JAKARTA - Orang miskin akan melahirkan generasi baru yang juga melarat, kata sebuah mitos. Tetapi tampaknya adagium klasik yang sukar dibantah tersebut tidak akan berlaku bagi masyarakat Provinsi Riau, terutama di tahun-tahun mendatang.
Pasalnya, sejak dua tahun terakhir, pemerintah provinsi dan DPRD setempat telah bertekad memfokuskan pembangunan pada sektor pendidikan.
"Kami sadari, pembangunan pendidikan tidak akan penuh gebyar dan sepi publikasi. Tetapi itulah kunci utama kalau kami ingin maju," kata Gubernur Riau, Rusli Zainal, di sela-sela acara Rapimnas Partai Golkar di Jakarta, Jumat (25/11).
Menurut Rusli, selama ini berkembang adagium baku seputar kemiskinan, yang mengasumsikan bahwa kemiskinan itu seolah lingkaran
setan tanpa ujung pangkal. Orang miskin, menurut mazhab pemikiran tersebut, sukar untuk keluar dari perangkap tersebut, sehingga kalaupun mereka melahirkan keturunan, biasanya generasi yang lahir itu hanya akan menggenapi lahirnya satu generasi kaum miskin baru.
Menurut Rusli, adanya kesadaran masyarakat serta dukungan kalangan legislatif setempat, sejak dua tahun lalu Pemprov Riau berhasil menggulirkan proporsi yang lebih layak bagi anggaran dunia pendidikan. "Proporsi anggaran pendidikan saat ini sekitar 24 persen dari total APBD Provinsi Riau yang besarnya sekitar Rp 2,6 triliun," kata Rusli. Proporsi tersebut merupakan yang tertinggi untuk seluruh Indonesia.
Rusli menyatakan, bagaimana mungkin daerahnya bisa mengejar ketertinggalan di banding provinsi-provinsi lain di Jawa, bila pendidikan masyarakat tidak mendapatkan perhatian dan prioritas dalam program pembangunan daerah.
Persoalannya, sampai saat ini saja Riau masih memiliki berbagai kendala dalam dunia pendidikan, terutama soal jumlah dan mutu guru, serta
fasilitas infrastruktur. "Untuk guru saja, Provinsi Riau masih memerlukan setidaknya 13 ribu orang," tambah Rusli.
Karena itulah, maka gubernur yang di masa mudanya selalu menjadi pelajar teladan itu kini menggulirkan kerja sama dengan Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan Universitas Riau, untuk menjaring sebanyak mungkin kalangan siswa SMU yang berminat menjadi guru. Setelah
berbagai penjaringan dan tes, mereka yang lolos ini langsung mendapatkan besiswa penuh untuk menjadi mahasiswa di FKIP universitas tersebut. Program yang sudah bergulir sejak awal terpilihnya Rusli menjadi gubernur itu, diyakininya mampu mencetak guru-guru
yang lebih kapabel dan profesional.
Sadar bahwa satu cara saja tidak akan mampu membuat lompatan mutu SDM, Pemprov Riau juga menggulirkan beragam program berkaitan dengan pendidikan. Dana yang cukup membuat pemerintah setempat mampu menebar beasiswa bagi para pelajar, baik SD, SMP, maupun SMU.
Hasilnya, dalam beberapa tahun terakhir mutu pelajar Riau terlihat menanjak drastis. Dalam beberapa kali Olimpiade Fisika, baik di tingkat nasional maupun internasional, pelajar Riau selalu menyabet penghargaan.
Kepedulian Pemprov, khususnya gubernur yang begitu besar terhadap dunia pendidikan itu, tentu saja menerbitkan apresiasi pemerintah. Minggu, (27/11) besok, Gubernur Riau, Rusli Zainal kembali mendapat
penghargaan dari pemerintah dalam bidang pendidikan.
Penghargaan itu akan diberikan Wakil Presiden Jusuf Kalla, besok, bertepatan dengan peringatan Hari Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI), di Solo, Jawa Tengah. Penghargaan sejenis, yakni karena
kepedulian Pemprov Riau memberantas buta huruf, juga pernah diterima Rusli Desember 2004 lalu dari Menteri Pendidikan Bambang Sudibyo. (M-16/N-6)
