SUARA PEMBARUAN DAILY

Kemiskinan dan HIV/AIDS

RP Borrong

SETELAH menyebar selama kurang lebih 25 tahun, virus HIV/ AIDS telah menjangkiti lebih dari 60 juta manusia di seluruh dunia dan telah menjadi pandemi global dan karenanya membawa berbagai persoalan moral bagi umat manusia secara global. Barangkali persoalan moral pertama dan utama adalah kurangnya kesadaran betapa berbahayanya ancaman HIV/ AIDS kepada kehidupan dan masa depan manusia.

Baru-baru ini parlemen Asia yang berkumpul di Pattaya, Thailand, menyebut dua hal yang paling berbahaya di Asia masa kini, yaitu flu burung dan terorisme. Keduanya memang telah membunuh ribuan manusia di Asia. Tetapi HIV/AIDS yang telah membunuh lebih dari 20 juta jiwa di seluruh dunia dan ratusan ribu jiwa di Asia, tidak disebut sebagai bahaya yang mengancam kehidupan dan masa depan umat manusia, khususnya di Asia. Padahal justru banyak orang berpendapat bahwa HIV/AIDS adalah masalah paling berbahaya bagi masyarakat global, khususnya Asia.

Donald Messer, (The Asian Face of Global HIV/AIDS scenario, 2005) mengatakan bahwa Asia menghadapi musuh dan teroris yang tak kelihatan yaitu virus yang disebut HIV. Teror HIV/AIDS telah lama menjadi mimpi buruk bagi umat manusia, terlebih oleh karena penyebabnya diketahui tetapi obatnya atau penangkalnya belum ditemukan. Namun, tidak seperti penyakit berbahaya pada umumnya yang sulit diketahui cara mencegahnya, HIV/AIDS sebenarnya diketahui penyebabnya maka mestinya mudah mencegahnya.

Penyebaran virus HIV/ AIDS sering dikait-kaitkan dengan perilaku manusia yang kurang peduli pada moral, khususnya perilaku seksual dan penggunaan narkoba. Tentu saja kita setuju bahwa perilaku seksual yang tidak bertanggung jawab dan penggunaan narkoba telah memberikan kontribusi yang sangat besar bagi penyebaran virus HIV/AIDS.

Namun, akar utama persoalan mestinya ada pada masalah yang lebih besar, yaitu kemiskinan. Kemiskinan membuat umat manusia tak berdaya mencegah penyebaran virus HIV/AIDS. Kemiskinan seolah menjadi sihir bagi ribuan orang untuk dengan suka rela atau terpaksa membiarkan diri dijangkiti virus mematikan tersebut.

Kemiskinan

Karena itu, persoalan moral utama yang terkait dengan masalah HIV/AIDS adalah realitas kemiskinan dan ketidak-adilan. Kemiskinan dan kemelaratan tidak hanya menyebabkan pelacuran dan penggunaan narkoba di seluruh dunia terus bertahan tetapi telah pula meningkatkannya.

Kemiskinan memaksa jutaan perempuan muda turun ke kota-kota besar menjadi pekerja seks komersial dan tidak mampu menghindari mimpi buruk tentang bahaya HIV/AIDS. Kebutuhan untuk menyambung hidup setiap hari baik untuk diri sendiri maupun untuk keluarga, memaksa orang muda melupakan atau tidak peduli pada bahaya HIV/AIDS. Kemiskinan ibarat magnit yang menarik virus HIV/AIDS berkembang dalam haribaannya.

UNAIDS melaporkan (UNAIDS 2004 Report on Global AIDS Epidemic, December 2004), kurang lebih 5 juta lagi manusia terinfeksi virus HIV tahun 2003-2004. Angka-angka yang sangat besar ini tidaklah mungkin semata-mata disebabkan oleh perilaku seksual yang buruk ataupun karena penggunaan narkoba. Akar permasalahan adalah kemiskinan.

Konon, 60 persen manusia yang terjangkit HIV/AIDS adalah perempuan. Dapat dipastikan kaum perempuan tidak lebih buruk moralnya dari kaum laki-laki, tetapi karena kaum perempuan paling mudah menjadi mangsa dari situasi masyarakat yang miskin. Perempuan paling mudah dipaksa menjadi pelacur dan ditambah perilaku kaum laki-laki yang tidak setia, menjangkiti perempuan lain yang menjadi pasangannya.

Kultur dan agama patriarkhispun berperan mendukung tersebarnya virus HIV/ AIDS karena kaum perempuan tak berdaya, tak punya otonomi dan kebebasan melindungi dirinya sendiri. Bahkan ditempat pelacuran, banyak pekerja seks komersial tidak mampu menolak keinginan beberapa lelaki hidung belang yang tak suka menggunakan kondom. Mereka harus pasrah saja menghadapi risiko terburuk dijangkiti bermacam-macam penyakit kelamin, termasuk terjangkit virus HIV/AIDS.

Keadaan itu diperburuk oleh ketidak-mampuan mereka menjaga kesehatan karena dana yang tidak cukup ditambah pendidikan yang sangat minim. Anak-anak yang suka memakai narkoba pun, walaupun sebagian dari anak-anak keluarga kaya, umumnya pelarian atau kompensasi dari berbagai kemelut hidup yang dihadapi.

Menurut laporan tentang penyebaran virus HIV/AIDS di Asia (AIDS in Asia: Face the Facts, a Map Report 2004), seperempat manusia yang terinfeksi virus HIV/AIDS tahun 2003 berada di Asia. Ini tanda buruk karena setengah penduduk dunia berada di Asia.

