
Pembaruan/Luther Ulag
JALAN RUSAK - Sebagian badan jalan Pasar Ikan, Cilincing, Jakarta Utara rusak dan berlubang. Kalau hujan selalu terjadi genangan. Kendaraan yang melintas harus hati-hati. Foto dibuat Jumat (25/11) sore.
JAKARTA - Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta hingga saat ini, masih menetapkan ada 78 titik daerah rawan banjir di ibu kota. Meski demikian, ada penurunan titik rawan banjir selama dua tahun terakhir.
"Sejumlah 78 titik itu, merupakan peta daerah rawan banjir. Tapi dua tahun terakhir, kalau banjir hanya terjadi di 30 titik saja. Artinya, jumlah titiknya berkurang," kata Kepala Dinas Ketentraman, Ketertiban, dan Perlindungan Masyarakat (Tramtib dan Linmas) DKI Harianto Badjoeri, di Balaikota, Kamis (24/11).
Menurut dia, penurunan titik banjir tersebut, antara lain dipengaruhi berbagai upaya yang dilakukan Pemprov DKI untuk mengatasi musibah banjir yang selalu melanda ibu kota setiap tahun. Upaya yang dilakukan antara lain, dengan pengerukan kali, normalisasi saluran, pemeliharaan pompa, dan pembangunan waduk.
Meski ada penurunan titik rawan banjir, namun Harianto meminta masyarakat Jakarta, khususnya yang tinggal di daerah rawan banjir, tetap mewaspadai musim hujan yang mulai datang pada bulan November dan mencapai puncak akhir Desember 2005 hingga awal Januari 2006.
Dia mengungkapkan, pihaknya sudah siap mengantisipasi banjir pada akhir tahun dan awal 2006. Selain peralatan dan perlengkapan antisipasi banjir, sebanyak 14.500 personel Tramtib dan Linmas siap diterjunkan untuk mengurangi dampak yang ditimbulkan akibat bencana.
"Kami juga menyiapkan 323 lokasi pengungsian dan 242 dapur umum untuk melayani penduduk yang terpaksa mengungsi akibat rumahnya terendam banjir," ujar Harianto.
Dia menambahkan, masalah banjir akan terus menjadi pekerjaan rumah Pemprov DKI, selama proyek Banjir kanal Timur (BKT) belum terealisasi. Pasalnya, proyek tersebut, diyakini mampu mengurangi volume genangan air yang menyebabkan banjir di wilayah timur, selatan, dan sebagian wilayah utara Jakarta. (J-9)