SUARA PEMBARUAN DAILY

Penguatan Rupiah Tertahan

[JAKARTA] Nilai tukar rupiah yang tertahan di level Rp 9.000 per dolar Amerika Serikat (AS) setelah sempat menguat ke level Rp 8.985 per dolar AS diperkirakan disebabkan oleh besarnya pembelian dolar oleh bank-bank pemerintah.

Head of Forex PT Bank Permata Tbk Suriyanto Chang di Jakarta, Kamis (6/4) mengatakan, permintaan dolar dari bank-bank pemerintah cukup tinggi. Di sisi lain, bank-bank asing banyak yang melepas dolarnya.

"Kami tidak tahu persis pembelian besar-besaran bank pemerintah itu untuk apa, tetapi yang jelas mereka pasti membutuhkan entah untuk bayar utang atau hanya sekedar hedging (lindung nilai)," kata Suriyanto.

Sementara itu pada pembukaan perdagangan di pasar uang, Kamis (6/4) kurs rupiah diperdagangkan di level Rp 9.005 per dolar AS dan hingga pukul 10.35 WIB rupiah menguat ke level Rp 8.992 per dolar AS.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang dibuka naik 2,613 poin di level 1.347,213, hingga pukul 11.18 WIB naik 7,300 poin ke level 1.351, 900.

Suriyanto mengatakan, kurs rupiah tidak terlalu terpengaruh dengan diumumkannya kebijakan Bank Indonesia (BI) yang tetap mempertahankan suku bunga BI rate 12,75 persen. Sebab, kebijakan tersebut sudah diprediksikan oleh pelaku pasar sebelumnya.

"Untuk beberapa pekan depan kurs rupiah akan konsolidasi dan berkisar antara Rp 8.950 hingga Rp 9.050 per dolar AS," katanya.

Sebelumnya, Gubernur BI, Burhanuddin Abdullah mengatakan, dari hasil evaluasi perekonomian pada triwulan I, maka rapat dewan gubernur (RDG-BI) memutuskan mempertahankan suku bunga BI Rate 12,75 persen.

Selain itu, masih tingginya ekses likuiditas yang belum disalurkan ke sektor riil maka ketentuan giro wajib minimum (GWM) yang berlaku saat ini dipandang masih perlu untuk dipertahankan.

Kendati demikian, BI tidak menutup peluang untuk menurunkan suku bunga BI Rate lebih awal yakni sekitar bulan Mei atau Juni 2006, jika kondisi ekonomi makro kondusif.

"BI bisa saja menurunkan lebih awal dari target sebelumnya pada semester II 2006, asalkan stabilitas ekonomi makro mendukung seperti nilai tukar yang menguat, menurunnya tingkat inflasi, dan surplus neraca pembayaran," kata Burhanuddin.

Dia menjelaskan, kendati terdapat optimisme yang lebih besar terhadap perbaikan kinerja ekonomi, berbagai risiko tetap harus diwaspadai. Risiko tersebut antara lain, tingginya harga minyak dan berlanjutnya kebijakan moneter ketat global. [B-15]


Last modified: 6/4/06