
JAKARTA - Pertunjukan perdana drama musikal The Sound of Music yang digelar Sekolah Pelita Harapan (SPH), tampil memikat. Pementasan yang berlangsung Kamis (24/11) di di Teater Tanah Airku, TMII, Jakarta Timur itu, tidak saja menghidupkan kembali kisah tentang suster Maria dan Kapten Von Trapp, tetapi menunjukkan bahwa tidak ada yang tidak mungkin bagi anak-anak. Mereka bisa berakting, bernyanyi dan menari layaknya pemain teater profesional, tanpa kehilangan keceriaan dunia anak-anak yang polos.
Naskah karya Ridhard Rodgers dengan lirik lagu ditulis oleh Oscar Hammerstein II sesungguhnya memiliki tingkat kesulitan yang tinggi. Pasalnya, para pemain tidak sekadar tampil berakting, tetapi harus memiliki kemampuan olah vokal yang prima. Standar itu berhasil dilewati oleh pemain yang berusia rata-rata lima tahun hingga 17 tahun itu dengan baik. Bahkan beberapa di antara mereka sepertinya bakal meneruskan jejak soprano terkemuka, seperti Aning Katamsi dan Binu Sukaman.
Sesuai naskah aslinya, pertunjukan dibuka dengan setting panggung yang menampilkan latar pilar berbentuk kubah sebagai gambaran biara Abbey di Austria pada tahun 1938 dengan sejumlah wanita yang mengabdikan diri untuk Tuhan. Salah satu diantaranya adalah Maria Rainer (diperankan oleh Sanjana Kush Mahtani), seorang gadis muda yang sedari kecil tinggal di tempat itu. Dia sangat suka menyanyi, sebuah hal yang masih ditabukan di biara kala itu.
Oleh kepala biara, Mother Abbes (Lisa Adiputra) dengan suara soprannya yang memukau, Maria dikirim ke dunia luar. Dia ditempatkan menjadi pengasuh tujuh anak dari Kapten George Von Trapp (Brandon Wirakesuma). Di sana Maria membawa keceriaan yang berhasil mengambil hati anak-anak dan juga sang kapten. Namun benih cinta itu membuat Maria takut dan memutuskan untuk kembali ke biara.
Sebagaimana tontonan panggung, penonton tentu tidak bisa berharap akan menyaksikan pemandangan pengunungan Alpen dan kastil keluarga Von Trapp seperti yang hadir dalam film berjudul sama dengan bintang Julie Andrews dan Christopher Plummer. Meski demikian, SPH menghadirkan tata panggung, dekorasi dan tata cahaya yang sesuai untuk setiap adegan. Seperti ruang keluarga Von Trapp, kamar tidur Maria, biara Abbey, dan rumah kaca. Bahkan dibanding beberapa pertunjukan drama profesional lain di tanah air kualitas properti yang mereka tampilkan terbilang jauh lebih baik, dan lebih mahal.
Dari semua itu, hal yang paling menonjol adalah penampilan para pemain yang sangat memikat. Mereka sanggup membawakan dialog dan syair lagu yang panjang dengan kualias vokal sangat baik. Lagu-lagu klasikal seperti The Sound of Music, My Favorite Things, Do Re Me, Sixeen Going on Seventeen, The Lonely Goatherd, dan Climb Ev'ry Mountain berhasil dibawakan dengan sangat indah.
Padahal lagu-lagu tersebut tidak saja membutuhkan kemampuan vokal di atas rata-rata, tetapi beberapa juga dibawakan dalam pola dialog. Musik orkestra yang menjadi mengiring juga dibawakan dengan sangat baik. Tak heran, setiap akhir lagu penonton terus memberikan sambutan yang meriah.
Penampilan paling menonjol diperlihatkan Sanjana (15), yang memang mendapat porsi yang paling besar dalam pertunjukkan ini. Dia tidak saja bernyanyi dengan baik, aktingnya sebagai Maria yang naif sangat menarik. Penampilan yang menarik juga ditampilkan oleh Audrey Jemima Ruth (5) yang berperan sebagai Gretl, anak bungsu dari Kapten Von Trapp. Kepolosan dan keceriaannya membuat kisah yang temanya cukup berat itu terasa lebih ringan dan ceria.
Penampilan Audrey membuat penonton tetap sadar bahwa pertunjukan itu digelar oleh anak-anak dan bukan pemain profesional. Meski demikian, mereka mampu menghadirkan suasana keharuan, keceriaan sekaligus perjuangan sebuah keluarga dalam meraih kebahagiaan. Suasana itu membuat beberapa kelemahan, terutama dari sisi akting dapat diterima dengan lapang dada. Pergelaran ini masih akan berlangsung hingga Sabtu (26/11) dengan dua kali pertunjukan yakni pukul 14.00 WIB dan 19.00 WIB. (W-10)