JAKARTA - Usulan hak angket oleh anggota DPR, sebaiknya tidak asal diajukan tanpa persiapan materi yang matang, terutama bila sudah ada pertanda jelas, usulan itu akan gagal. Demikian menurut Wakil Ketua DPR dari Fraksi Kebangkitan Bangsa (FKB) Muhaimin Iskandar, Rabu (29/3) siang.
"Jangan prematur, sedikit-sedikit hak angket," ujarnya, saat ditemui di DPR. Terlalu seringnya hak angket diusulkan, dan sering juga gagalnya, menurut Muhaimin, bakal mencoreng citra institusi, serta seluruh anggota DPR itu sendiri.
Seharusnya, menurut dia, pengusul hak angket lebih dulu mempersiapkan langkahnya dengan baik, sehingga tercapai kualitas dukungan yang baik, antara lain dengan melakukan lobi pada fraksi dan partai. Sebab dukungan anggota DPR dari suatu fraksi, dapat dengan mudah dibatalkan karena keputusan fraksi, yang merupakan bagian dari pelaksana kebijakan partai.
"Kalau belum matang di partai, jangan diusulkan dulu. Tidak perlu selalu hak angket, kan, masih ada hak lainnya, seperti hak bertanya, untuk meminta keterangan langsung," ujarnya.
Masalah itu seharusnya disadari para anggota DPR yang akan mengajukan usulan hak angket. Hingga muncul dugaan, usulan hak angket itu sendiri sekedar permainan sebagian anggota DPR, supaya terlihat garang tapi ternyata tak berisi. Dampaknya masyarakat akan terus mencemooh.
Di tempat terpisah, pengusul hak angket Blok Cepu menegaskan tetap bersemangat untuk menggolkan hak itu di rapat paripurna DPR RI seusai masa reses pada awal Mei 2006.
Hal itu ditegaskan pengusul hak angket Blok Cepu Aria Bima dan Alfridel Jinu di Gedung DPR/MPR Jakarta, Rabu, menanggapi pernyataan mantan Ketua Amien Rais bahwa hak angket Blok Cepu kemungkinan akan menemui jalan terjal.
Aria Bima mengakui bahwa ada pengusul hak angket dari Fraksi PKS mencabut dukungannya. Namun secara resmi, Fraksi PKS belum menarik dukungan. "Itu hanya keputusan pribadi saja," katanya. Dia mengungkapkan, penarikan diri itu didasarkan pada perhitungan bahwa hak agket ini akan sulit digolkan. Hal itu terungkap dalam beberapa kali pertemuan politisi muda lintas fraksi DPR.
Beberapa politisi muda dari PKS menyatakan, hak angket Blok Cepu ini agak sulit digolkan karena adanya tekanan terhadap fraksi. Tekanan itu berasal dari pemerintah maupun Amerika Serikat (AS). Menurut Aria Bima, setiap PKS bermanuver, maka PKS ditekan dan dikaitkan dengan masalah terorisme. Karena itu, anggota Fraksi PKS kemudian sedikit menahan diri.
Mengenai upaya memperkuat "greget" hak angket Blok Cepu, Aria Bima mengungkapkan, setelah anggota DPR menyelesaikan kunjungan kerja (Kunker) ke berbagai daerah dan luar negeri, para pengusul akan menyatukan sikap dengan melakukan "road show" ke sejumlah daerah, perguruan tinggi, LSM dan kelompok-kelompok masyarakat."Kami akan berdialog dengan berbagai pihak bukan saja yang mendukung hak angket Blok Cepu namun juga pihak-pihak paling ekstrim menolak hak angket ini," katanya.
"Road show" dengan kalangan perguruan tinggi diawali dari ITB (Bandung) kemudian UGM (Yogyakarta) selanjutnya ke perguruan tinggi lainya. (B-14/Ant)