SUARA PEMBARUAN DAILY

Hama Beluk Rusak Ribuan Hektare Padi di Gowa

Zaharia (63), petani di Desa Tinggi Mae, Kecamatan Barombong, Kabupaten Gowa, Sulsel, Selasa (4/4) memperlihatkan butiran padi yang bisa dikumpulkan setelah tanaman padinya terserang hama beluk yang menyebabkan ribuan hektare tanaman padi di Gowa gagal panen. [Pembaruan/M Kiblat Said]

Panen padi telah tiba, tapi wajah petani di Desa Tinggi Mae, Kecamatan Barombong, Kabupaten Gowa, Provinsi Sulawesi Selatan, tidak menampakkan keceriaan, sebagaimana layaknya petani saat menyambut musim panen.

Hama beluk atau sejenis ulat yang menggerogoti batang padi menyerang ribuan hektare (ha) sawah di beberapa kecamatan di daerah itu. Hama tersebut memupuskan harapan petani untuk memperoleh hasil panen yang maksimal.

Sejauh mata memandang, hanya tampak hamparan tanaman padi mengering dengan buah yang layu mewarnai petak-petak sawah di Tinggi Mae, desa yang berjarak sekitar 15 km dari Kota Sungguminasa atau sekitar 26 km dari Kota Makassar.

Rahmat (22), petani di desa tersebut mengatakan, biasanya kalau musim panen tiba suasana di sawah ramai, tetapi kali ini hanya satu dua petani terlihat turun ke sawah mengumpulkan tangkai padi yang masih menyisakan butiran padi lalu membakar jerami untuk membasmi sisa-sisa hama. "Suasana panen kali ini memang sepi gara-gara serangan hama penggerek batang yang menghancurkan hasil panen," ujarnya kepada Pembaruan, Selasa (4/4).

Rahmat didampingi ibunya, Zaharia Dg Sunggu (63), mencabut serumpun tanaman padi dan memperlihatkan bekas serangan ulat pada batang padi yang masih basah. Ia menyebut hama itu penggerek batang dan menjadi penyebab gagalnya produksi buah padi. Selain karena hama, kegagalan produksi juga diakibatkan tingginya curah hujan.

"Kalau saja panen berhasil, tiap hektare sawah bisa menghasilkan gabah minimal 100 karung (tiap karung berisi 40 kg). Sekarang masih untung saya bisa mengumpulkan 30 karung dari sawah saya yang tak lebih satu 1 hektare," kata Zaharia.

Dia juga mengeluh karena kesulitan membayar utang pupuk dan obat-obatan di kios pupuk dan obat-obatan. "Mudah-mudahan dealer mau memberi keringanan untuk mencicil utang dan mau meminjamkan pupuk.

Kalau tidak, kami mau makan apa, sebab hasil yang didapat juga tidak cukup, apalagi masih butuh modal untuk membeli bibit menghadapi musim tanam," ucapnya.

Kejadian yang sama juga berlangsung di kecamatan lain seperti yang dialami Baharuddin (43), petani dari Desa Bone, Kecamatan Bajeng dan Daeng Rate, petani di Desa Maradekayya, Kecamatan Bajeng.

Menurut Baharuddin, ia memiliki 5 ha sawah beririgasi dan pada musim panen saat ini rata-rata tiap ha hanya menghasilkan sekitar 40 karung. Padahal, pada musim panen lalu hasilnya mencapai sekitar 100 karung per ha atau sekitar 4 ton per ha.

Luas sawah yang terserang hama di Gowa dipastikan mencapai ribuan ha karena kondisi yang sama dialami keluarganya di Kecamatan Bonto Nompo, Bonto Marannu, Pallangga dan Limbung. Para petani yang ditemui mengaku sawah miliknya selama ini tidak pernah dilakukan penyemprotan hama. Mereka baru tahu kalau tanaman padinya terserang hama setelah melihat kondisi buah padi yang banyak tidak berisi.

Laporan Baik

Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Gowa, Mapparenta mengatakan, tidak ada masalah soal panen padi di Gowa. "Hari ini (Selasa, Red) saya baru saja mencanangkan program gerbang emas (gerakan pembangunan ekonomi masyarakat) untuk mengoptimalkan tanaman padi sebagai komoditas andalan di Gowa," ujarnya.

Tidak kurang 150 varietas telah dilepas ke daerah tersebut dan lima tahun terakhir tercatat luas panen di Gowa mencapai 46.099 ha dengan produksi sekitar 221.586 ton, rata-rata per ha mencapai 4 sampai 4,7 ton dan dengan bibit unggulan dan pupuk berimbang akan ditingkatkan menjadi 7 sampai 8 ton per ha.

Dari 16 kecamatan di Gowa ada lima yang menjadi sentra produksi untuk gerbang emas, yakni Kecamatan Pallangga, Barombong, Bonto Nompo Utara, Bonto Nompo Selatan, dan Bajeng dengan target rata-rata tiap kecamatan 200 ha.

Dikonfirmasi mengenai hama yang menyerang persawahan di beberapa kecamatan yang mengakibatkan terjadinya gagal panen, Mapparenta mengatakan, hal itu tidak ada sebab laporan yang diterima dari petugas pertanian semua baik. "Kalau ada sawah yang gagal saya yakin hanya beberapa hektare dan itu diakibatkan karena genangan air," katanya.

Ketika diperlihatkan sampel tanaman padi yang diperoleh dari petani di Barombong, Mapparenta tampak tercengang. "Wah ini belum ada laporannya dari pengamat hama dan penyakit (PHP)," tandasnya seraya memanggil Kepala Sub Dinas Produksi Padi dan Palawija Dinas Pertanian Tanaman Pangan Gowa, Abd Rauf untuk memberi penjelasan.

Menurut Rauf, selama ini tidak pernah ada laporan dari Kantor Informasi Penyuluhan Pertanian yang berpusat di Bajeng dan juga dari PHP kecamatan menyangkut masalah itu. Dia juga membantah kalau serangan hama tersebut mencapai ribuan ha. "Serangan itu tidak sampai ribuan hektare," katanya.

Sebenarnya, tambahnya, tanpa dikunjungi petugas pertanian, para petani sudah dapat membaca tanda-tanda adanya hama karena mereka sudah diberikan pelatihan dan diajarkan melalui Sekolah Lapang Pengendalian Hama Terpadu.

Hama yang menyerang tanaman padi tersebut adalah jenis hama Beluk, serangan itu terjadi pada usia tanaman menjelang bunting atau sekitar 80 hari dan menyebabkan gagalnya produksi buah. Untuk mencegahnya harus lebih dini disemprotkan pembasmi hama jenis Furadan. [Pembaruan/M Kiblat Said]


Last modified: 6/4/06