SUARA PEMBARUAN DAILY

Palestina Ambil Alih Perlintasan Rafah

AFP/PEDRO UGARTE

PERBATASAN RAFAH - Pemimpin Palestina Mahmud Abbas (tengah) bersama Utusan Khusus Uni Eropa Marc Otte (disamping Abbas) dan Kepala Intelejen Mesir Omar Suleiman yang berjalan di belakang Abbas, dikawal ketat saat memasuki pintu perbatasan antara Jalur Gaza dengan Mesir di Rafah, Palestina, Jumat (25/11).

RAFAH - Upacara membuka kembali perbatasan Jalur Gaza dan Mesir telah berlangsung meriah di Rafah, Jalur Gaza, Jumat (25/11). Untuk pertama kalinya Otoritas Palestina mengendalikan Rafah, gerbang ke dunia luar yang vital bagi perekonomian warga Gaza.

Perlintasan Rafah yang selama ini dikuasai Israel, mulai hari Sabtu (26/11) dikuasai oleh Palestina di bawah pengawasan tim pemantau Uni Eropa. Meski upacara resmi berlangsung Jumat, perlintasan itu baru akan benar-benar beroperasi mulai Sabtu ini.

Pemimpin Palestina Mahmoud Abbas meresmikan pembukaan perbatasan itu dalam suatu upacara. Ia menyebut peristiwa ini "mimpi yang menjadi kenyataan" bagi sekitar 1,3 juta warga Palestina di Jalur Gaza.

Abbas mengatakan, pihaknya berharap pintu baru bagi warga Palestina ke dunia luar itu akan mendorong masuknya investasi. Namun ia menambahkan bahwa pemulihan ekonomi hanya bisa diwujudkan apabila hukum ditegakkan di Palestina. "Kunci ajaib yang bisa memberikan kita segalanya adalah keamanan," katanya.

Seusai memberikan sambutannya, Abbas melakukan tur singkat melintasi perbatasan bersama Kepala Intelijen Mesir, Omar Suleiman. Saat tiba di meja imigrasi, Abbas mengeluarkan paspor diplomatiknya yang berwarna merah dan berkata kepada petugas: "Periksalah".

"Apakah Anda juga harus diperiksa?" tanya Suleiman.

"Anda tidak pernah tahu, saya mungkin seorang buronan," jawab Abbas sambil bergurau.

Kebebasan Palestina

Utusan Uni Eropa untuk Timur Tengah, Marc Otte menilai pembukaan ini bermakna sebagai langkah maju luar biasa demi kebebasan bangsa Palestina. "Ini hari besar. Ini hari bahagia ... pembukaan ini merupakan langkah besar menuju kemerdekaan rakyat Palestina," ujarnya.

Selama ini warga Palestina menyimpan kekesalan bila melintasi perbatasan yang dikuasai Israel. Di perlintasan itu, mereka sering terhambat dan harus menjawab pertanyaan aparat Israel.

"Mulai saat ini, kami benar-benar bebas," ujar warga Palestina, Fathia Najar (55) mengomentari pembukaan Perlintasan Rafah. "Sebelum pembukaan ini kami hidup dalam penjara," lanjutnya.

Perlintasan Penting

Israel menutup perlintasan Rafah tanggal 7 September lalu, tidak lama setelah mundur dari Gaza. Mereka khawatir perlintasan itu dipergunakan untuk menyelundupkan senjata dan militan dari Mesir ke wilayah Palestina.

Pembukaan perbatasan hari Sabtu itu sangat penting bagi warga Palestina. Ini mengingat Gaza tidak memiliki pelabuhan laut, dan Israel menolak mengizinkan pembukaan kembali bandara internasional Gaza.

Awal bulan ini, Menlu AS Condoleezza Rice menjadi perantara kesepakatan antara Israel dan Mesir, yang memungkinkan perlintasan kunci ke Jalur Gaza dibuka kembali.

Menurut kesepakatan itu, kewenangan Palestina di perbatasan tidak dibatasi. Palestina akan mengendalikan perbatasan, namun pemantau Uni Eropa berwenang untuk menahan kendaraan atau perorangan jika mereka dinilai tidak diperiksa sebagaimana mestinya.

Para pejabat keamanan akan mengawasi seluruh pergerakan di perlintasan itu melalui layar televisi dari pangkalan militer Israel tak jauh dari perbatasan tersebut. Namun, Israel tidak memiliki kewenangan untuk memveto orang yang melintas. Meski ekspor tidak diawasi Israel, arus barang ke Gaza sepenuhnya akan tetap di bawah kendali di perbatasan Kerem Shalom.

Warga Palestina akan diperkenankan bepergian dalam konvoi bus antara Gaza dan Tepi Barat mulai bulan Desember, sedangkan konvoi truk diizinkan satu bulan kemudian.

Ada rencana untuk membuka pelabuhan laut, tapi Israel menolak untuk mengizinkan bandara internasional dibuka kembali. (BBC/AP/M-12)


Last modified: 26/11/05