
Pembaruan/Charles Ulag
Salurkan Kredit - Dirut Bank BNI Sigit Pramono (kanan) didampingi Direktur BNI Fero Poerbonegoro memberikan penjelasan tentang kinerja perusahaan di Jakarta, Rabu (29/3). Selama tahun 2005 BNI mampu menyalurkan kredit sebesar Rp 62,66 triliun atau naik sekitar 8 persen dibanding tahun 2004 yang hanya mencapai Rp 57,9 triliun.
JAKARTA - PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) pada tahun ini akan merestrukturisasi kredit bermasalah. Restrukturisasi dilakukan untuk menekan rasio kredit bermasalah dari 13,7 persen menjadi sekitar 8 persen di akhir tahun.
Direktur Treasury BNI, Fero Poerbonegoro di Jakarta, Rabu (29/3) mengatakan, selain restrukturisasi kredit, manajemen juga akan mengusulkan kepada pemegang saham untuk menghapus buku kredit Rp 800 miliar.
"Dari sisi lain, supaya NPL (Non Performing Loan/rasio kredit bermasalah) turun, manajemen akan meningkatkan penyaluran kredit baru sekitar Rp 6 triliun," kata Fero.
Sementara itu, Direktur Utama BNI Sigit Pramono mengatakan, target penurunan NPL itu, belum memperhitungkan rencana Kementrian BUMN mengusulkan penerbitan Peraturan Presiden (Perpres) untuk menyelesaikan kredit-kredit bermasalah di bank-bank pemerintah baik melalui pembentukan Special Purpose Vehicle (SPV) dan hair cut (pemotongan utang).
"Dengan keluarnya Perpres itu tentu kita akan lebih mudah melakukan restrukturisasi, karena bisa dilakukan hair cut," ujar Sigit.
Kendati demikian, BNI lebih memilih menjual kredit bermasalahnya ke bank yang memiliki SPV ketimbang membentuk SPV sendiri. Sebab, nilai kredit bermasalah di BNI tidak terlalu besar sehingga bisa menjadi inefisiensi jika membentuk sendiri SPV.
Sigit menargetkan, aset BNI akan tumbuh 15 persen, dana pihak ketiga (DPK) tumbuh 9 persen, dan kredit tumbuh 18 persen. Pertumbuhan kredit yang ditargetkan dua kali lipat untuk mengimbangi pertumbuhan DPK tahun 2005 yang lebih cepat dari pada kredit.
Sedangkan, rasio kecukupan modal (CAR) juga ditargetkan tumbuh 15 persen. Hal ini diharapkan setelah penerbitan obligasi subordinasi (sub debt) sebesar US$ 200-300 juta terealisasi tahun ini.
"Sub debt tetap tunggu izin dari BI, tapi tetap lihat kondisi pasar. Tapi untuk meningkatkan modal, BNI tidak punya pilihan lain selain menerbitkan sub debt dan laba ditahan," kata Sigit.
Untuk laba tahun 2005, manajemen BNI akan mengusulkan kepada pemegang saham agar pembayaran dividen rasionya diturunkan dibanding tahun 2004, mengingat hasil yang dicapai tahun 2005 kurang menggembirakan. (B-15)