MANADO - Gubernur Sulawesi Utara (Sulut), Sinyo Harry Sarundajang minta masyarakat di kawasan timur Indonesia menghentikan budaya "Baku Cungkel" atau saling menjatuhkan orang yang telah menduduki satu jabatan dan digantikan dengan orang lain. Padahal yang bersangkutan adalah orang yang berkualitas dan membantu daerahnya. Terutama untuk masyarakat Sulut supaya "budaya baku cungkel" dari jabatan apa saja harus dihilangkan. Budaya tersebut harus diganti dengan, "Budaya Baku Beking Pande" atau saling mendukung menjadi pandai yang dikumandangkan Pahlawan Nasional Dr Sam Ratulangi, "Si Tou Timou Tumou Tou" (ST4) yaitu Manusia yang hidup memanusiakan yang lain
Hal tersebut dikatakan, Gubernur Sulut Drs Sinyo Harry Sarundajang dalam Seminar Nasional dengan "Topik Indonesia di Asia Pasifik Abad 21" dan Peresmian Patong Dr Sam Ratulangi di Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado Sabtu (19/11) malam.
Seminar dan peresmian patung Dr Sam Ratulangi , itu dilakukan, berkaitan dengan HUT ke-115 Pahwalan Nasional Dr Sam Ratulangi, pada 5 November lalu dan juga berkaitan dengan Hari Pahlawan 10 November.
Gubernur meminta masyarakat dan intelektual serta generasi muda Sulut bersatu membangun daerah agar bisa maju dan berkembang di era global di kawasan Asia dan Pasifik. "Janganlah saling menjatuhkan satu sama lain. Karena semua kita bersaudara. Dr Sam Ratulangi memang sudah meninggal 56 tahun lalu. Namun, jasa-jasanya dan pandangan serta pendapatnya harus kita pegang dan jadikan pedoman untuk kemajuan daerah ini dan juga Indonesia terutama Indonesia Timur kedepan,"kata Gubernur.
Menurutnya, semboyan ST4 yang saat ini terus digalakan di kalangan masyarakat sejak lama itu harus dipegang. Bukan, jutru budaya "baku cungkel". Jangan pelihara budaya tersebut. Itu keliru. "Jadi kita harus "Baku Beking Pande". Ini penting dalam kita memajukan daerah dan Kawasan Timur Indonesia. Menurutnya, partisipasi masyarakat Sulut, dalam membangun daerah ini, sangat dibutuhkan sekali. Terutama, kita juga harus tingkatkan kualitas seperti Dr Sam Ratulangi yang jasanya cukup baik dimasa lalu.
Ditambahkan Universitas Sam Ratulangi (Unsrat), sebagai salah satu perguruan tinggi yang besar di Sulut harus terus meningkatkan kualitas dan partisipasi dalam membangun masyarakat.
Selain itu, mendirikan sebuah museum untuk mengabadikan menjadi laboratorium untuk menggali pemikiran dari Dr Sam Ratulangi, yang dipersembahkan untuk kemajuan bangsa dan negara.
Sementara itu, Rektor Unsrat, Prof Dr Ir Lucky Sondakh M.Ec mengatakan Unsrat kedepan, akan terus mengembangkan kualitas dan partisipasi dalam pembangunan Sulut maupun kawasan Indonesia bagian Timur. "Ini yang kita akan lakukan, karena daerah ini memang membutuhkan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas," ujarnya. (136)