SUARA PEMBARUAN DAILY

Dirut Pertamina Kaget Harga Elpiji Bakal Naik 41 Persen

JAKARTA - Direktur Utama PT Pertamina (Persero), Widya Purnama mengaku kaget dengan munculnya pemberitaan bahwa Pertamina akan menaikkan harga elpiji mulai Januari 2006. Sejauh ini Pertamina masih mengkaji, sehingga belum dapat dipastikan persentase dan kapan mulai diberlakukan kenaikan harga elpiji.

"Saya juga kaget dengan berita kenaikan ini, soalnya semua masih dikaji. Lagi pula harga minyak mentah sekarang turun, jadi bisa saja harga elpiji malah turun. Pokoknya semua masih dikaji," katanya di Jakarta, Jumat (25/11).

Perihal Pertamina akan menaikkan harga elpiji (Liquefied Petroleum Gas/LPG) dari Rp 4.250 menjadi Rp 5.500 hingga Rp 6.000 per kg itu, seperti diberitakan Pembaruan (Jumat, 25/11), diungkapkan Asisten Manajer Pemasaran Elpiji PT Pertamina (Persero), Rosidi Hasyim di Anyer, Cilegon, Provinsi Banten, Kamis (24/11).

Rosidi yang didesak menjelaskan lebih rinci rencana kenaikan harga elpiji, akhirnya membeberkan, bahwa dengan harga jual elpiji saat ini, tercatat sejak September 2005 Pertamina menanggung kerugian hingga Rp 27 miliar setiap bulan. Oleh sebab itu, agar tidak terus merugi, Pertamina akan menaikkan harga elpiji (sekitar 41 persen) menjadi Rp 5.500-Rp 6.000 per kg.

"Kalau sudah ada kenaikan harga itu, kita tidak rugi lagi, malah bisa untung 100 sampai 200 rupiah per kilogram. Dari catatan kami, pada September lalu kerugian sudah mencapai 27 miliar (per bulan). Kalau harga tidak dinaikkan, ya berat untuk Pertamina," katanya.

Permintaan Tinggi

Pernyataan Widya mengenai penurunan harga minyak mentah saat ini yang bisa berimbas pada menurunnya harga elpiji, berbeda dengan penjelasan Direktur Pengolahan Pertamina, Soeroso. Jika menurut Widya, bila harga minyak mentah di pasar dunia menurun maka kemungkinan harga elpiji tidak akan naik tetapi justru menurun. Menurut Soeroso penentu kenaikan harga elpiji bukan sepenuhnya karena naik-turunnya harga minyak mentah dunia.

"Yang lebih berpengaruh terhadap harga elpiji adalah tingginya demand. Semakin tinggi demand maka harga akan semakin naik. Elpiji ini belum sepenuhnya kita produksi sendiri, tetapi juga dari impor," katanya.

Tingginya permintaan akan elpiji, lanjutnya, terlihat dari meningkatnya konsumsi gas secara signifikan mulai 2002. Dari data Pertamina, 2002 konsumsi elpiji per bulan mencapai sekitar 72 metrik ton. Tahun 2001, konsumsi masih berkisar 50 metrik ton per bulan. Tahun 2003, konsumsi meningkat menjadi 83 metrik ton per bulan, dan tahun 2005 diperkirakan meningkat mencapai kisaran 100 metrik ton per bulan.

Elpiji sebagai bahan bakar alternatif yang menurut catatan Pertamina, lebih banyak dikonsumsi kalangan rumah tangga golongan menengah ke atas (70 persen), bisnis elpiji tidak diatur dalam tata niaga. Artinya, sebenarnya tidak ada monopoli dan siapa pun bisa bermain di bisnis ini. Dengan kenaikan harga elpiji secara bertahap sehingga segera mencapai harga keekonomian, diharapkan memberi rangsangan bagi para pemain lain (investor di luar Pertamina) untuk masuk ke bisnis elpiji.

Kilang Pertamina yang memproduksi elpiji saat ini baru kilang Balongan di Indramayu, Jawa Barat dan kilang Balikpapan, Kalimantan Timur. Kapasitas produksi di dua kilang itu baru mampu memenuhi sekitar 70 persen kebutuhan dalam negeri. Kekurangannya, Pertamina membeli di pasar spot dan dari kontraktor kontrak kerja sama. Saat ini harga elpiji di pasar spot US$ 620 per metrik ton atau sekitar Rp 6.500 per kg. (H-13)


Last modified: 26/11/05