MEDAN- Kalangan ibu rumah tangga di kota Medan, Sumatera Utara (Sumut) menolak rencana Pertamina menaikkan harga elpiji sebesar 41 persen yang ditetapkan pemerintah pada awal Tahun 2006 mendatang. Pasalnya, kenaikan itu dinilai sangat memberatkan kehidupan masyarakat apalagi setelah kenaikan bahan bakar minyak (BBM) yang baru ditetapkan pemerintah 1 Oktober lalu. "Aduh jangan dululah. Masa elpiji harus naik lagi sih? Ampunlah,"kata Marni, salah seorang ibu rumah tangga penduduk Jalan Turi Medan yang dimintai komentarnya, Sabtu (27/11) pagi.
Karena hingga kini, kata Marni, keluarganya sudah merasa sangat kewalahan dengan kondisi kehidupan pasca kenaikan BBM lalu. Saat ini pengeluarannya untuk biaya kebutuhan rumah tangga, transportasi, dan kebutuhan lain anak-anaknya yang masih bersekolah saja telah meningkat hampir dua kali lipat. "Sekarang ini, untuk mencukupi hidup sudah sesak napas. Tiap bulan harus ngutang. Dulu nggak separah ini.Kalau elpiji naik, bagaimana lagi nasib masyarakat ini,"kata istri seorang pegawai swasta itu.
Hal serupa juga diungkapkan oleh para mahasiswa dari luar kota yang selama ini kost di Medan.
"Dampaknya juga sangat besarlah. Karena harga makanan, mau tidak mau akan naik. Otomatis jatah kiriman dari kampung harus diirit lagi. Karena kalau minta tambah kiriman, bisa dibilang tak tahu diri sama orang tua namanya. Untuk bisa kuliah saja sudah syukur. Susah memang,"kata Mangasi Sidabutar, mahasiswa di Institut Teknik Medan secara terpisah.
Marwoto, seorang pedagang gorengan kaki lima yang berjualan di pasar Simpang Limun Medan, mengkhawatirkan, kenaikan harga elpiji tersebut diperkirakan akan kembali menurunkan daya beli masyarakat.
"Termasuk dagangan saya. Karena bagaimanapun saya harus naikkan harga dagangan karena menggunakan gas. Cuma bingung mau naikin berapa. Soalnya harga gorengan saya naikkan karena harga BBM naik, pembeli gorengan saya sudah menyusut. Jadi serba salah memang. Kalau bisa memilih, pemerintah lebih baik nggak usah dinaikkan harga lagilah,"katanya.(151)