SUARA PEMBARUAN DAILY

As Roda KA Patah, Penyebab Anjloknya KA Jayabaya

JAKARTA - Hasil penyelidikan anjloknya KA Jayabaya di Stasiun Cipunegara, Subang, Jawab Barat pekan lalu, menyimpulkan kecelakaan itu akibat patahnya as roda kereta. Selain itu juga terungkap bahwa sebetulnya kejadian tersebut bisa dicegah bila pegawai PT Kereta Api yang berdinas di KA Jayabaya melakukan tugasnya dengan benar.

Demikian disampaikan Direktur Eksekutif Indonesian Railway Watch (IRW), Taufik Hidayat kepada Pembaruan di Jakarta, Sabtu (26/11). "Gejala adanya gangguan pada roda di salah satu gerbong sudah diketahui oleh petugas PPKA (Pengatur Perjalanan KA) di beberapa stasiun sebelumnya, dan dimintakan izin untuk berhenti di stasiun berikutnya," katanya.

Kereta berhenti di stasiun untuk dipemeriksa. Hasil pemeriksaan petugas bagian kereta menyatakan, kereta aman dan bisa melanjutkan perjalanan. Namun petugas tersebut diberi informasi bahwa ada gejala as roda panas dan roda kereta mengeluarkan api. Akhirnya kereta pun melanjutkan perjalanan, akibatnya terjadi kecelakaan karena as roda patah di stasiun Cipunegara, katanya.

Dampak dan akibat kecelakaan tersebut, 7 gerbong anjlok dan miring dan sekitar 600 meter jalan rel rusak, beberapa wesel rusak. Evakuasi gerbong dan perbaikan rel membutuhkan waktu 8 jam lebih, katanya.

Dikatakan, karena lintasan Cikampek-Cirebon merupakan lintasan terpadat di Pulau Jawa, maka perbaikan jalan rel itu menyebabkan beberapa KA diputar lewat jalur selatan, dan beberapa kereta terlambat lebih dari 8 jam, serta ada jadwal yang ibatalkan. Semua ini menimbulkan kerugian.

Prioritas

Secara terpisah Direktur Eksekutif The Indonesian Institute (TII), Jeffrie Geovanie mengatakan, hasil penyelidikan penyebab kecelakaan KA tersebut menunjukkan bahwa pemerintah harus serius membenahi angkutan perkeretaapian. Problem di KA, tidak boleh dianggap ringan dan hal biasa karena kondisinya sudah sangat mengkhawatirkan.

"Hal ini menunjukkan bahwa angkutan massal kereta api belum dianggap masalah yang prioritas yang harus dibenahi pemerintah. Padahal pembenahan KA sudah mendesak dan tidak bisa ditunda-tunda lagi karena angkutan ini menjadi alternatif bagi masyarakat, setelah terjadi kenaikan BBM. Angkutan KA ekonomi menjadi pilihan rakyat, karena relatif lebih murah," katanya.

Yang lebih mengkhawatirkan, tambahnya, adalah kondisi imum (kebal) dari masyarakat bahwa kecelakaan di sektor KA adalah hal yang biasa dan tidak perlu dikhawatirkan. Ini sungguh berbahaya sebab kalau masyarakat melihat seringnya terjadi kecelakaan yang mungkin tidak memakan korban jiwa, itu hal yang biasa, dampaknya pemerintah juga menganggap seringnya kecelakaan kereta juga hal yang biasa.

Dampaknya, tambah Jeffrie, pemerintah tidak pernah tergerak untuk memperbaiki kinerja, pelayanan, dan berusaha meningkatkan di aspek keamanan bagi pengguna angkutan kereta ini. (M-11)


Last modified: 26/11/05