JAKARTA - Proyek pembangunan Pusat Pelatihan Multifungsi Polri di Cikeas, Bogor, Jawa Barat, disinyalir sarat dengan berbagai kecurangan. Selain itu, proyek yang dibangun menggunakan dana termasuk dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga mencapai Rp 53 miliar tersebut kini terbengkalai dan terancam longsor.
Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW) Neta Sahputra Pane berpendapat, pembangunan Pusat Pelatihan Multifungsi Polri di Cikeas tidak lebih dari proyek penghambur-hamburan uang negara yang dilakukan oleh para petinggi Mabes Polri.
"Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) perlu segera mengaudit proyek pembangunan Pusat Pelatihan Multifungsi Polri," kata Neta Pane dalam siaran persnya yang diterima Pembaruan, Minggu (20/11).
Sejak diresmikan pada 1 Juli 2005 hingga kini, Pusat Pelatihan Multifungsi Polri tidak pernah digunakan. Bahkan, tidak ada satu pun aparat kepolisian yang bertugas merawat dan menjaga di tempat itu. "Proyek yang menghabiskan uang negara sebesar Rp 53 miliar tersebut dibiarkan terlantar," ujar Neta dengan nada menyayangkan.
Keberadaan proyek yang menghabiskan dana puluhan miliar itu sangat bertentangan dengan kondisi Polri yang selama ini selalu mengeluh kekurangan dana. Bahkan, dengan berdalih kekurangan dana, pelayanan yang diberikan aparat kepolisian kepada masyarakat seringkali tidak maksimal.
Areal Pusat Pelatihan Multifungsi Polri di Cikeas terdiri dari lima bangunan utama, yakni auditorium pertemuan, joglo, gerbang makam kehormatan dan gerbang makam pemuliaan. Selain itu, di lokasi tersebut ada juga dua areal pemakaman, yakni pemakaman pemuliaan dan kehormatan. Pemakaman pemulian itu sendiri baru diisi sembilan jenazah dan makam kehormatan baru diisi oleh lima anggota Polri.
Tak kalah memprihatinkan, gedung-gedung di pusat pelatihan itu dibiarkan kosong melompong tanpa penjagaan seorang petugas pun. "Gedung-gedung tersebut jadi terlantar karena tanpa ada yang merawat," ungkap Neta lebih jauh.
Beberapa bagian lokasi itu bahkan terlihat mulai longsor ke arah Kali Cikeas, yang mengalir di bagian bawah pusat pelatihan. Sementara lapangan terbangnya mulai terlihat retak-retak dan tergenang banjir jika hujan turun.
Police Watch berpendapat, Pusat Pelatihan Multifungsi Polri merupakan projek mercu suar di era Kapolri Jenderal Da'i Bahtiar yang lokasinya sangat tidak layak dan tidak strategis. "Buktinya, sejak diresmikan pusat pelatihan tersebut tidak pernah digunakan, " Neta mengimbuhkan.
Padahal, dari hasil investigasi Indonesia Police Watch diketahui proyek ini telah menghabiskan dana sebesar Rp 53 miliar. (E-9)