Siapa yang tidak kenal Taman Impian Jaya Ancol (TIJA). Pusat rekreasi yang berada di pinggir laut Jakarta Utara itu, memang sangat akrab di telinga masyakara Indonesia. Tidak hanya di Ibukota Jakarta, nama Ancol pun juga terkenal di seluruh Bumi Nusantatara, bahkan mancanegara. Konon, nama Ancol hanya bisa disaingi dengan nama Pulau Dewata Bali.

MESKI sudah terkenal, namun pihak manajemen tidak begitu saja puas. Mereka terus melakukan terobosan. Bahkan yang terakhir ini mereka memiliki tiga target untuk memenuhi kepuasan masyarakat.
Sejak 2005 lalu, manajemen melakukan terobosan dengan mengganti nama dari TIJA menjadi Ancol Jakarta Baycity. Pergantian nama ini sekaligus menandakan bahwa era ini merupakan kelahiran kembali pusat rekreasi Ancol, atau yang dikenal dengan sebutan "Ancol Rebound".
Menurut Manajer Umum Ancol Jakarta Baycity, Bertho Darmo kepada Pembaruan, baru-baru ini, masa Ancol Rebound itu sampai pada 2010. Dan, pada era itulah Ancol memasuki tahapan menjadi Ancol Excellent. Lima tahun kemudian, atau tepatnya 2015. merupakan target puncak Ancol, yakni Ancol Spektakuler.
Bertho yang pada kesempatan itu didampingi Kepala Humas Ancol Jakarta Baycity, Sofia Cakti mengemukakan, Ancol Lahir Kembali (Ancol Rebound) sudah harus dilakukan karena tuntutan pasar sudah mengharuskan pusat rekreasi tersebut berubah.
"Dari hasil survey kami, masyarakat lebih suka jika Ancol berubah, baik nama maupun pelayanan yang diberikan kepada masyarakat sendiri. Karena itulah kami melakukan perubahan-perubahan ataupun terobosan-terobosan untuk memuaskan masyarakat pengunjuung," kata dia.
Untuk tahun ini, terobosan yang dilakukan adalah mengubah beberapa sarana rekreasi, yakni Gelanggang Renang menjadi Atlantis Water Adventure, dan Gelanggang Samudra menjadi The Lost Kingdom.
"Untuk The Lost Kingdom, soft opening-nya baru kami lakukan Minggu (2/4) mendatang," kata dia.
Dia mengemukakan, dalam arena tersebut juga terdapat pertunjukan yang tematik serta theater empat dimensi, di mana pengunjung merasakan feel what you see.
Untuk Dunia Fantasi (Dufan), masyarakat juga disuguhkan film bara Meteor Attack. "Yang jelas, Ancol lahir kembali dengan melakukan inovasi-inovasi," tambah dia.
Dirasakan
Memang harus diakui dan dirasakan, sejak 2004 lalu, manajemen Ancol selalu berbenah diri. Berbagai terobosan selalu dilakukannya.
Sangatlah wajar jika Ancol terus berbenah diri, karena saat ini pusat-pusat rekreasi masyarakat lainnya juga terus berbenah diri. "Kalau kita tidak berbenah diri, bisa-bisa kita ditinggalkan masyarakat," kata Bertho.
Pembenahan diri tidak hanya pada kualitas wahana permainan, tetapi juga dari pelayanan lainnya, seperti perbaikan dan renovasi fasilitas umum, seperti pedestrian yang terdapat di Taman Ancol (Beach Park).
Bertho mengakui, bentuk pedestrian itu mengadopsi dari Gold Coast, Australia. "Tidaklah salah kalau kami mengadopsi yang baik, karena semuanya ini hanya satu tujuan, yakni untuk memuaskan masyarakat pengunjung," kata dia.
Harus diakui, dari sejumlah pusat rekreasi yang ada di Ibukota maupun di negeri tercinta ini, Ancollah yang selalu terdepan dalam melakukan terobosan-terobosan yang membuat decak kagum. "Langkah-langkah itu kami lakukan agar Ancol Spektakuler bisa tercapai," ujar dia.
