SUARA PEMBARUAN DAILY

Membuat Perempuan Berdaya di Aceh Utara

Foto PEMBARUAN/UNGGUL WIRAWAN

HASIL KERAJINAN - Hasil produk kerajinan kaum perempuan di Aceh Utara dipajang di kantor Lembaga Pengembangan Bisnis Wanita Mandiri (LPB WM), di Lhok Seumawe, Aceh Utara. Lembaga Swadaya Masyarakat tersebut memberikan pelatihan keterampilan kepada para perempuan untuk membuat berbagai produk kerajinan rumah tangga.

AKIBAT konflik bersenjata dan bencana tsunami, perekonomian Aceh mengalami pukulan telak. Dalam kondisi terpuruk itu, kaum perempuan justru tampil sebagai motor kebangkitan. Di Aceh Utara, mereka aktif mengembangkan berbagai usaha. Ironisnya, laki-laki belum juga termotivasi.

Perempuan Aceh memang mengagumkan. Mereka bukan hanya bekerja keras mengurus rumah tangga. Banyak kaum perempuan bekerja sebagai pencari nafkah utama. Mereka mencangkul di sawah atau di ladang. Lantas, ke mana para pria? Itu cerita lain lagi. Sejak pagi hingga menjelang malam, mereka umumnya lebih suka di warung kopi.

Peran perempuan akhirnya menjadi sangat dominan dalam banyak rumah tangga di Aceh. Tak bisa dimungkiri, nyaris seluruh urusan rumah tangga dipegang perempuan. Bahkan tak jarang, kebutuhan air bersih pun menjadi "kewajiban" perempuan. Setelah bak terisi air bersih, para suami tinggal mandi.

"Laki-laki umumnya cenderung tidak tahu urusan rumah tangga. Bahkan untuk mencangkul sawah dan berkebun, istri mereka yang melakukannya. Tetapi para suami tetap yang menentukan keputusan rumah tangga," kata Ali, seorang warga Lhok Seumawe.

Ali mengatakan penyebabnya kondisi tersebut mungkin bukan hanya soal budaya. Jika mau dirunut-runut, pengaruh trauma Daerah Operasi Militer (DOM) dan konflik bersenjata ikut menjadi salah satu penyebab. Pada waktu itu, kaum perempuan saja yang lebih leluasa bepergian daripada laki-laki.

Perempuan Aceh merupakan ujung tombak perubahan di berbagai bidang. Saat ini, peran perempuan berperan besar dalam perubahan Aceh ke arah yang positif. Bahkan sejak dulu, orang mengagumi sosok Cut Nyak Dhien, panglima perang Aceh yang gagah berani. Ketegaran perempuan Aceh itu telah memberi inspirasi perempuan Aceh di zaman modern untuk membangun Aceh dari keterpurukan.

Berdayakan Perempuan

Sejumlah lembaga swadaya masyarakat (LSM) telah lama mempromosikan program pemberdayaan kaum perempuan. Pascakonflik bersenjata dan bencana tsunami, perempuan Aceh memegang peranan penting dalam rumah tangga. Apalagi banyak di antara mereka yang kehilangan suami, sehingga harus bertahan hidup sendiri.

Atas dasar itu, program sejumlah LSM sengaja diarahkan untuk membuat perempuan lebih mandiri. Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) Aceh Nias telah lama memperkenalkan kegiatan perekonomian untuk kaum perempuan. Tak terkecuali, Lembaga Pengembangan Bisnis Wanita Mandiri (LPB WM) yang berdiri sejak September 2005.

Menurut Koordinator LPB Wanita Mandiri Agustina Elfitria, kehadiran LPB WM bertujuan untuk memberdayakan kaum perempuan Aceh sehingga dapat membantu perekonomian keluarga. LPB WM mengembangkan karakter dan keahlian berbisnis kaum perempuan skala mikro dan kecil melalui pelatihan dan pendampingan dan konsultasi.

"Hingga saat ini, kami telah menjaring sekitar 30 usaha mikro kecil yang dilakukan kaum perempuan. Sebagian besar di antara mereka adalah korban konflik bersenjata dan tsunami. Banyak di antara mereka menjadi kepala rumah tangga yang harus menghidupi keluarga," katanya.

