mandiri tahun 2026 meliputi mandiri secara pemikiran dan pengelolaan organisasi. Dalam kaitan ini muslimat tidak boleh terkooptasi pada radikalisme dan liberalisme. "Muslimat harus menjadi bagian moderasi, penyeimbang," tegasnya.
Mengenai pengelolaan organisasi, tambah Kofifah, Muslimat NU terus menggalakkan win-win program yang tidak terpaku pada program yang menengadahkan tangan saja. Saat ini Muslimat NU sudah melakukan penandatangan dengan tujuh departemen dan kementerian yaitu Kehutanan, Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah, Pembangunan Daerah Tertinggal, Pendidikan Nasional, Kesehatan, Lingkungan Hidup, dan Pertanian. [Pembaruan/Feybe Lumanau]