SUARA PEMBARUAN DAILY

Pengelolaan Pusat Primata Diperebutkan?

TERAWAT, bersih, dan nyaman. Itu kesan yang tertangkap mata ketika Pembaruan mengunjungi Pusat Primata Schmutzer (PPS), belum lama ini. Dari tempat penjualan tiket, kandang primata, hingga toilet umum, semuanya tertata dengan standar yang sama. Rasanya seperti mengunjungi kebun binatang di luar negeri, seperti Singapura.

Foto-foto: PEMBARUAN/YC KURNIANTORO

PUSAT PRIMATA SCHMUTZER - Pintu masuk Pusat Primata Schmutzer (PPS) di dalam Kompleks Taman Margasatwa Ragunan, Jakarta Selatan, tampak bersih dan nyaman.

Suasana itu, sama sekali berbeda dengan kondisi Taman Margasatwa Ragunan (TMR) yang menjadi tempat PPS bernaung. Kesan tidak terawat sudah terlihat begitu melewati jalanan dan taman, mulai dari pintu masuk sampai ke kandang-kandang satwa.

Mudah sekali menemukan sampah bekas minuman atau makanan ringan di sepanjang jalan atau taman di areal TMR. Sedangkan kondisi kandang satwa, banyak yang terlihat tidak terawat dan kotor, seperti di kandang burung unta dan gajah.

Ada lagi perbedaan mencolok antara PPS dan TMR. Di PPS, informasi mengenai satwa disajikan secara ditel dan menarik perhatian pengunjung. Setiap primata dijelaskan mulai dari kebiasaan sampai hal-hal yang membuat kehidupan mereka terancam.

Dapat dikatakan, mengunjungi PPS seperti mengunjungi Pusat Peragaan Iptek di Taman Mini Indonesia Indah. Para pengunjung tak hanya dihibur tetapi juga mendapat ilmu pengetahuan yang disajikan dalam kemasan aktivitas rekreasi dan atraksi petualangan.

Yang menjadi atraksi utama di PPS adalah keberadaan jembatan observasi (setinggi bangunan dua tingkat) yang melintang di atas area kandang gorila. Fasilitas jembatan ini, berfungsi sebagai alur utama perjalanan pengunjung selepas melewati area masuk utama yang terlindungi atap canopy.

Dari atas ketinggian jembatan observasi, pengunjung dapat mengamati gorila saat sedang bermain atau beraktivitas sehari-hari. Waktu yang tepat untuk mengawasi gorila pada saat jam makan, yakni pukul 09.00, 12.00, dan 15.00 WIB, berhubung gorila lebih suka berdiam diri dalam sarang gua selagi cuaca matahari terik.

Selama melalui jembatan observasi, para pengunjung juga dapat membaca informasi mengenai keempat gorila asal Afrika yang menjadi primadona PPS. Bukan hanya itu, cara hidup gorila dan kebiasannya juga disajikan dengan kalimat yang mudah dimengerti bahkan dibumbui humor. Seluruh informasi, disajikan dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris.

Taman rekreasi ini, juga dilengkapi dengan fasilitas petualangan yang spesifik, antara lain rumah pohon yang dapat dicapai dengan tangga kayu, jembatan gantung yang terentang dari pohon ke pohon, gua, dan menara rahasia dan tersembunyi guna menjadi arena untuk pengamatan ke kandang binatang.
Semua fasilitas itu, sengaja dibuat untuk melengkapi kawasan PPS yang dirancang menyerupai habitat asli para primata. Dengan pertimbangan menjaga agar primata merasa hidup di habitatnya, para pengunjung dilarang melemparkan makanan atau menyentuh primata.

Hal seperti itu, tak dapat ditemui di TMR. Pengunjung dapat menyentuh dan melemparkan makanan ke satwa. Bahkan, mengelilingi TMR terasa membosankan karena pengunjung tidak diberikan sajian petualangan atau informasi yang menarik mengenai satwa.

