"Selain hobi, umumnya mereka juga tidak ingin ketinggalan dengan kemajuan teknologi. Mereka mampu membeli kamera digital, tapi tidak bisa mengoperasikannya maksimal," kata Taufik.

i sebuah taman yang terbuka dengan rumput hijau, tampak seorang gadis berpakaian cukup seksi tengah bergaya. Ia berpose mulai dari yang biasa-biasa saja sampai yang "agak-agak menantang". Sementara di sekelilingnya terdengar suara "klik" berbagai kamera yang dipegang sekitar sepuluh orang.
Hari itu, di sebuah taman yang sepi, memang tengah ada kegiatan praktik memotret dari sebuah kelas kursus fotografi. Mengasyikkan memperhatikan model yang tengah bergaya. Namun, tak kalah menariknya aksi para pemotretnya. Ada yang membidik sambil tiduran. Ada yang berjongkok. Bahkan ada yang sedikit berakrobat. Apa pun gayanya, yang penting memperoleh sudut pengambilan sesuai keinginan.
Suara-suara "klik" langsung terdengar berbarengan atau bersahutan, setelah instruktur memberikan aba-aba kepada model. Di sela-sela itu, instruktur memberikan arahan untuk menghitung bukaan lensa, kecepatan, dan pencahayaan.
Mengikuti kegiatan kursus fotografi saat ini bukan hanya dilakukan mereka yang benar-benar hobi. Taufik Dasaad, pemimpin sekaligus pengajar di ME Photography Courses (MEPC) di Jalan Hang Jebat Raya, Kebayoran Baru, mengatakan peserta kursusnya sebagian besar justru dari kalangan eksekutif. "Selain hobi, umumnya mereka juga tidak ingin ketinggalan dengan kemajuan teknologi. Mereka mampu membeli kamera digital, tapi tidak bisa mengoperasikannya maksimal," kata Taufik.
Pernyataan Taufik itu mengingatkan pada sosok Sigit Pramono. Direktur Utama Bank BNI itu dikenal sebagai penggemar fotografi, yang dalam berbagai kesempatan menunjukkan kegetolannya berburu foto. Ia bahkan pernah mempertontonkan karyanya dalam pameran tunggal.
Wisnu, peserta kursus fotografi yang memiliki usaha di bidang restoran dan warnet, mengaku mengikuti kursus selain untuk menyalurkan hobi, juga menambah pengetahuan tentang foto, yang nantinya juga bisa dikembangkan jadi sebuah usaha. "Tadinya cuma tahu cara motret asal jadi. Di sini saya baru mengerti bagaimana motret yang bener," katanya.
Andre, yang ikut angkatan pertama di MEPC mengakui keikutsertaannya dalam kursus itu untuk memenuhi keinginan hidup yang lama terpendam. Andre yang mulanya pemusik sebuah band irama Latin, melihat di dunia foto itu ternyata banyak hal yang bisa memuaskan keinginannya. Ia pun banting setir, pindah kegiatan dan menjadikan dunia foto sebagai profesinya. "Di musik saya sudah mendapatkan jalur yang mapan, tapi rasanya kok masih ada yang belum terpuaskan. Waktu saya ikut kursus ini, saya yakin, inilah dunia yang saya cari," katanya, bersemangat.
Tiga Kategori
Berbagai motivasi itu justru membuat Taufik terdorong terus berusaha untuk menyatukan pencapaian hasil yang maksimal. Seperti saat melakukan praktik pemotretan luar ruang atau model, semua mendapat bagian dan kesempatan sama. Tidak mentang-mentang peserta itu seorang big boss di sebuah perusahaan besar, akan mendapatkan kesempatan yang lebih besar. "Kami justru membangun sebuah komunitas yang masing-masing bisa saling berbagi dan saling membantu," Taufik menambahkan.
Hal lain yang diungkapkan peserta kursus adalah keinginan untuk punya sertifikat foto dari fotografer ternama seperti Darwis Triadi dari Darwis Triadi School of Photography atau Taufik Dasaad. "Mungkin yang pertama saya lihat adalah nama pemilik kursus tersebut. Darwis dan Taufik menurut saya sudah tidak asing buat dunia fotografi. Malah banyak teman saya yang foto keluarganya dibuat oleh Darwis. Jadi tidak salah kalau saya memilih nama lebih dulu," ujar seorang pengusaha otomotif yang minta namanya tidak disebutkan dan menjadi peserta kursus.
Kalau sudah memilih nama, maka soal biaya tidak masalah. Umumnya kursus fotografi itu mencantumkan tiga kategori. Kelas Basic, Intermediate, dan Advance. Di Darwis Triadi School of Photography yang berlokasi di Jalan Bangka Raya, Jakarta Selatan, selain tiga kelas itu ada juga kelas Komprehensif, Special Class, dan Basic Intensif.
Tentunya kelas-kelas spesial tadi dibuat karena kebutuhan. Basic intensif contohnya, dilaksanakan pada saat musim liburan atau Ramadan. Dengan waktu yang pendek, dibuat sebuah program di mana siswa diharapkan sudah mampu menguasai dasar-dasar pemotretan yang benar.
Lalu, apa saja materi yang diberikan dalam kursus tersebut? Selain pengenalan dasar fotografi, diberikan juga soal teknik pencahayaan, dasar-dasar komposisi, presentasi foto, pemotretan model, arsitektur, interior, perjalanan, otomotif, perkawinan, bisnis, jurnalistik, seni dan berburu foto.
"Yang paling saya suka adalah saat pemotretan model. Ternyata untuk menghasilkan sebuah foto yang menarik dan ada nilai seninya dari seorang model, tidak gampang. Diperlukan komposisi pencahayaan yang pas dan kerja sama yang baik dengan model itu sendiri," ujar Andre.
Umumnya peserta sangat menyukai saat program berburu foto. Saat itulah mereka bisa beraksi layaknya fotografer profesional. Setelah berhasil merekam objek yang sudah ditentukan, mereka lalu membuat presentasi. Kesukaan berburu foto inilah yang menumbuhkan komunitas pencinta foto, yang kemudian mengadakan kegiatan secara rutin. [Arief Suharto]