JAKARTA -Pembangunan Pusat Pelatihan Multifungsi Polri di Cikeas, Bogor, Jawa Barat, sejak awal tahun 2005, bertujuan untuk pengembangan sumber daya manusia (SDM) Polri ke depan. "Jadi tidak benar kalau pembangunan Pusat Pelatihan Multifungsi itu sebagi proyek yang menghambur-hamburkan uang," kata Kepala Divisi Humas Mabes Polri Irjen Pol Aryanto Anang Boedihardjo kepada Pembaruan, di kantornya, Jumat (25/11).
Aryanto mengatakan seperti itu untuk menanggapi pernyataan Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW) Neta Sahputra Pane, sebagaimana dilansir harian ini, Senin (21/11), yang mengatakan, pembangunan Pusat Pelatihan Multifungsi Polri di Cikeas tidak lebih dari proyek penghambur-hamburan uang negara yang dilakukan oleh para petinggi Mabes Polri. "Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) perlu segera mengaudit proyek pembangunan Pusat Pelatihan Multifungsi Polri itu," kata Neta Pane.
Mantan Kapolri Jenderal Polisi Da'i Bachtiar, ketika masih menjabat Kapolri, dalam rapat kerja dengan Komisi III DPR, awal Juni 2005, mengatakan, pembangunan Pusat Pelatihan Multifungsi di Cikeas itu merupakan bagian dari pengembangan sumber daya manusia Polri ke depan. "Polri ke depan harus lebih profesional daripada yang sekarang. Untuk itu salah satunya kita sedang membangun pusat latihan terpadu di atas lahan seluas sekitar 52 ha di Cikeas," kata Da'i Bachtiar (Pembaruan, 25/6).
Menurut Aryanto, Pusat Latihan Multifungsi Polri itu dibangun di atas lahan seluas 52,5 hektare. "Lahan seluas itu merupakan milik Polri sejak dulu," kata dia.
Dikatakan, di atas lahan itu ada beberapa aspek penting yang dibangun, yakni prasarana utama, terdiri dari gedung pertemuan (aula), pintu gerbang, jalan beraspal, pagar lingkungan area, lokasi perparkiran, pemakaman dan penerangan.
Tempat pemakaman, kata dia, disiapkan untuk anggota Polri yang gugur di medan pertempuran atau dalam tugas, yang tidak memenuhi syarat untuk dimakamkan di Taman Makam Pahlawan. Fasilitas Pemakaman itu terdiri dari pintu gerbang makam, area perparkiran, relokasi Taman Makam Bahagia dan Makam Kemuliaan, pagar dan penerangan.
Aspek penting lainnya, kata Aryanto, adalah perkantoran dan perumahan dinas Unit Satwa Polri, yang meliputi perkantoran, relokasi rumah dinas anggota, fasilitas jalan dan penerangan serta areal jalur hijau.
Menurut Aryanto, sumber dana untuk membangun semua fasilitas tersebut di atas menggunakan dana APBN anggaran 2005, dana non APBN serta dana dari Yayasan Brata Bakti Polri. Aryanto melanjutkan, pembangunan prasarana utama dan lapangan latihan (landasan pesawat) menghabiskan dana non APBN sebesar Rp 42 milliar.
Aryanto membantah keras kalau Pusat Pelatihan Multifungsi di sana tidak pernah digunakan. Sebab, pelaksanaan Hari Ulang Tahun Bayangkara Juli 2005 dilaksanakan di sana. Selain itu, di sana selalu ada petugas Satwa termasuk Satwa yang selalu dilatih.
Dikatakan, tergelarnya pembangunan Pusat Pelatihan Multifungsi tersebut realisasinya masih terus berlangsung dengan didukung perawatan atas fasilitas yang telah selesai dibangun oleh pihak kontraktor. Oleh karenanya terdapat fasilitas (tanah) yang mengalami erosi dan pemulihan pembangunannya berada di tangan pihak kontraktor sampai Maret 2005.
Pembangunan di sana, kata Aryanto masih berlangsung dan pada hari liburan Lebaran 2005 yang lalu para pekerja pulang ke kampung mereka. Walaupun demikian, di sana pasti selalu ada sejumlah anggota Polri yang berjaga.
Pemantuan Pembaruan, Jumat (25/11), pintu gerbang masuk Pusat Pelatihan Multifungsi itu selalu dijaga empat orang anggota Polri yang bersenjata lengkap. (E-8)