KUPANG - Pasukan TNI yang tergabung dalam Satuan Tugas (Satgas) Pengamanan Wilayah Perbatasan (Pamtas) hingga Jumat (31/3), masih diperintahkan untuk siaga penuh, setelah wilayah perbatasan Indonesia - Timor Leste ditetapkan dalam status siaga I menyusul memanasnya situasi keamanan di bekas provinsi RI tersebut.
Komandan Resor Mili- ter (Danrem) 161/Wirasakti- Kupang, Kol (Inf) APJ Noch Bola kepada Pembaruan di Kupang, Jumat (29/3), mengatakan, status siaga I masih diberlakukan di perbatasan.
Dia mengatakan, pintu perbatasan akan ditutup apabila terjadi eksodus dari Timor Leste. Sebab, wilayah Indonesia tidak ingin dijadikan basis perlawanan kelompok pemberontak militer yang desersi itu, menyusul pemecatan 600 tentara yang dilakukan Panglima Militer Timor Leste, Brigjen Taur Matan Ruak, 25 Maret lalu.
Dikatakan, informasi yang diperoleh menyebutkan, ratusan mantan tentara yang dipecat itu juga membawa serta ratusan senjata. Sekitar 300 orang yang bersenjata lengkap kini berada di hutan untuk melakukan konsolidasi, sedangkan 300 orang lainnya memilih bertahan dalam kawasan Kota Dili, Ibu kota Timor Leste. Situasi keamanan di kota Dili, makin menegangkan karena aksi kekerasan mulai terjadi pada malam hari dan yang keluar rumah hanya orang-orang yang bersenjata.
Menurut Danrem, rumah Wakil Kepala Kepolisian Nasional Timtim yang letaknya tak jauh dari kantor Kedubes RI untuk Timor Leste di Dili, sempat dilempari.
Beberapa rumah penduduk pada beberapa tempat di kota itu, juga dilaporkan dirusak kelompok bersenjata. Itulah sebabnya, apabila situasi keamanan di negara baru tersebut semakin memanas, diprediksikan terjadi eksodus warga sipil ke wilayah Indonesia.
Ditegaskan, aparat TNI telah diperintahkan untuk bertindak selektif apabila terjadi gelombang pengungsian. Hanya warga Indonesia saja yang akan diterima masuk ke Indonesia, tetapi kalau penduduk asli Timtim yang ikut mengungsi maka kita akan tangkap dan pulangkan mereka ke negaranya. Menurut informasi yang diterima Pembaruan, sudah 20 WNI yang masuk ke wilayah Indonesia dari Timor Leste.
Danrem menambahkan, saat ini aparat Satgas Pamtas yang bertugas di wilayah perbatasan sebanyak tiga batalyon atau 2.227 personel.
Apabila ekskalasi keamanan di Timor Leste makin meningkat, peluang penambahan pasukan tetap ada dan itu menjadi kewenang Pang-lima TNI. Namun untuk saat ini, jumlah ini cukup memadai untuk pengamana per- batasan.
Secara terpisah, Gubernur NTT, Piet Alexander Tallo SH, telah menginstruksikan instansi terkait untuk terus memantau perkembangan yang terjadi di wilayah perbatasan, menyusul meningkatnya ketegangan politik dan keamanan di Timor Leste. Apabila terjadi sesuatu, agar segera diambil langkah-langkah penanganannya.
Dikatakan, koordinasi telah dilakukan dengan unsur-unsur musyawarah pimpinan daerah (Muspida) untuk ikut memantau setiap perkembangan yang terjadi di kawasan perbatasan. Namun, diyakini semua gejolak yang terjadi di negara baru itu bisa diselesaikan secara arif oleh pemerintah setempat, sehingga masyarakatnya tidak perlu resah dan meninggalkan negaranya. (120)