Menurut Donald Messer (Breaking Conspiracy of Silence: Christian Churches and the Global AIDS Crises, 2004), lebih dari setengah orang yang terinfeksi virus HIV/AIDS terinfeksi melalui hubungan seks komersial. Jadi jelas, kita melihat kaitan yang sangat erat antara penyebaran virus HIV/AIDS dengan masalah kemiskinan, khususnya kemiskinan di Asia.

Menurut Rose Wu (Poverty, AIDS and the Struggle of Woman to Live, 2005), saat ini 7,4 juta orang di Asia terjangkit virus mematikan ini, dan 500.000 orang mati setiap tahun.

Betapa rentannya kaum miskin terhadap virus HIV/ AIDS dan betapa sulitnya mencegah penyebaran virus tersebut, bila tidak ada kemauan yang sungguh-sungguh dari masyarakat global untuk memerangi kemiskinan dan ketidak-adilan.

Pencegahan klasik yang juga ikut dipromosikan oleh Presiden Amerika Serikat adalah pendekatan yang ABC (abstinence, being faithful and condoms: berpantang, setia dan menggunakan kondom), mungkin dapat disebut sebagai pendekatan babat rumput.

Kalau cara itu dianggap sebagai upaya untuk memerangi masalah penyebaran virus HIV/AIDS, sungguh sangat tidak memadai. Hanya orang yang dengan penuh kesadaran melakukan hubungan seks menyimpang yang dapat diajak untuk berpantang, setia dan menggunakan kondom. Masalah HIV/AIDS bukan sekadar masalah hubungan seksual, tetapi masalah pembangunan dan kebijakan pembangunan di dunia.

Selain pendekatan ABC akan ditolak oleh banyak pihak, khususnya penggunaan kondom sebagai cara mencegah dan mengatasi penyebaran virus HIV/AIDS, juga sama sekali tidak akan efektif. Yang harus secara serius dilakukan adalah mengatasi masalah kemiskinan. Pendekatannya adalah melalui kebijakan pembangunan nasional maupun global.

Masalah moral utama dalam menghadapi masalah HIV/AIDS adalah keadilan dalam pembangunan masyarakat global. Ketidak-adilan perdagangan global yang selalu merugikan negara-negara miskin di Asia akan terus mempercepat laju penyebaran virus HIV/AIDS, berapapun sumbangan diberikan oleh negara-negara maju untuk mengatasi penyebaran virus HIV/AIDS, termasuk untuk memproduksi kondom murah.

Saya tak punya data terbaru mengenai berapa persis jumlah orang Indonesia yang telah terinfeksi virus HIV/ AIDS. Data tahun 2003 memperkirakan 13.000 orang, sedangkan angka resmi tahun itu 3.924 terjangkit virus HIV, termasuk 1.239 kasus AIDS. Angka ini sangat kecil dibandingkan dengan Thailand yang mencapai 670.000 kasus. Apakah ini artinya, Indonesia masih tergolong aman dari ancaman virus mematikan ini?

Statistik "gunung es" dari angka-angka kasus HIV/AIDS telah lama menjadi kekhawatiran kita semua. Angka yang ada di permukaan sangat tidak memadai sebagai indikasi atau petunjuk tentang realitas sebenarnya. Realitas yang sesungguhnya di Indonesia adalah tergolong negara termiskin di dunia.

Mungkin kita harus mensyukuri bahwa tebalnya keimanan orang Indonesia menjadi pencegahan utama menyebarnya virus HIV/AIDS, tetapi betapapun kuatnya iman, kalau kemiskinan terus menggerogoti ketahanan masyarakat, bisa dipastikan kasus-kasus HIV/AIDS akan terus menyebar seperti banjir yang melanda semua dataran rendah yang dapat digenanginya.

Gelombang air mata dari kasus-kasus HIV/AIDS yang menjadi identitas Afrika, khususnya Sahara Afrika, sedang bergerak ke Asia dan Indonesia bisa menjadi salah satu negara paling rentan seperti India dan Cina di Asia. Bukan saja karena penduduk Indonesia menjadi penduduk terbanyak di Asia sesudah Cina dan India, tetapi juga karena situasi kemiskinan di Indonesia terus memburuk.

Sudah waktunya pemerintah Indonesia menyikapi masalah HIV/AIDS secara lebih strategis sehingga pendekatan babat rumput melalui metode ABC klasik tidak membuat kita jalan di tempat, sementara aliran virus HIV/ AIDS semakin deras mengalir dalam masyarakat kita seiring sejalan dengan derasnya kemiskinan disebabkan kebijakan pemerintah yang tidak memihak rakyat.

Peringatan Kofi Annan (Sekjen PBB) supaya "membuka konspirasi bungkam" (break the conspiracy of silence) sangat relevan dengan situasi kita di Indonesia. Kofi Annan (Opening Statement, International Partnership Against HIV/AIDS in Africa, 1999) menggaris-bawahi bahwa banyak konspirasi bungkam resmi dari Negara yang menutup informasi bagi masyarakat.

Mungkin yang paling penting untuk dibuka adalah kenyataan bahwa masalah penyebaran virus HIV/AIDS ternyata terkait langsung dengan tingkat kemiskinan masyarakat. Dengan demikian seluruh kebijakan memerangi HIV/ AIDS tidak sekedar menjadi kebijakan babat rumput atau bakar rumput kering tetapi benar-benar mencabut akarnya melalui kebijakan pembangunan yang memihak rakyat miskin.

Kita menantikan kebijakan pembangunan strategis mengatasi kemiskinan di Indonesia sehingga bersama dengan kekuatan moral agama yang dimiliki, kita mampu membendung arus dan gelombang "air mata" HIV/AIDS yang sedang mengalir ke Asia dan ke Indonesia. *

Penulis adalah Ketua STT Jakarta


Last modified: 26/11/05