
Situasi kota wisata Dahab sebelum diporak-porandakan oleh serangan bom yang menewaskan 23 orang dan melukai
lebih dari 150 orang lainnya, Senin (24/5). Mesir mengandalkan pariwisata sebagai salah satu sumber devisa negara. [AP/Mohamed Al-Sehety]
[KAIRO] Sebanyak 23 orang tewas, termasuk seorang bayi asal Jerman, dan 62 luka-luka dalam tiga ledakan bom yang mengguncang kawasan tempat wisata Dahab, Mesir, Senin (24/4).
Ledakan bom di kawasan Sinai tersebut adalah serangan ketiga dalam kurun waktu kurang dari dua tahun. Jumlah korban belum bisa dipastikan dan diperkirakan akan terus bertambah.
Gubernur Sinai Selatan, Mayor Jenderal Mohammed Hani menyebutkan, korban tewas berjumlah 21 orang, termasuk 18 warga Mesir. Sedangkan korban luka-luka mencapai 62 orang.
Sedangkan menurut sejumlah dokter dan petugas kepolisian, korban tewas mencapai 22 orang dan 150 lainnya luka-luka. Kepastian jumlah tewas dan luka-luka hingga kini masih sulit diperoleh. Polisi mengatakan, satu warga Rusia dan satu warga Swiss termasuk di antara korban tewas.
Serangan di Dahab terjadi satu hari setelah beredar rekaman berisi ancaman dari Osama bin Laden, pemimpin jaringan Al-Qaeda. Dalam rekaman tersebut, Osama mengatakan, warga Barat merupakan target sah aksi organisasi terorisnya.
Selama ini, Mesir sangat menggantungkan perekonomiannya dari bidang pariwisata. Tak heran Presiden Mesir Hosni Mubarak sangat mengecam serangan di Dahab. "Serangan bom tersebut adalah tindakan teroris yang penuh dosa," ujar Mubarak, kemarin.
Dari London, Menlu Inggris, Jack Straw, mengecam serangan bom yang mengguncang kawasan tempat peristirahatan di Sinai, di tengah padatnya wisatawan yang tengah berlibur.
Ghazi Hamad, Juru Bicara Kabinet Palestina, mengecam ledakan bom tersebut. "Ledakan bom itu adalah serangan kriminal terhadap nilai-nilai kemanusiaan," ungkap Ghazi Hamad.
Dahab terletak di Teluk Aqaba, berjarak sekitar 110 kilometer sebelah selatan Taba, Mesir, atau dekat perbatasan selatan Israel. [AP/E-9]