SUARA PEMBARUAN DAILY

Refleksi

Dendam

Oleh Timur Citra Sari

TERNYATA kematian Dr Azahari di Kota Batu, Jawa Timur, beberapa waktu lalu tidak selalu disambut dengan helaan nafas lega dan ucapan terima kasih kepada pihak kepolisian karena kesigapan mereka. Sejumlah anggota keluarga korban justru bereaksi sebaliknya. Kata mereka, "Enak betul dia, tinggal mati begitu saja? Mestinya dia menderita dulu seperti para korban yang dia bunuh!"

Senada dengan keluarga para korban bom adalah kemarahan seorang ibu yang mengetahui bahwa hukuman bagi pemerkosa anak perempuannya yang berumur 14 tahun hanyalah selama lima tahun saja! "Penderitaan yang ditanggung anak saya adalah penderitaan seumur hidup," geramnya.

Juga, murka seorang ayah yang hadir di pengadilan dan mendengar keputusan hakim bahwa pemerkosa dan pembunuh keji gadis kecilnya hanya diganjar hukuman penjara selama 15 tahun. Serunya lantang, "Saya naik banding!"

*

PERASAAN sedih dan sakit hati yang berbaur dengan kemarahan dan keinginan untuk membalas dendam, yang dihayati para korban serta keluarga mereka, tentu sangat, sangat, dan sangat dapat kita pahami. Juga, berangkat dari perasaan- perasaan tersebut, keinginan untuk melihat si pelaku dihukum seberat-beratnya, juga dibuat semenderita-menderita-nya, sebagaimana para korban dan keluarga korban dibuat amat-sangat terluka dan menderita, menjadi sesuatu yang tidak lagi mencengangkan kita. Bukankah keadilan memang harus ditegakkan dan diberlakukan?

Sayangnya, keadilan yang kita dambakan tidak selalu kita dapatkan dalam "kemasan" yang kita mau. Baik karena si pelaku kejahatan "mati begitu saja", tanpa sempat mempertanggungjawabkan perbuatannya, atau karena batas hukuman maksimal yang dimiliki sistem perundang-undangan kita memang hanya sampai sebatas itu, atau karena sebab-sebab lainnya, yang jelas para korban dan keluarga korban seringkali "ditinggalkan" dalam keadaan tidak puas, tetap terluka, dan masih sangat marah serta dipenuhi dendam.

*

JELAS sekali dalam refleksi ini kita tidak akan membahas sistem peradilan di Indonesia. Pula, kita tidak akan mendiskusikan bentuk dan lama hukuman yang kita anggap paling tepat bagi para pelaku kejahatan dan kekejian seperti di atas. Namun, sebaliknya, bukan berarti kita tidak dapat melakukan apa-apa. Bukankah, sebagai sama-sama manusia, kita tahu betapa beratnya menjalani hidup yang kita rasakan telah memperlakukan kita secara tidak adil? Juga, betapa susahnya melewati hari demi hari sambil merasakan kemarahan yang membara serta dendam yang menyala-nyala?

Jika betul begitu, paling tidak, kita tahu benar bahwa mengatakan "jangan mendendam, itu 'kan dosa" sama sekali bukan kata-kata yang tepat. Nasihat demikian hanya akan menghasilkan pelototan mata dari para korban dan keluarga mereka, serta juga semburan kemarahan, mana yang lebih dianggap berdosa: memperkosa dan membunuh, atau mendendam? Nah lho, padahal tujuan kita bukan hendak membanding-bandingkan dosa yang satu dengan dosa yang lain!

*

SYUKURLAH, Tuhan lebih piawai daripada kita. Daripada menasihati mereka tentang dosa mendendam, Tuhan justru mengatakan, "Kamu telah mendengar firman: mata ganti mata, gigi ganti gigi...." (Matius 5:38). Tuhan tahu persis betapa hidup yang kita jalani kerap menyajikan pengalaman yang kita rasakan sebagai tidak adil.

Tuhan juga tahu, betapa sakit hati dan marahnya kita ketika perlakuan tidak adil tersebut terpaksa kita telan juga. Karena itu Tuhan sangat mengerti betapa kita mendambakan keadilan yang seadil-adilnya.

Namun, Tuhan tidak berhenti sampai di situ. Tidak hanya menyatakan empati, bahwa Ia turut merasakan kesedihan, sakit hati, bahkan juga kemarahan dan murka para korban dan keluarga mereka, Tuhan tidak ingin para korban dan keluarga mereka terus-menerus membawa kemarahan dan sakit hati sepanjang hidup.

Tuhan ingin, sekalipun sebuah tragedi telah terjadi dalam hidup mereka, para korban dan keluarga mereka tetap dapat memiliki dan menjalani kehidupan yang baik dan "sehat".

Bukankah hidup yang seperti itu adalah keinginan kita juga? Siapakah di antara kita yang ingin melihat anak-anak kita bertumbuh dalam kemarahan dan kebencian terhadap lingkungan sekitarnya? Bukankah kita tidak ingin anak-anak kita menjadi besar dengan pemahaman bahwa dunia ini jahat, dan karenanya harus disikapi juga dengan berlaku jahat terhadap dunia? Bukankah, jika kemarahan dan dendam terus kita kobarkan, kita mengembangkan dunia yang penuh kekerasan? Violence begets violence?

*

KARENA itu, berilah kesempatan pada Tuhan untuk membalut luka hati kita, mengobati dan merawatnya emosi kita. Dan, luangkan waktu yang cukup untuk proses penyembuhan serta pemulihan yang baru dimulai tersebut. Jika untuk sebuah luka akibat jatuh dari sepeda saja butuh waktu beberapa hari, betapa untuk sebuah luka yang disebabkan oleh ledakan bom, atau tindakan perkosaan dan pembunuhan, atau tindakan-tindakan kejahatan lainnya.

Dan, apa peran kita, para tetangga, sahabat, teman, kerabat dari para korban dan keluarga mereka? Sebagai "anak buah" Tuhan, jadilah "anak buah" yang berguna. Yang turut "mengganti plester" korban dan keluarga korban, atau "meneteskan obat antiseptik", atau menghapus air mata kesakitan mereka, atau mendampingi mereka berjalan terpincang-pincang, atau tindakan-tindakan lainnya.

Hingga, dengan pertolongan Tuhan, pada saatnya kelak, para korban dan keluarga mereka dapat mengatakan, "Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat." (Lukas 23:34) Soli Deo Gloria! *

Penulis adalah pendeta Gereja Kristen Indonesia


Last modified: 26/11/05