SUARA PEMBARUAN DAILY

Waspadai Banjir

Musim penghujan, merupakan waktu yang selalu harus diwaspadai mereka yang tinggal di dekat kali atau pun di daerah yang menjadi langganan banjir. Pasalnya, hampir setiap tahun, warga Jakarta yang berada di daerah rawan banjir selalu mengalami nasib serupa, yakni rumah tergenang, barang-barang elektronik rusak, dan mereka pun terpaksa harus pindah ke tenda darurat atau rumah saudara serta tetangga. Belajar dari pengalaman tahun-tahun sebelumnya, ada baiknya warga lebih waspada dan melakukan berbagai antisipasi menghadapi datangnya banjir di musim penghujan kali ini.

Banjir... Itu mah Biasa!

PEMBARUAN/YC KURNIANTORO

PASCABANJIR - Warga Kampung Pulo, Jatinegara, Jakarta Timur, sibuk membersihkan rumah dan perabotan rumah mereka yang sempat terendam banjir, 2004.

HUJAN menjadi momok menakutkan bagi sebagian masyarakat Jakarta. Terlebih bagi mereka yang tinggal di kawasan daerah langganan banjir atau di bantaran kali, seperti di kawasan Kampung Melayu, Jakarta Timur, Kampung Duri Semanan, Jakarta Barat, dan Penjaringan, Jakarta Utara.

Rasa khawatir air kali akan meninggi dan merendam rumah serta isinya, diakui Rodiah, warga Pademangan, Jakarta Utara, kian meningkat ketika musim penghujan tiba.

"Apalagi kalau hujan sudah turun seharian, saya ngeri air akan masuk ke dalam rumah dan cepat meninggi," jelasnya ketika ditemui Pembaruan, baru-baru ini.

Ancaman banjir, kata ibu dua anak ini, sering kali membuat tidur malamnya tak nyenyak. Soalnya, dia khawatir banjir akan terjadi pada malam hari. "Di musim penghujan biasanya kalau malam kami tidurnya tidak terlalu nyenyak, selalu waspada khawatir air akan masuk ke dalam rumah," ungkapnya.

Sementara bagi Darul, warga Kampung Melayu, air menggenangi rumahnya sampai sebatas mata kaki adalah hal yang biasa. Tinggal di daerah rawan banjir membuat dia dan warga di sekitarnya tak kaget lagi menghadapi air yang datang tiba-tiba.

"Tapi, biasanya kami sudah bisa mengira-ngira kapan kami harus mengungsikan barang-barang ke lantai dua, atau ke rumah tetangga yang memiliki dua lantai," tuturnya.

Jika barang-barang sudah aman dari jangkauan air, jelasnya, warga pun tidak perduli lagi air akan datang menggenangi rumah mereka. "Abis mau diapain lagi, di sini mah emang sudah langganan banjir. Jadi enggak ada persiapan apa-apa untuk mencegahnya, warga cuma pasrah kalau sudah musim hujan," katanya.

Diakui Rodiah, televisi di rumahnya serta kulkas dan kasur sudah pernah menjadi korban keganasan air yang meninggi. Pasalnya, air yang datang tiba-tiba membuatnya tak sempat lagi menyelamatkan isi rumah.

"Barang elektronik kan mudah rusak kalau sudah kena air. Apalagi kasur, sudah lebih dari dua kasur saya rusak karena terendam air. Buat saya yang terpenting adalah keselamatan kami sekeluarga. Kalau harta sih masih bisa dicari, tapi kalau nyawa enggak ada gantinya," jelasnya.

Menurut Rodiah, kerja bhakti di lingkungan rumahnya saat banjir mereda sudah bukan hal yang asing lagi. Tanpa dikomando setiap warga pasti akan kerja keras mengepel dan menyikat rumah mereka dari sisa-sisa air yang datang bersama lumpur dan setumpuk sampah.

"Saat itu adalah saat yang paling melelahkan. Kami jadi kurang tidur dan susah istirahat karena rumah biasanya terasa lembab sampai beberapa hari setelah air surut. Menyikat lumpur yang menempel di kaca dan tembok adalah hal yang sulit. Belum lagi harus mencuci perabot rumah yang ikut terendam air," kenangnya.

Sementara nasib lebih parah dialami Wardi. Pedagang buku yang tinggal di tepi Sungai Ciliwung ini mengaku, tidak bisa lagi berdagang lantaran seluruh buku dagangannya hancur teredam air kiriman dari pintu air Depok, Jawa Barat pada awal tahun lalu.

"Seluruh buku yang menjadi modal dagangan saya musnah karena banjir. Saya pun enggak punya uang lagi untuk modal usaha. Makanya, sekarang banting stir jadi kuli bangunan," katanya sendu.

Tapi meski kerap menjadi langganan banjir, baik Rodiah, Darul atau pun Wardi mengaku, tidak berniat pindah dari rumah mereka. Pasalnya, mereka merasa sudah sangat nyaman tinggal di lingkungan tersebut. Apalagi, rata-rata di antara mereka sudah menempati rumah tersebut lebih dari 10 tahun lamanya.

"Enggak mau pindah dari sini, soalnya meski rumah saya sempit tapi kami sekeluarga sudah terbiasa hidup di sini. Apalagi anak-anak saya, lahirnya kan di sini semua, sekolahnya juga enggak jauh dari sini. Jadi ngapain pindah, biarlah kebanjiran saya sudah terbiasa," kata Darul seraya tertawa.

Hanya, Rodiah berharap, Pemprov DKI lebih cekatan dalam memberikan bantuan pananggulangan banjir. Karena, sering kali mereka merasa kesulitan mendapatkan bantuan peralatan seperti perahu karet.

"Soalnya dulu pernah kami butuh perahu karet tahunya dibilang kempes. Jadinya warga kelimpungan cari bantuan," ujarnya.

Dia juga berharap, Pemprov DKI dapat segera memiliki cara jitu untuk mengantisipasi datangnya banjir tahunan. Sehingga, meski musim penghujan tiba, tapi dia dan kedua anaknya dapat tidur malam dengan nyenyak. Karena, merasa yakin air hujan tak akan bisa menggenangi rumah mereka.

"Enggak tahu bagaimana caranya saya mah kagak ngerti. Cuma saya sih berharap usaha pemerintah lebih keras lagi, supaya rumah saya enggak jadi langganan banjir terus," tandasnya. (Y-6)


Last modified: 26/11/05