SUARA PEMBARUAN DAILY

Temas Line Investasikan US$ 26,025 Juta untuk Tiga Kapal

JAKARTA - PT Pelayaran Tempuran Emas, Tbk (Temas Line) menginvestasikan dana US$ 26,025 juta untuk pembelian tiga kapal pengangkut peti kemas. Pembelian tiga kapal tersebut dimaksudkan untuk merespons meningkatnya permintaan jasa angkutan barang melalui transportasi laut.

"Hingga triwulan III 2005, armada kami yang beroperasi sebanyak 21 kapal, dengan penambahan ini, Temas akan mengoperasikan 24 kapal kontainer pada 2006,"' kata Direktur Utama Temas Line, Harto Khusumo seusai paparan publik di Jakarta, Jumat (25/11).

Dikatakan, dana yang digunakan untuk pembelian tiga kapal kontainer sebagian bersumber dari dana internal perseroan dan sisanya dari pembiayaan perbankan. Dari total transaksi, masing-masing digunakan untuk pembelian MV (Motor Vessel/Kapal Motor) Sainte Baume seharga US$, 5,525 juta, MV Budi Waja seharga US$ 9,875 juta dan MV Montreal Senator seharga US$ 10,625 juta.

Rencana operasi MV Sainte Baume melayani angkutan kontainer Jakarta-Port Klang (Malaysia). Untuk dua armada lainnya langsung disewa oleh APL Ltd Bermuda, katanya.

Sementara itu Direktur Keuangan yang juga merangkap Sekretaris Perusahaan, Roy Kusumaatmaja mengatakan, manajemen dalam pembelian ini harus meminta persetujuan pemegang saham, sesuai dengan ketentuan Badan Pengawas Pasar Modal (Bapepam), sebab sifat transaksi berpengaruh secara material.

"Pembelian tiga kapal kontainer itu memiliki nilai transaksi berjumlah lebih besar dari 10 persen pendapatan perusahaan atau 20 persen dari ekuitas perusahaan berdasarkan laporan keuangan 31 Desember 2004," katanya.

Pengoperasian tiga kapal tersebut akan menaikkan pendapatan jasa Temas line pada triwulan I, 2006 yang diperkirakan mencapai Rp 216,9 miliar atau naik Rp 33,4 miliar.

Laba bersih diperkirakan akan naik menjadi Rp 41,22 miliar atau naik Rp 5,62 miliar. Aset akan bertambah menjadi Rp 913,47 miliar. Dengan demikian, aktiva perseroan naik menjadi Rp 913,47 miliar dari sebelumnya Rp 672,66 miliar. Di sisi kewajiban juga meningkat menjadi Rp 552,45 miliar atau naik Rp 235 miliar dari sebelumnya Rp 317,26 miliar.

Sedangkan, kinerja keuangan per 30 September 2005 tercatat pendapatan jasa Rp 456,08 miliar, beban jasa kapal Rp 301,30 miliar, sehingga laba bersih mencapai Rp 89,58 miliar.

Harto juga menegaskan sikap optimistisnya dengan prospek bisnis jasa pengangkutan laut, sekalipun kondisi ekonomi makro mengalami tekanan. Sektor pelayaran, tidak akan mengalami penurunan, karena kondisi geografis Indonesia yang merupakan negara kepulauan. Perdagangan antar pulau masih akan tetap tinggi, sehingga selama pengiriman barang berlangsung, transportasi laut tetap akan menjadi sarana utama. "Kami kira pertumbuhan industri jasa ini mencapai 15 persen tahun depan," ujarnya.

Volume angkutan barang selama 2005 diperkirakan mencapai 6 juta TEUs (Twenty Equivalent Units) yang mana perusahaan pelayaran asing masih mendominasi jasa angkutan laut khusus untuk angkutan ekspor sebesar 96 persen. (B-15)


Last modified: 26/11/05