Hampir di setiap kandang satwa, para pengunjung TMR hanya bisa menemukan keterangan singkat mengenai jenis satwa dan nama Latinnya, serta daerah asal satwa itu. Tak ada informasi mengenai habitat, kebiasaan, cara hidup, apalagi ancaman bagi satwa dimaksud.

Beda Pengelolaan

Anda tentu bertanya, bagaimana mungkin PPS yang menjadi bagian dari fasilitas di TMR terlihat begitu berbeda dengan kandang satwa lainnya? Penyebabnya, mungkin karena pengelolaan PPS dilakukan terpisah dengan TMR.

Sejak didirikan dan kemudian dioperasikan pada Agustus 2002, PPS dikelola oleh Gibbon Foundation atau Yayasan Gibbon yang memiliki misi melindungi satwa langka, terutama di Indonesia.

Gibbon Faundation tercatat di Liechtenstein, suatu negara di Eropa Tengah yang berada di antara Austria and Swiss. Untuk perlindungan satwa langka, yayasan itu, menghimpun dana dari para donatur di berbagai dunia yang kebanyakan pencinta hewan. Semua keuangan Gibbon Foundation diaudit oleh PricewaterhouseCooper (PwC), kantor akuntan publik bertaraf internasional.

PPS didirikan atas hibah dari almarhumah Puck Schmutzer. Wanita yang lahir pada 1924 dan meninggal pada 1998 itu, dikenal sebagai pelukis dan pecinta satwa. Dengan dibantu Yayasan Gibbon, kekayaan Puck yang dihibahkan, sekitar Rp 75 miliar, digunakan untuk membangun PPS dan membiayai pengelolaannya.

Konstruksi PPS yang dibangun sejak 2000-2002 menghabiskan anggaran sekitar Rp 14 miliar. Sisa kekayaan yang dihibahkan Puck kemudian digunakan untuk pengeloaan PPS, mulai dari perawatan satwa, termasuk makanan dan kesehatan satwa, serta biaya operasional.

Pada 20 Agustus 2002, bertepatan dengan peresmian PPS yang dilakukan oleh Gubernur Sutiyoso, Yayasan Gibbon menandatangani perjanjian kerja sama dengan Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta untuk pengelolaan PPS.

Yayasan Gibbon diberi kesempatan mengelola PPS dan segala pembiayaannya selama tiga tahun. Hal itu, juga terkait dengan keberadaan empat gorila yang dipinjamkan Kebun Binatang Howletts Port Lympne, Inggris.

Pemberian empat gorila yang semuanya jantan itu, tidak terlepas dari hasil negosiasi yang dilakukan Willie dengan pengelola Kebun Binatang Howletts yang sudah berhasil melakukan penangkaran gorila.

Kepercayaan terhadap Willie pula yang membuat TMR melalui PPS menjadi satu-satunya kebun binatang di Asia Tenggara yang diperkenankan Howletts menerima pinjaman gorila sebagai salah satu koleksi.

Sebagai tahap awal, Kebun Binatang Howletts meminjamkan Kumbo, Kihi, Komu, dan Kidjoum, empat gorila jantan yang dilahirkan dari ayah yang sama namun berbeda ibu. Tujuanya, untuk pendidikan sekaligus uji coba perawatan gorila. Pasalnya, kelompok yang mudah dirawat adalah gorila jantan.

Ternyata selama tiga tahun memelihara gorila, PPS dengan 186 karyawannya terbilang sukses. Bukan hanya berhasil menjaga gorila pinjaman itu, Yayasan Gibbon juga berhasil menjadikan PPS sebagai pusat primata terbesar di dunia dengan luas 13 hektare. Saat ini, koleksi Pusat Primata Schmutzer, jumlahnya mencapai 137 primata dari 20 spesies.

BERI MAKAN - Seorang pengunjung memberi makan seekor gajah di Taman Margasatwa Ragunan, Jakarta Selatan, Minggu (11/12). Meskipun telah ada larangan untuk memberi makan hewan, namun pengunjung kerap melanggar.

