SUARA PEMBARUAN DAILY

Banjir Bandang di Jember Tewaskan 51 Orang

JEMBER - Sedikitnya 51 penduduk Desa Kemiri dan Desa Suci, Kecamatan Panti, Kabupaten Jember, Jawa Timur, dipastikan tewas, dan puluhan lainnya luka-luka akibat banjir bandang bercampur lumpur yang menyapu daerah permukiman di lereng selatan Gunung Argopuro itu, Minggu (1/1) malam hingga Senin (2/1) siang. Selain menelan korban jiwa, puluhan rumah roboh dan hanyut, serta ratusan lainnya rusak.

Diperkirakan masih ada korban jiwa yang belum diketemukan karena tingginya endapan lumpur yang menutup rumah-rumah penduduk di kawasan Dusun Sondong, Dusun Delima dan Gunungpasung, Desa Kemiri, sebagai daerah terparah. Demikian data yang diperoleh Pembaruan dari Pemprov Jatim.

Jumlah korban yang ditemukan masih simpang-siur, namun data yang diperoleh dari Posko Penanggulangan Bencana di Jember hingga Selasa (3/1) menyebutkan, korban tewas 57 orang.

Lokasi yang sulit dijangkau meliputi desa-desa di Kecamatan Panti, antara lain Kemiri, Suci, Panti, Glagahwero, Pakis, yang lokasinya berada di kaki Gunung Argopuro. Di Desa Kemiri terdapat perkebunan dan pabrik kopi milik perusahaan swasta dan Perusahaan Daerah Perkebunan milik Pemerintah Kabupaten Jember. Di desa inilah korban banyak berjatuhan. Untuk menjangkau desa ini membutuhkan waktu dua jam dan jalan menuju ke sana sulit dilalui.

Bupati Jember, MZA Djalal, bersama instansi lainnya langsung memimpin pengevakuasian sekitar 3.000 jiwa dari ratusan keluarga di dua desa yang paling parah itu secara bertahap. Namun, masih ada sekitar 300 jiwa lainnya bersikeras tinggal di Dusun Sondong dan Delimo, Desa Suci, Kecamatan Panti yang terisolir akibat jalan dusun tertutup endapan lumpur setinggi satu meter dan jembatan penghubung putus diterjang banjir.

Banjir bandang terjadi sejak Minggu malam karena besarnya curah hujan di dataran tinggi Jember. Akibatnya, Kali Putih yang alirannya melewati empat kecamatan meluap. Kondisi Desa Kemiri, Kecamatan Panti menderita kerusakan yang paling parah karena wilayahnya merupakan tikungan aliran Kali Putih.

Pengungsi

Jumlah pengungsi yang ditampung di gedung-gedung milik pemerintahan di Kecamatan Panti diperkirakan sekitar 3.000 jiwa lebih. Para pengungsi ini berasal dari Desa Kemirii yang merupakan daerah paling parah.

Ketua DPW Partai Amanat Nasional Jawa Timur Suyoto saat berada di lokasi musibah di Desa Kemiri, Selasa, berharap, penanganan para pengungsi dilakukan dengan baik.''Mereka membutuhkan pakaian layak pakai untuk bertahan selama di pengungsian karena rumahnya terkena banjir lumpur, di samping itu juga sembako, mi instan, air bersih, serta susu untuk bayi karena cukup banyak bayi di tempat penampungan,'' katanya.

Genangan banjir dan lumpur juga melanda ribuan rumah penduduk di sejumlah desa di Kecamatan Tanggul, Kecamatan Bangsalsari dan Kecamatan Sukorambi, yang berada di sekitar Kecamatan Panti. Mereka mengungsi ke tempat-tempat aman, utamanya di pendopo kantor desa dan sekolah dasar setempat. Alat-alat berat yang dikerahkan baru bisa menyingkirkan endapan lumpur di jalan raya guna membuka akses pengiriman bantuan ke tempat-tempat pengungsian sementara.

