![Nelayan menganggur [Pembaruan/Luther Ulag]](06nelaya.gif)
Siang itu, terik matahari terasa membakar kulit. Beberapa warga berteduh di serambi-serambi rumah sambil menikmati makan siang. Kepenatan yang begitu terasa ternyata tidak terlalu dihiraukan oleh Ujang (43), warga Kamal Muara, Jakarta Utara.
Saat ditemui Pembaruan, laki-laki pendatang asal Sawangan, Depok itu, terlihat tekun merapikan jemuran ikan-ikannya meski matahari begitu terik. Satu demi satu ikan berukuran kecil tersebut dirapikannya.
Menurut dia, ikan-ikan yang beragam jenisnya itu masih bermanfaat daripada terbuang begitu saja. "Lumayan buat ikan asin. Kalau enggak, bisa juga buat bahan membuat terasi," ujarnya.
Meski tidak bekerja sebagai nelayan yang mencari ikan ke laut, Ujang dapat merasakan kesulitan yang saat ini dihadapi para nelayan. Sebab, tuturnya, kondisi yang serba sulit tersebut juga sangat berdampak bagi dirinya. "Kalau hasil tangkapan berkurang, ya berarti kita yang menjualnya kepada para pedagang pun berkurangan," jelasnya.
Dia menuturkan, harga ikan tidak dapat dipengaruhi oleh para nelayan. Harga tersebut, terbentuk dari proses mekanisme yang terjalin antara penawaran dan permintaan ikan. Jika ikan yang diasupkan para nelayan sedikit jumlahnya, maka harga ikan akan turut naik. Begitu sebaliknya.
Namun, kenaikan harga ikan tidak serta-merta berdampak positif kepada para nelayan. Sebab, tutur dia, para nelayan saat ini sedang terhempas oleh berbagai badai persoalan.
"Mulai dari kenaikan harga BBM, hingga isu formalin yang terjadi beberapa waktu lalu," paparnya sambil terus merapikan ikan-ikan.
Dia menambahkan, persoalan-persoalan tersebut, terasa semakin berat tatkala pemerintah dan anggota dewan, yang seyogyanya diharapkan sebagai pengayom, justru berseberangan dengan rakyat. "Banyak warga di sini yang hidupnya sudah begitu sulit. Tidak ada biaya lagi untuk hidup," ujarnya.
Kondisi yang nyaris serupa juga dialami Saleh (45), nelayan di Muara Angke, Jakarta Utara. Karena semakin hari semakin memberatkan nelayan, akhirnya dia meninggalkan profesinya sebagai nelayan.
Saat ini, Jaja bersama sejumlah nelayan terpaksa beralih profesi demi memenuhi kebutuhan hidup yang tidak bisa terhenti sementara seperti pekerjaan mereka.
Menurut informasi yang diperoleh Pembaruan, tidak sedikit para nelayan yang beralih menjadi tenaga pengolah kerang hijau, pencari barang-barang bekas, tukang becak, dan sebagainya. Para nelayan tersebut, tuturnya, menganggap bahwa kesulitan tersebut harus disikapi dengan tepat.
Di satu sisi, dia menyayangkan upaya itu sepertinya tidak mendapatkan respons positif dari masyarakat. Menurut laki-laki yang memiliki dua anak ini, kebijakan reklamasi pantai yang diterapkan oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Jakarta Utara, jelas-jelas akan mematikan usaha para nelayan mencari kerang hijau.
Meskipun mendapatkan uang ganti rugi, sambungnya, hal itu jelas sangat merugikan para nelayan. Sebagai salah satu mata pencaharian masyarakat, melaut merupakan suatu hal yang tidak bisa dipisahkan dari para nelayan.
Dia menambahkan, izin reklamasi pantai yang saat ini dikantongi PT Kapuk Naga Indah (KNI) seyogyanya masih perlu dipertanyakan lagi. "Yang saya dengar, izinnya belum lengkap," imbuhnya.
Rencana tersebut, sambung dia, juga disinyalir tidak sesuai dengan tujuan awal. Diduga, sebuah resor berkelas tinggi akan dibangun di atas lahan hasil reklamasi tersebut. [P-11]