JAKARTA - Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta memperkirakan penyesuaian (eskalasi) nilai proyek yang terkena imbas kenaikan inflasi akan meningkat sekitar 15-20 persen dari anggaran semula.
Proyek-proyek yang akan disesuaikan dengan kenaikan inflasi adalah proyek daerah yang dianggarkan dalam APBD 2005 namun belum rampung hingga Oktober 2005. Proyek-proyek bernilai ratusan miliar itu, diantaranya bus jalur khusus (busway) koridor II (Harmoni-Pulogadung) dan III (Harmoni-Kalideres), flyover (jalan layang) Roxy, dan underpass Pasar Minggu.
"Selain dieskalasi, proyek-proyek yang belum selesai hingga Oktober 2005, diberi kelonggaran waktu penyelesaian hingga 30 April 2006," kata Sekertaris Daerah (Sekda) Pemprov DKI, Ritola Tasmaya, di Jakarta, akhir pekan lalu.
Menurut dia, eskalasi dan perpanjangan waktu proyek-proyek yang belum rampung hingga Oktober 2005, dilakukan berdasarkan perubahan sistem keuangan dan kondisi inflasi yang meningkat hingga angka dua digit pascakenaikan harga BBM.
Hal itu, merupakan keputusan bersama Departemen Keuangan dan Departemen Pekerjaan Umum. Perubahan sistem keuangan disebabkan sistem yang digunakan selama ini, membuat uang terlambat cair dan pelaksanaan proyek terlambat. Dampaknya proyek tidak selesai sesuai rencana yang ditetapkan.
Ritola menjelaskan, proyek-proyek yang belum rampung hingga Oktober 2005, akan diselesaikan sesuai dana yang telah ditetapkan dalam APBD DKI 2005.
Untuk mengantisipasi kekurangan dana, volume proyek akan disesuaikan sesuai dana yang telah ditetapkan. Sisa volume yang belum diselesaikan akan dimasukan sebagai anggaran pekerjaan lanjutan dalam APBD 2006. Pasalnya, proyek-proyek tersebut, tidak dimasukkan dalam ABT 2005.
"Katakanlah volumenya kurang 20 persen, berarti yang 20 persen ini akan masuk ke anggaran 2006. Pengerjaannya lanjut sampai batas waktu 30 April 2006," ujar Ritola.
Dia memperkirakan, meski kenaikan inflasi telah menembus angka dua digit atau naik dua kali lipat dari angka 7-8 persen pada awal Januari 2006, namun penambahan anggaran proyek hanya berkisar 15-20 persen dari anggaran yang telah ditertapkan.
Hal itu disebabkan, kenaikan harga barang terkait proyek diperkirakan tidak meningkat hingga 100 persen sebagaimana kenaikan harga BBM yang menjadi pemicu utama.
"Kan ada perhitungannya. Jadi semua barang dikalkulasi baru diperkirakan eskalasinya nilai proyeknya sesuai asumsi inflasi. Untuk perhitungan eskalasi nilai proyek yang belum rampung pada Oktober 2005, Pemprov DKI menggunakan asumsi inflasi sebesar 15 persen," kata Ritola. (J-9)