Polemik

Tapi setelah kerja sama dengan Yayasan Gibbon berakhir pada 20 November lalu, pengelolaan PPS mulai dipermasalahkan bahkan menimbulkan polemik. Ada kesan kesuksesan PPS, membuat TMR ingin mengambilalih pengelolaannya dari Yayasan Gibbon.

Tanpa melibatkan pengurus PPS, Kepala Kantor TMR, Sri Mulyono, melaporkan kondisi empat gorila yang dipinjamkan Inggris, ke Komisi B DPRD DKI. Selain perilaku gorila yang digambarkan beringas dan merusak kandang, dia juga mengeluhkan mahalnya biaya perawatan dan makanan gorila.

Atas dasar pertimbangan mahalnya makanan dan perawatan primata, Sri Mulyono lalu mengajukan alokasi dana Rp 4 miliar dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (RAPBD) DKI 2006. Anggaran itu, untuk mengantisipasi kemungkinan pemutusan kontrak pengelolaan PPS dengan Yayasan Gibbon.

"Untuk kelangsungan kontrak atau kemungkinan pemutusan kontrak, kini sedang dibahas antara TMR dan Yayasan Gibbon," kata Sri Mulyono.

Laporan yang disampaikan secara sepihak oleh Sri Mulyono itu, membuat berang anggota Komisi B DPRD DKI. Tanpa mengerti duduk persoalan yang sebenarnya, para wakil rayat itu, meminta agar kontrak yang dilakukan dengan Yayasan Gibbon dievaluasi karena bisa merugikan Pemprov DKI. Bahkan, mereka mencurigai ada motif tertentu dari Kebun Binatang Howletts karena meminjamkan empat gorila yang semuanya jantan.

Tapi, pertanyaan yang dilontarkan beberapa anggota Komisi B DPRD DKI itu, justru terdengar aneh. Bagaimana bisa merugikan Pemprov DKI, jika sejak pembangunan PPS sampai pengelolaannya selama tiga tahun ini, seluruh biaya ditanggung Yayasan Gibbon. Pemprov DKI sama sekali tidak mengeluarkan uang satu rupiah pun.

Bahkan, pendapatan dari penjualan tiket masuk ke PPS yang sebesar Rp 5.000 pada hari libur dan Rp 3.000 pada hari biasa, serta Rp 2.000 untuk anak-anak, selama ini disetor ke kas daerah.

Pendapatan dari tiket masuk PPS selalu meningkat dari tahun ke tahun. Pada 2002, hasil penjualan tiket mencapai Rp 614,3 juta, padahal pusat primata itu hanya beroperasi selama empat bulan. Penjualan tiket terus meningkat menjadi Rp 1,382 miliar pada 2003 dan Rp 2,19 miliar pada 2004.

Yang lebih aneh lagi, bagaimana bisa Sri Mulyono berbicara panjang-lebar soal kondisi gorila, tanpa melibatkan perawat atau pengurus dari Yayasan Gibbon yang selama ini menjadi pengelola PPS.

Hal ini, yang kemudian diprotes Manajer Operasional PPS, Made Wedana. "Ini kan, lucu. Kami yang diperbincangkan, tapi kami tidak pernah diundang untuk membicarakan pengelolaan PPS," katanya.

Dia mengungkapkan, sebenarnya Yayasan Gibbon masih berniat melanjutkan kerja sama untuk pengelolaan PPS. Hal itu, dibuktikan dengan mengajukan konsep perjanjian kerja sama lanjutan, sejak Juli 2005.

"Tapi konsep tersebut, belum mendapat tanggapan lebih lanjut dari TMR dan Pemprov DKI. Padahal, kami sudah merancang banyak konsep untuk pengembangan PPS agar lebih maju lagi," ujar Made. Kalau sudah begini, rasanya kita patut bertanya, kenapa TMR terkesan ngotot ingin mengelola PPS? Kenapa juga dananya sampai Rp 4 miliar?

Pembaruan/Jeanny Aipassa


Last modified: 12/12/05