Keterangan penduduk Desa Kemiri dan Desa Panti, Kecamatan Panti yang berada di pos penampungan pengungsi di Rambipuji menyebutkan, banjir bandang itu terjadi akibat derasnya air hujan selama tiga hari berturut-turut di kawasan lereng Gunung Argopuro yang menjadi lahan Perkebunan Gunungpasang, PTP Kalikepuh dan Perkebunan Widodaren.

Penduduk di dua desa itu mengakui, ratusan hektare lahan hutan di atas dua kawasan perkebunan itu (Gunungpasang dan Widodaren) hampir gundul karena sejak lama menjadi sasaran penebangan liar penduduk yang dimotori oknum pedagang dan aparat tertentu.

Menurut Kepala Bagian Kesra Pemkab Jember Farouq, Dinas Kehutanan setempat pernah melaporkan ancaman banjir akibat gundulnya hutan lindung dan hutan produksi yang ada di lereng Gunung Argopuro. "Kondisinya sudah rusak parah dan harus memakan puluhan tahun untuk memulihkannya sehingga fungsi hutan kembali bermakna," ujarnya.

Sementara itu Deputi Direktur Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Jawa Timur Catur Nusantara mengatakan, kerusakan hutan lindung akibat penebangan liar di sebagian areal Gunung Argopura yang terjadi sejak 1997, diduga sebagai pemicu kerusakan ekologi yang menyebabkan banjir air bercampur lumpur di wilayah Jember.

Dia menambahkan, banjir bandang disertai lumpur tidak terlepas dari volume hujan yang cukup tinggi di sekitar kawasan Gunung Argopuro. Walhi sudah pernah mengingatkan daerah yang potensial rawan bencana alam karena kerusakan hutan lindung di Jember, Probolinggo, Bondowoso, Banyuwangi, Situbondo serta di selatan Jatim, seperti Malang dan sekitarnya.

''Bencana banjir air bercampur lumpur seperti di Jember ini bisa saja terjadi di dae-rah-daerah lainnya yang mengalami kerusakan lingkungan hutan lindung dan hutan produksi, karena berdasarkan prakiraan cuaca bahwa hujan dengan intensitas tinggi masih akan terjadi di Jatim sampai akhir Januari mendatang,''katanya.

Menyelamatkan Penduduk

Gubernur Jawa Timur Imam Utomo Suparno sewaktu meninjau lokasi bencana, Selasa pagi, meminta jajaran Pemerintah Kabupaten Jember segera menyelamatkan penduduk, memperhatikan tingkat kesehatan secara cepat dan tepat, mendirikan tenda-tenda darurat dan dapur umum.

Sementara itu, Pemimpin Kebun PT JA Wattie, Gobang Sapto Aji, menjawab Pembaruan mengatakan, untuk sementara nilai kerugian akibat rusaknya seluruh emplasemen pabrik seluas satu hektare di Afdeling Manggis, 20 hektare lahan tanaman kopi rusak, perumahan karyawan serta rusaknya sebagian pabrik diperkirakan Rp 2 miliar. Sebanyak 80 ton kopi jenis robusta yang sudah diproses dan siap diekspor ke Eropa juga rusak akibat hantaman banjir bandang. Kopi siap ekspor tersebut merupakan produksi stok dan siap dikirim setelah ada permintaan dari luar negeri.

Lahan tanaman kopi yang diterjang banjir bandang ada yang telah ditanam sejak 1926. Tanaman kopi yang masih muda kebanyakan bergeser dari tempat semula, karena kuatnya banjir bandang tersebut. "Tanaman kopi yang bergeser sebagian besar berbuah muda empat hingga lima bulan. Jika tidak ada musibah, kopi tersebut siap dipanen pada Juli dan Agustus mendatang,'' kata Gobang. (080/070/029)


Last modified: 3/1/06