[SURABAYA] Polda Jawa Timur (Jatim) sudah menerjunkan tim pengusut dugaan kasus penerimaan calon pegawai negeri sipil (CPNS) khusus dokter spesialis bermasalah di Pemprov Jatim. Tim sedang menelusuri mulai proses lolosnya kelengkapan dokumen dua oknum dokter umum mengikuti pendaftaran rekruitmen CPNS dokter spesialis yang ditangani Dinkes Pemprov Jatim bekerja sama dengan Puskom Institut Teknologi 10 Nopember Surabaya (ITS), hingga pengumuman penerimaan melalui media massa.
"Kita sudah terjunkan tim dan kini sedang meneliti adanya dugaan dari oknum pejabat teras Pemprov Jatim maupun dari RSUD Dr Soetomo Surabaya yang disebut-sebut menerbitkan surat sakti guna meloloskan kedua oknum dokter umum itu," ujar Kapolda Jatim, Irjen Pol Herman Suryadi Sumawiredja di Surabaya, Kamis (6/4).
Dikatakan, langkah Polda Jatim didukung Gubernur Jatim, Imam Utomo guna menemukan duduk perkara sebenarnya. "Selain birokrat, masyarakat profesi (kedokteran) guna menuntut agar kami dapat menyingkap kasus ini guna menjawab sederetan pertanyaan yang terjadi seputar penerimaan CPNS tenaga dokter spesialis hingga terisi tenaga dokter umum," katanya sambil tidak menampik bahwa dalam kasus itu ada kemungkinan merupakan hasil konspirasi beberapa pihak.
Sebagaimana terjadi, dalam pengumuman penerimaan CPNS 2006, terdapat dua oknum dokter umum yang diterima mengisi lowongan dokter spesialis Pemprov Jatim. Penerimaan kedua oknum bernama dr Mva dan dr Rmb yang faktanya baru saja masuk program pendidikan dokter spesialis (PPDS) FK Unair, kemudian dipergunjingkan para dosen dan dokter spesialis di FK Unair dan para dokter umum dan spesialis di RSUD Dr Soetomo Surabaya. Muncul kemudian isu santer, bahwa ada kemungkinan jika keduanya tidak menggunakan surat sakti, diduga menggunakan ijazah dokter spesialis palsu.
Mva adalah putera Dekan FK Unair Prof dr MS Wiyadi. dr Rmb yang menyerahkan masalah itu ke Dinkes Pemprov dan Stkom ITS, adalah putera Kepala Bagian Kardiologi/SMF) RSUD Dr Soetomo, Surabaya, dr M Yogiarto SpJP. [070]