Agustina menjelaskan LPB WM bekerja sama dengan Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas) dan Exxon Mobil Indonesia (EMOI) untuk melaksanakan program-program kegiatan. LPB WM mengadakan pelatihan dan pendidikan keterampilan bagi para perempuan yang ingin membuka usaha mikro kecil. Secara berkala, LPB mengundang pengrajin berpengalaman dari daerah lain untuk mengajarkan keterampilan perempuan-perempuan Aceh Utara.

"Beberapa waktu lalu, kami mengadakan pelatihan membuat kerajinan dari eceng gondok. Kami mendatangkan pengrajin dari Yogyakarta. Sebelum pelatihan, eceng gondok masih dianggap sebagai tanaman tak berguna.

Kini sebagian para perempuan di Aceh Utara ini sudah bisa membuat tas, dompet atau mebel dari eceng gondok," katanya bangga.

Kendala dan Tantangan

Meskipun cukup lama beroperasi, LPB WM bukan tanpa kendala dan tantangan. Para pekerja sosial yang ada mengaku kerap menemui hambatan dan sejumlah persoalan di lapangan. Salah satunya adalah pemahaman untuk memberdayakan perempuan. Tidak jarang, persoalan itu justru muncul dari laki-laki atau para suami.

"Kami harus terus berusaha keras meyakinkan mereka. Kadang para suami itu menanggapi kegiatan kami dengan rasa curiga. Awalnya mereka lebih sering menduga kami akan menawarkan bantuan uang. Setelah ternyata tidak bawa apa-apa, mereka melarang kami," ujar Fasilitator LPB WM Dian Sahor Fonna.

Penolakan

Sikap penolakan terhadap program pemberdayaan perempuan kadang muncul dari para suami. Suka duka itu memang cukup sering dialami aktivis LPB WM. Namun, semangat muda para aktivis LPB WM tidak mudah menyerah. Apalagi sejak menuntut studi di pulau lain, mereka telah bertekad untuk kembali membangun Aceh.

"Susahnya, kami ini seperti menjual omongan saja. Kami tidak bawa apa-apa hanya konsep saja. Kadang-kadang kami dikira 'sales' barang. Untungnya kami adalah orang-orang Aceh asli, jadi mereka bisa sedikit lebih cair," tambah Cut Ita Erliana, yang juga menjadi Fasilitator LPB WM.

Persoalan lain yang juga masih dihadapi adalah pemasaran. Walaupun LPB WM sudah membantu, jaringan pemasaran usaha mikro perempuan Aceh Utara ini masih lemah. Umumnya, sebagian besar produk kerajinan hanya dijual di pasar lokal. Setelah LPB WM berdiri, jangkauan pemasaran sedikit lebih luas hingga ke provinsi lain. Untuk sementara, hasil kerajinan kerap dipasarkan dari mulut ke mulut tetangga, kenalan, dan kios lembaga pendamping di Kota Lhok Seumawe, Nanggroe Aceh Darussalam.

"Para perempuan itu masih sampai sekarang belum menemukan pasar yang tetap. Pembeli kebanyakan hanya kenalan dan pengunjung yang datang melihat. Padahal jika produk mereka bisa diperkenalkan, potensi pasar mereka lebih luas, " tutur Agustina.

Kini Agustina dan kawan-kawan masih terus memperjuangkan program pemberdayaan perempuan. Untuk itu, mereka terus mengupayakan sinergi positif berbagai pihak agar kegiatan ekonomi perempuan di Aceh Utara dan sekitarnya makin meningkat.

Kelak, program-program seperti LPB WM diharapkan bukan hanya berdampak positif bagi perempuan semata, melainkan juga bagi kaum pria. Peran besar perempuan dalam rumah tangga dan usaha barangkali bisa menjadi pemicu semangat positif bagi laki-laki Aceh untuk bangkit maju dan memperbaiki diri.

PEMBARUAN/UNGGUL WIRAWAN


Last modified: 23/3/06