BATU - Arman alias Budi Darmawan, salah satu pengawal gembong teroris Dr Azahari bin Husin yang tewas karena bom bunuh diri saat digerebek Detasemen Khusus (Densus) 88 Anti Teror Mabes Polri di rumah kontrakannya di Jalan Flamboyan Blok A1/7, Kota Batu, Jawa
Timur, disebutkan beberapa pihak sebagai Agus Puryanto. Ia pemuda yang selama ini tinggal di rumah pamannya, H Affandi Musthofa di Jalan Gatutkoco, Cemani, Grogol, Sukoharjo, Jateng dan mengajar di TPA Baiturrohman dekat dengan Ponpes Al Mukmin, Ngruki.
Menurut sumber di kepolisian, Affandi Musthofa sendiri hingga kini belum yakin, Arman adalah Agus Puryanto yang sebelumnya ia kenal sebagai mahasiswa jurusan Tarbiyah STAIN Solo tingkat akhir itu.
Dia adalah putra dari Kadi yang tinggal di Pedaplang, Walikukun, Kabupaten Ngawi, Jatim, diakui sejak Agustus lalu menghilang dari rumahnya tanpa diketahui jejaknya.
Agus menurut ke- luarga Affandi hanya pamit pergi agak lama dengan alasan hendak menyelesaikan skripsinya.
Kapolres Ngawi AKBP Basaruddin yang dikonfirmasi, Senin (21/11) pagi, menyatakan bahwa dia belum bisa memastikan, apakah Arman, yang ditemukan tewas itu adalah Agus Puryanto warga Walikukun atau pun Widodaren.
Ia menambahkan, peranan Polres Ngawi dalam beberapa hari ini adalah membantu upaya Densus 88 guna mengungkap jati diri Arman yang tewas dalam penyerbuan di rumah kontrakannya di Kota Batu beberapa waktu lalu.
Sumber di kepolisian menyebutkan, Arman adalah teman akrab Gempur Budi Angkoro alias Jabir yang masih saudara sepupu Fathurrohman Al Ghozi (alm) asal Madiun.
Sewaktu Jabir masih aktif di Pesantren Darusy Syahadah, Boyolali, lelaki bernama Arman itu sering mengunjunginya. Jabirlah yang kemudian berusaha menarik Arman masuk ke jaringan Dr Azahari dan Noordin M Top. (070)