PT Mandala Multifinance Tbk akan menerbitkan obligasi Rp 220 miliar pada awal Juli nanti. Hasil penerbitan obligasi dalam bentuk straight bond senilai Rp 100 miliar dan zero coupon bond Rp 120 miliar, akan digunakan untuk menambah pembiayaan perusahaan.
Corporate Secretary Mandala Multifinance, Poedji Goesarianto dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Senin (24/4) mengatakan, rencana itu merupakan rencana aksi perseroan yang akan dimintakan persetujuan terlebih dahulu dari pemegang saham dalam rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB).
Perusahaan pembiayaan ini per Desember 2005, memiliki total aset sebesar Rp 582 miliar atau naik dibanding tahun sebelumnya Rp 389 miliar. Sedangkan, posisi portofolio piutang pembiayaan kepada konsumen mencapai Rp 1,7 triliun.
Dari jumlah tersebut, Rp 1 triliun merupakan penyaluran kredit peminjam terusan dari perbankan (chanelling). "Kendati persaingan ketat, kami optimistis target pembiayaan tahun 2006 untuk 125.000 unit kendaraan bermotor tercapai," katanya. [PR/B-15]
Badan Pengawas Pasar Modal (Bapepam) mengumpulkan anggota bursa dan Self Regulatory Organization (SRO) guna memberi penjelasan secara mendetail kepada mereka tentang alasan percepatan merger Bursa Efek Jakarta (BEJ) dengan Bursa Efek Surabaya (BES).
Dalam pertemuan di gedung BEJ, Jakarta Senin (24/4), Bapepam mengatakan, merger dipercepat dari rencana sesuai dengan Rencana Induk Pasar Modal 2005-2009.
Dalam pertemuan yang juga dihadiri Ketua Bapepam yang baru terpilih Ahmad Fuad Rahmany dan Ketua Bapepam yang akan segera mengakhiri jabatannya Darmin Nasution. "Memang belum ada tim formal yang mengurusi masalah merger, tetapi sudah ada tim yang mulai mengkaji merger baik dari BEJ, BES, dan Bapepam," kata Darmin.
Darmin mengatakan, seluruh pemegang saham dalam pertemuan tersebut memberikan respons positif dan tidak ada satu anggota yang menanyakan konsep seperti infrastruktur dan perdagangan surat utang. [B-15]
PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) menjajaki peluang untuk menggarap pangsa perbankan syariah. Hal itu ditunjukkan dengan rencana membentuk anak perusahaan baru berupa Bank Umum Syariah (BUS). Dengan demikian melengkapi Unit Usaha Syariah yang sudah berjalan.
Direktur Komersial dan Syariah BNI, Bien Subiantoro di sela-sela peresmian office chanelling dengan unit syariah di Jakarta, pekan lalu mengatakan, pembentukan BUS akan bekerja sama dengan investor Timur Tengah.
Dengan rencana pembentukan BUS, maka target sebelumnya untuk melepas UUS menjadi anak perusahaan pada 2007 kemungkinan tidak direalisasikan, karena berpotensi terjadi tumpang tindih (overlapping) jika memiliki dua anak perusahaan syariah. "Kami optimistis tidak akan terjadi overlapping antara UUS dan BUS," katanya.
UUS akan memanfaatkan jaringan yang sudah dimiliki BNI melalui program kemitraan (office chanelling) yakni membuka layanan syariah di kantor bank konvensional. Sementara itu, BUS sebagai anak perusahaan akan lebih fokus pada pengembangan jaringan sendiri. Dalam kerja sama dengan investor Timur Tengah tersebut, BNI hanya memfokuskan pada penyediaan sumber daya manusia, sedangkan investor bersangkutan akan menyediakan modal. [B-15]