Meski terobosan-terobosan dan perubahan-perubahan dilakukan, Ancol tetap tidak menghilangkan "lagu lamanya" yakni menjual impian. "Kalau masyarakat ingin membeli impian, datanglah ke Ancol. Kami tidak menyajikan impian-impian indah," kata dia.
Apa pun yang dilakukan manajemen Ancol Jakarta Baycity, tempat rekreasi tersebut masih menjadi nomor wahid di Indonesia. "Tekad kami hanya ingin memberikan yang terbaik bagi masyarakat pengunjung," ujar Bertho.
Jangan Cepat Puas
Manajemen Ancol Jakarta Baycity boleh berbangga hati, karena hingga saat ini baru merekalah yang memiliki pusat rekreasi terbesar, termegah, terlengkap, dan sebagainya, dibandingkan dengan pusat-pusat rekreasi di Tanah Air ini.
Tidak hanya itu, kelengkapan dan kecanggihan wahana-wahana bermain yang mereka miliki juga masih yang terbaik di kawasan Asia Tenggara.
Pengamat pariwisata Adrian Maelite mengungkapkan, dengan segala macam predikat, manajemen Ancol jangan cepat berpuas diri. Selain faktor kelengkapan dan kecanggihan wahana-wahana bermain, kata dia, manajemen Ancol juga harus memperhatikan segi pelayanan yang diberikan kepada masyarakat pengunjung.
Dalam dunia pariwisata, ujar Adrian, yang juga Sekjen Asosiasi Pengusaha Hiburan Indonesia (Aspehindo), faktor pelayanan juga menjadi kunci utama. "Jika pelayanan tidak baik, akan mengurangi citra Ancol itu sendiri. Karena itu, manajemen Ancol jangan cepat berpuas diri," ujar dia.
Adrian juga mengakui, saat ini barulah Ancol pusat rekreasi terlengkap dan tercanggih di Indonesia, dan hingga sepuluh tahun mendatang, sangat sulit bagi pusat-pusat rekreasi lainnya bisa mengimbangi atau melewatinya. Apalagi mereka sudah mencanangkan Ancol Spektakuler pada 2015 mendatang
"Karena itu, Ancol harus tetap menjaga kualitas, baik pelayanan maupun sarana bermainnya," kata dia.
Sementara itu, manajer umum Ancol Jakarta Baycity, Bertho Darmo berjanji akan tetap memberikan pelayanan yang terbaik kepada masyarakat yang mengunjungi Ancol. Pihak manajemen, ujar pria lulusan Universitas Indonesia (UI), sangat menyadari bahwa masyarakat adalah salah satu kunci suksesnya Ancol dalam meraih target di tahun-tahun mendatang. "Tanpa masyarakat, kita tidak akan bisa berbuat apa-apa. Karena itu kami selalu menekankan agar berbuat yang terbaik bagi pengunjung," ujar dia.
Selain merenovasi dan menambah wahana permainan, berbagai acara aktraktif pun digelar manajemen Ancol hanya untuk satu tujuan, yakni menghibur para pengunjung.
Bertho mengemukakan, pada Jumat (31/3) ini digelar acara hiburan "Republik Dangdut" yang melibatkan 250 artis dangdut dari tiga generasi, mulai dari Rhoma Irama, Elvi Sukaesih, Ike Nurjanah, dan artis-artis jebolan Kontes Dangdut Indonesia (KDI).
Dia mengakui, untuk membuka wahana-wahana permainan, pihaknya selalu melakukan studi banding ke pusat-pusat rekreasi terkenal di dunia, salah satunya di Disneyland. Namun, kata dia, pihaknya tidak selalu mengadopsi apa yang ada di sana. "Kita juga selalu punya kreasi tersendiri yang tidak dimiliki pusat-pusat rekreasi di luar negeri," kata dia.
Dia juga mengemukakan, untuk menjangkau masyarakat di luar Pulau Jawa, pihaknya bekerja sama dengan beberapa pemerintah daerah, yakni Buleleng (Bali), Samarinda (Kaltim), dan rencananya DI Yogyakarta membuka "cabang" Ancol di tiga daerah tersebut. "Ini juga salah satu bentuk terhadap masyarakat yang jauh di sana. Dan yang pasti ini juga merupakan kelahiran kembali Ancol," kata Bertho.
Pembaruan/Steven Setiabudi Musa