SUARA azan menggema dari menara Masjid Darunnajah. Jarum jam menunjukkan pukul 12.00 WIB, ketika PM Inggris Tony Blair bersama rombongan tiba di kompleks Ponpes Darunnajah I Jl Ulujami, Pesanggrahan, Jakarta Selatan. Cuaca cukup panas, tetapi kedamaian dan pemandangan yang menyejukkan kalbu begitu terasa.
Kampus pesantren itu seolah memancarkan aura kota santri. Tanpa kikuk atau sungkan, PM Tony Blair menyapa ribuan santri dan santriwati yang sudah berjam-jam menunggu kedatangannya di aula pesantren. "Assalamu'alaikum," sapa Tony Blair, PM Inggris dari Partai Buruh tersebut seraya melambaikan tangan. Tepuk tangan hangat para santri seketika itu juga membahana.
Nyaris satu jam, PM Tony Blair berdialog akrab dengan para santri. Ia tak bisa menutupi rasa terkejutnya, ketika para santri dengan begitu lancarnya mengajukan pertanyaan dalam bahasa Inggris. "Oohh, you speak English very well," puji Tony kagum. Sebanyak 3.200 santri di Ponpes Darunnajah I, sehari-harinya memang bercakap-cakap dengan bahasa Inggris dan Arab.
Dalam kesempatan itu, para santri juga melontarkan banyak pertanyaan dan kritik secara lugas kepada Tony Blair. Seperti diduga sebelumnya, dialog PM Inggris dengan para santri Ponpes Darunnajah juga banyak menyinggung kebijakan Inggris di Timur Tengah.
Kritik atas keterlibatan Inggris dalam invasi ke Irak tahun 2003, salah satunya disampaikan oleh Rizky Ramadhan, salah seorang siswa Tarbiyatul Mu'allimin al Islamiyyah, yang ikut hadir dalam dialog tersebut.
Pertanyaan Kritis
"Yang Mulia, pernahkah Anda mengatakan kepada kolega Anda, Presiden AS George W Bush untuk menghentikan invasi di Irak? Mengapa Inggris tetap ikut terlibat dalam invasi itu, meskipun Inggris tahu tindakan tersebut betul-betul salah?" ujar Ramadhan, disambut tepuk tangan meriah hadirin.
"Yang Mulia, Israel telah mempunyai PM baru (Ehud Olmert, ad interim.Red). Tolong katakan kepada beliau agar menghentikan perang dan kekerasan terhadap saudara-saudari kami di Palestina," ujar Helmisya, santriwati Darunnajah.
"I will do that," janji Tony sambil tersenyum.
Tak kalah kritisnya, Ardani, juga siswa pendidikan setingkat SMA di pesantren tersebut, juga mempertanyakan dukungan Inggris terhadap kebijakan invasi AS ke Irak. "Yang Mulia, bagaimana jika Anda bayangkan diri Anda sendiri yang kehilangan anak-anak dan istri akibat perang semacam itu? Sebagai warga sipil, apa yang mau Anda lakukan?" tanya Ardani.
Tony tersenyum-senyum sambil menggeleng-gelengkan kepala. Sejumlah tamu lainnya yang hadir, seperti Dubes Inggris untuk Indonesia Charles Humphrey dan Dubes Indonesia untuk Inggris Marty Natalegawa, ikut tersenyum menyaksikan PM Inggris diberondong pertanyaan kritis para santri.
"Saya dapat merasakan kemarahan kalian, bahwa apa yang terjadi di Afghanistan dan Irak adalah salah," kata Tony yang berbicara didampingi Ketua Dewan Nazir Yayasan Darunnajah KH Jauhari Abdul Jalal Lc, Ketua Umum Pengurus Yayasan Darunnajah H Saifuddin Aries SH,MH, serta Drs H Sofwan Manaf MSi dan Drs KH Mahrus Amin selaku pimpinan Pesantren Darunnajah.
Tetapi, kata Tony, persoalan harus dipahami pula bahwa rakyat Irak dan Afghanistan tidak bisa memilih sendiri pemerintah mereka. Sebaliknya, pemerintah di dua negara itu punya otoritas untuk menentukan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh rakyatnya. Padahal, di negara mana pun, rakyat punya hak sendiri untuk menentukan pemerintah mereka.
"Kalian mungkin akan mengatakan rakyat Irak ingin hal ini. Tapi saya mungkin akan berpendapat, rakyat Irak ingin hal itu. Dari sini, kita tentu sepakat, apa pilihan terbaik bagi rakyat muslim di Irak, adalah pemilu secara demokratis," ujarnya.
Tony berkata, "Bukan saya atau kalian yang menentukan apa yang terbaik bagi rakyat Irak, tetapi mereka sendiri yang menentukan apa yang terbaik bagi negara mereka melalui pemilu secara demokratis."
"Saya dapat memahami kemarahan kalian atas situasi di Irak. Tetapi saya juga sedih, melihat rakyat di negara itu tidak punya hak menentukan pilihan mereka sendiri," sambungnya.
Menurut Tony, kemajuan di Irak dan Afghanistan, berupa digelarnya pemilu secara demokratis untuk membentuk pemerintahan yang baru, harus disambut dan didukung oleh semua pihak. Peluang perdamaian seperti itu pula yang harus diupayakan di Timur Tengah.
Perdamaian
Dalam kesempatan itu, Tony Blair juga mengutarakan keyakinannya, bahwa masyarakat dari negara yang berbeda dapat hidup harmonis dan damai.
Itulah sebabnya, ia menyambut baik kerja sama Ponpes Darunnajah dengan Holy Family Catholic School di Inggris, melalui dibukanya Program Global Gateway.
"Lewat komunikasi di internet, mereka bisa belajar dari kalian, dan kalian sendiri juga bisa belajar dari mereka. Ini penting bagi masa depan kita semua. Sebab, seringkali atas nama agama muncul berbagai perdebatan baik di kalangan Muslim maupun Kristen. Tetapi, saya tahu, sesungguhnya wajah Islam itu sangat humanis dan penuh perdamaian," kata Tony.
Menurut Tony, pemahaman yang lebih baik tentang sejarah dan teologi agama-agama di dunia itu dinilainya sangat penting, agar salah satunya dapat ikut membantu terciptanya perdamaian di Timur Tengah.
"Jika kita dapat menciptakan perdamaian Israel-Palestina, hal itu tidak hanya akan membawa manfaat bagi dua entitas tersebut, tetapi juga berpengaruh besar bagi semua negara di dunia. Kita semua dapat hidup bersama-sama secara harmonis. Saya ingin ada solusi yang baik dan adil bagi Israel-Palestina, dan saya akan bekerja keras untuk itu," tutur Tony menandaskan.
Tanpa terasa waktu terus bergulir. Meskipun percakapan harus berakhir, ada harapan baru muncul dari semua hadirin yang mengikuti dialog.
Sebelum berpisah, para santri menyerahkan cindera mata untuk Tony Blair. Plakat pemberian para santri itu bertuliskan "Bismillahirrahmanirrahim (Dengan Menyebut Nama Allah yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang) - Peace, Love and Friendship". Semoga, damai, cinta dan persahabatan ini dapat sungguh-sungguh terwujud.
PEMBARUAN/ELLY BURHAINI FAIZAL